Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konseling Individu: Pengertian, Prinsip, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu

Konseling Individu
Ilustrasi (pexels.com)
 
Pengantar

Konseling merupakan suatu proses hubungan seseorang (konseli atau klien) dengan orang lain (konselor) di mana klien akan dibantu oleh konselor untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi masalah.

Konseling individual yaitu pertemuan antara konselor dengan seorang klien secara individual, di mana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport (saling memahami dan mengenal tujuan bersama). Konselor akan berupaya memberi bantuan untuk mengembangkan pribadi klien agar klien dapat mengantisipasi permasalahan yang sedang dihadapi. 

Melalui metode tatap muka, dilaksanakan interaksi langsung antara konselor dengan klien. Mereka membahas berbagai hal tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien tersebut. 
 
Pembahasan tersebut bersifat mendalam, menyentuh hal-hal penting yang berhubungan dengan diri klien (bahkan tidak menutup kemungkinan menyangkut rahasia pribadi diri klien), bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik menuju ke arah penyelesaian masalah.

Berkaitan dengan hal tersebut, masalah klien harus dicermati dan diupayakan penyelesaiannya sedapat-dapatnya dengan kekuatan diri klien sendiri. 
 

Tujuan Umum Konseling Individu


Tujuan umum konseling individual adalah terselesaikannya permasalahan yang dihadapi klien. Apabila masalah konseling ini dicirikan antara lain: 
  • Sesuatu yang tidak disukai keberadaannya; 
  • Sesuatu yang ingin dihilangkan; 
  • Sesuatu yang dapat menghambat dan menimbulkan kerugian;
Maka upaya penyelesaian masalah klien melalui konseling individual tujuannya untuk mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang di maksud.
 
Dengan konseling individual beban klien diharapkan dapat diringankan, kemampuan klien dapat ditingkatkan, dan potensi klien dapat dikembangkan kapasitasnya dan dapat memahami akan dirinya mengenai masalah yang dihadapi. 

Menurut Gibson, Mitchell dan Basile ada sembilan tujuan dari konseling individu, yakni:

1) Tujuan perkembangan; yakni klien dibantu dalam proses pertumbuhan dan perkembanganya serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi pada proses tersebut (seperti perkembangan kehidupan sosial, pribadi, emosional, kognitif, fisik, dan sebagainya).
2) Tujuan pencegahan; yakni konselor membantu klien menghindari hasil-hasil yang tidak diinginkan. 
3) Tujuan perbaikan; yakni konseli dibantu dalam mengatasi dan menghilangkan perkembangan yang tidak diinginkan. 
4) Tujuan penyelidikan; yakni menguji kelayakan tujuan untuk memeriksa pilihan-pilihan, pengetesan keterampilan, dan mencoba aktivitas baru dan sebagainya. 
5) Tujuan penguatan; yakni membantu konseli untuk menyadari apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakannya sudah baik.
6) Tujuan kognitif; yakni menghasilkan pondasi dasar pembelajaran dan keterampilan kognitif.
7) Tujuan fisiologis; yakni menghasilkan pemahaman dasar dan kebiasaan untuk hidup sehat. 
8) Tujuan psikologis; yakni membantu mengembangkan keterampilan sosial yang baik, belajar mengontrol emosi, dan mengembangkan konsep diri positif dan sebagainya.

Baca Juga: Pendekatan Konseling Eklektik

Pengertian Konseling Individu 


Konseling Individu
Ilustrasi (pexels.com)
 
Menurut Rogers, konseling adalah serangkaian hubungan langsung antara konselor dengan konseli yang bertujuan untuk membantu individu (konseli) dalam merubah sikap dan tingkah lakunya (Hallen, 2002:10).

Glen yang dikutip oleh Makarao (2010: 86) konseling adalah suatu proses di mana konselor membantu konseli (klien) agar individu dapat memahami dan menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan pemilihan, perencanaan, dan penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu. 

Menurut Milton, konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat di atasinya, dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien mampu memecahkan masalahnya (Makarao, 2010: 86).

Dari beberapa definisi para ahli penulis menyimpulkan bahwa konseling individu adalah proses bantuan yang terarah yang diberikan oleh konselor kepada konseli (individu) dengan menciptakan kondisi yang kondusif agar konseli atau individu dapat berkembang sesuai dengan usia perkembangannya.

Baca Juga: Norma-Norma Kelompok Sosial

Prinsip-prinsip Konseling Individual


a. Setiap konselor harus menghormati kejujuran klien untuk bertemu dengannya karena meminta pertolongan.
b. Konselor harus menjelaskan persyaratan konseling kepada klien seperti tempat dan hari bertemu, periode masing-masing sesi dan jenis-jenis pekerjaan rumah yang harus dilakukan.
c. Konselor harus merujukkan klien itu kepada konselor yang lain jika kasus yang ditangani di luar pengalamannya.
d. Konselor harus memberitahu klien bahwa semua informasi yang diberikan adalah sulit (rahasia).
e. Konselor bisa meminta pandangan dari konselor-konselor lain jika ditemukan kesulitan-kesulitan dalam kasus yang dikendalikannya. 
f. Konselor harus bertanggung jawab mencari lembaga referensi jika didapati kliennya mulai mengancam keselamatan orang lain.

