Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Faktor Penyebab Skizofrenia


PENYEBAB SKIZOFRENIA

Sebab – sebab schizophrenia antara lain: faktor genetik, adanya kerusakan pada sistem syaraf sentral, dan kebiasaan – kebiasaan yang buruk.

Di pertengahan abad ke-20, dasar genetik dari penyakit skizofrenia mulai diungkap oleh beberapa ilmuan. Para ilmuan tersebut mengemukakan bahwa faktor penyebab skizofrenia disebabkan karena gangguan disfungsi biologis dan mereka menemukan persentasi dari penderita skizofrenia yaitu 1% dari populasi manusia. Perkiraan tersebut dapat bertambah maupun berkurang. Namun pada tahun 1900-an penderita penyakit skizofrenia di berbagai negara mengalami penurunan. 

Baca Juga: Skizofrenia - Pengertian, Gejala dan Cara Mendiagnosisnya

Skizofrenia diderita oleh berbagai etnis dunia, namun dari hasil penelitian penderita skizofrenia lebih banyak dijumpai di Amerika Serikat dan negara - negara di benua Eropa daripada negara-negara ketiga. Hal tersebut mungkin dikarenakan perbedaan perekaman hasil medis yang dilakukan, namun banyak juga kemungkinan lainnya. Rata - rata pria penderita skizofrenia memiliki tingkat keparahan tinggi dari pada penderita wanita, dan pria juga mengalami kemunculan gejala skizofrenia lebih awal dari pada wanita.

Adapun faktor penyebab dari gangguan skizofrenia ini antara lain :

1. Faktor Biologis

Peran faktor-faktor genetik telah diteliti secara lebih ekstensif dalam kaitannya dengan skizofrenia dibanding dengan tipe gangguan mental lainnya. Data yang sudah ada didasarkan pada metode - metode canggih yang telah disempurnakan selama bertahun - tahun. Bobot kumulatif bukti - bukti ini menunjuk dengan jelas ke arah tipe pengaruh genetik tertentu dalam transmisi gangguan ini.

Risiko morbid seumur hidup untuk skizofrenia jauh lebih besar diderita keluarga derajat pertama (anak, saudara kandung, saudara kembar, dan orang tua) dari pada keluarga derajat kedua (sepupu, paman atau bibi, keponakan, cucu, dan saudara tiri). Semakin tinggi derajat kesamaan genetik antara seorang individu dan seorang pasien skizofrenik, semakin tinggi pula risiko orang itu untuk menderita skizofrenia.


Tercatat 10% penderita penyakit skizofrenia disebabkan karena memiliki kekerabatan biologis dengan penderita penyakit skizofrenia seperti orang tua, anak, atau saudara kandung bahkan bila kerabat tersebut diadopsi tak lama setelah kelahirannya oleh keluarga sehat. Pada studi adopsi telah ditemukan bahwa resiko dari skizofrenia meningkat karena adanya gangguan dari orang tua biologis namun tidak masalah bagi orang tua adopsi. 

Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan pada 49 anak yang lahir  antara tahun 1915 dan 1945. Anak-anak tersebut dipisahkan dari ibunya saat tiga hari setelah kelahirannya, sementara ibunya dirawat di rumah sakit karena skizofrenia. Semua anak terlihat normal pada awal kelahirannya namun pada pertengahan usia tiga puluhan terdapat lima orang yang terdiagnosis menderita gangguan skizofrenia. Data ini menunjukan bahwa faktor genetik berperan dalam perkembangan gangguan tersebut.

Namun muncul fakta baru bahwa kurang dari 100% penderita skizofrenia pada kembar identik tidak mengalami hal sama. Pada suatu penelitian dari sampel yang diambil pada anak kembar identik terdapat discordant (salah satu memiliki gangguan skizofrenia dan yang lainya tidak). Skizofrenia pada anak-anak pasangan kembar nonskizofronik sama banyaknya dengan anak-anak pasangan kembar skizofronik.

Skizofrenia memiliki banyak penyebab. Beberapa gen yang berbeda telah dikaitkan dengan gangguan ini. Akan tetapi mekanisme dari gen - gen tersebut dapat menjadi skizofrenia belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan klinis percaya bahwa skizofrenia merupakan karakteristik polenik, yang berarti bahwa skizofrenia merupakan produk dari sejumlah gen, bukan hanya dari satu gen tunggal. Selain itu 

terdapat beragam faktor pengalaman dari usia dini yang terimplikasi perkembangan skizofrenia misalnya  komplikasi persalinan.

Infeksi usia dini, reaksi autoimun, toksin, cidera traumatik, dan stres juga mempengaruhi dari gangguan skizofrenia. Pengalaman - pengalaman usia dini tersebut diduga dapat mengubah perkembangan neural yang normal menghasilkan skizofrenia pada individu yang memiliki kerentanan genetik.

2. Faktor Sosial

Gangguan skizofrenia diekspresikan dalam bentuk yang berkembang penuh hanya ketika individu yang mengalami kerentanan peristiwa lingkungan tertentu, yang mencakup variabel nutrisi sampai kehidupan yang stressfull. Para ilmuwan sosial yang bekerja di Chicago menemukan bahwa prevalensi tertinggi skizofrenia ditemukan di kalangan masyarakat dengan status sosial ekonomi yang rendah. Ada dua cara untuk menginterpretasikan hubungan antara kelas sosial dan skizofrenia yaitu hipotesis social causation dan hipotesis seleksi sosial.

Hipotesis social causation berkaitan dengan keanggotaan kelas sosial yang terendah, yang mungkin banyak mencakup faktor mulai dari stress dan isolasi sosial sampai gizi buruk yang dapat berperan sebagai penyebab dari gangguan skizofrenia. Akan tetapi ada juga kemungkinan bahwa kelas sosial rendah adalah hasil, bukan penyebab dari skizofrenia. 

Orang yang menderita skizofrenia kurang mampu menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi atau untuk mendapatkan pekerjaan yang bergaji cukup dibandingkan orang normal pada umumnya. Dengan kata lain banyak pasien skizofrenia secara berangsur-angsur terperosok masuk ke dalam kelas sosial terendah, pandangan ini sering disebut hipotesis seleksi sosial.

Tingkat skizofrenia tinggi juga ditemukan diantara masyarakat yang berimigrasi ke negara baru. Hal tersebut terjadi pada orang-orang Afrika-Karibia yang pindah ke Inggris, Jamaika, Barbados, dan Trinidi. Kesulitan sosial yang dialami meningkatkan resiko skizofrenia, karena migran yang tinggal di perkotaan yang mana mereka cenderung terpapar diskriminasi dan mendapat berbagai bentuk kemalangan lain.

3. Faktos Psikologis

Pada faktor psikologis ini lebih memfokuskan pada pola perilaku dan komunikasi dalam keluarga. Dari bukti penelitian yang telah ditemukan menunjukan bahwa masalah interaksi dan komunikasi pada keluarga bukan penyebab dari kemunculan simtom ini. Pola komunikasi yang salah dalam suatu keluarga tidaklah menjadi penyebab dari gangguan skizofrenia.

Namun keluarga pasien skizofrenik biasanya merefleksikan sikap negatif atau instrutif pada pasien, misalnya banyak anggota keluarga yang mengekspresikan permusuhan terhadap pasien atau berulang kali mengkritik perilaku pasien dan juga biasanya lebih overprotektif atau terlalu mengidentifikasikan diri dengan pasien. 

Hal tersebut memungkinkan pasien kambuh dalam waktu kurang dari sembilan bulan setelah dipulangkan dari rumah sakit. Para pasien yang kembali tinggal dengan seorang yang expressed emotion (EE) tinggi lebih berkemungkinan untuk kambuh dari pada pasien yang tinggal dengan orang EE-rendah.

Konsep expressed emotional memunculkan masalah - masalah yang sangat sensitif bagi anggota keluarga, yang sudah terlalu sering dipersalahkan atas masalah skizofrenia. Emosi yang diekspresikan bukan satu-satunya penyebab kambuhnya gangguan ini. Karena terdapat sebagian pasien kambuh meski tinggal bersama orang-orang yang toleran dan penuh pengertian. 

Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa hubungan antara perilaku pasien dengan perilaku yang diekspresikan oleh keluarganya merupakan suatu proses transaksional atau timbal-balik. Dengan kata lain, pasien mempengaruhi sikap keluarganya dan pada saat yang sama sikap keluarga mempengaruhi penyesuaian pada pasien. Sikap negatif persisten di pihak keluarga tampak diperburuk oleh siklus interaksi negatif pasien.

4 komentar untuk "Faktor Penyebab Skizofrenia "

Ikuti via email