Proses Layanan Konseling Individu 


Konseling Individu
Ilustrasi (pexels.com)

Proses konseling terlaksana karena hubungan antara konseli dan konselor (konseling) berjalan dengan baik. 
 
Menurut brammer (1979) proses konseling adalah peristiwa yang telah berlangsung dan memberi makna bagi orang yang melakukan konseling, yakni konselor dan klien. [Willis S. Sofyan, Konseling Individual Teori dan Praktek (Bandung,CV Alfabeta, 2007), hal. 50.].

Setiap tahapan proses konseling individu membutuhkan keterampilan-keterampilan khusus. Namun keterampilan-keterampilan itu bukanlah yang utama jika hubungan konseling individu tidak mencapai situasi saling memahami dan mengenal tujuan bersama
 
Karena diharapkan proses konseling individu ini tidak dirasakan oleh peserta konseling (konselor dan klien) sebagai hal yang menjemukan. Sehingga keterlibatan mereka dalam proses konseling sejak awal hingga akhir dirasakan sangat bermakna dan berguna.
 
 
Secara umum proses konseling individu dibagi atas tiga tahapan:

1. Tahap awal konseling

Tahap ini terjadi sejak klien menemui konselor hingga berjalan proses konseling sampai konselor dan klien menemukan definisi masalah klien atas dasar isu, kepedulian, atau masalah klien. Adapun proses konseling tahap awal sebagai berikut:

a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien
 
Hubungan konseling bermakna ialah jika klien terlibat berdiskusi dengan konselor. Hubungan tersebut dinamakan a working realitionship, yakni hubungan yang berfungsi, bermakna, dan berguna. Keberhasilan proses konseling individu amat ditentukan oleh keberhasilan pada tahap awal ini.

Kunci keberhasilan terletak pada: (pertama) keterbukaan konselor; (kedua) keterbukaan klien, artinya dia dengan jujur mengungkapkan isi hati, perasaan, harapan, dan sebagainya.
 
Namun, keterbukaan ini ditentukan oleh faktor konselor yakni dapat dipercayai klien karena dia tidak berpura-pura alias jujur, asli, mengerti, dan menghargai. (ketiga) konselor mampu melibatkan klien terus-menerus dalam proses konseling. Karena dengan demikian, maka proses konseling individu akan lancar dan segera dapat mencapai tujuan konseling individu.

b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah
 
Jika hubungan konseling telah terjalin dengan baik di mana klien telah melibatkan diri, artinya kerjasama antara konselor dengan klien akan dapat mengangkat isu, kepedulian, atau masalah yang ada pada klien. 
 
Seringkali klien tidak begitu mudah menjelaskan masalahnya, walaupun mungkin dia mengetahui gejala-gejala yang dialaminya. Karena itu amatlah penting peran konselor untuk membantu memperjelas masalah klien. 
 
Demikian pula jika klien tidak memahami potensi apa yang dimilikinya, maka tugas konselor lah untuk membantu mengembangkan potensi, memperjelas masalah, dan membantu mendefinisikan masalahnya bersama-sama.

c. Membuat penafsiran dan penjajakan
 
Konselor berusaha menjajaki atau menafsir kemungkinan untuk mengembangkan isu atau masalah. Kemudian merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan dapat menentukan berbagai alternatif yang sesuai dalam mengantisipasi masalah.

d. Menegosiasikan kontrak
 
Kontrak artinya perjanjian antara konselor dengan klien. Hal itu berisi:
(1) kontrak waktu, artinya kapan dan berapa lama waktu yang diinginkan berkaitan dengan pertemuan oleh klien dan apakah konselor tidak keberatan.
(2) Kontrak tugas, artinya ada pembagian konselor tugasnya apa dan tugas klien apa.
(3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, kontrak menggariskan kegiatan konseling, termasuk kegiatan klien dan konselor. Artinya mengandung makna bahwa konseling adalah urusan yang saling ditunjak, dan bukan pekerjaan konselor sebagai ahli saja. Di samping itu juga mengandung makna tanggung jawab klien, dan ajakan untuk kerja sama dalam proses konseling. 
 

2. Tahap Pertengahan (Tahap Kerja)

Berangkat dari definisi masalah klien yang disepakati pada tahap awal, kegiatan selanjutnya adalah memfokuskan pada: 
(1) Penjelajahan masalah klien; 
(2) Bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apa saja yang telah dijelajah tentang masalah klien.  

Menilai kembali masalah klien akan membantu klien memperolah perspektif baru, alternatif baru, yang mungkin berbeda dari sebelumnya, dalam rangka mengambil keputusan dan tindakan. Dengan adanya perspektif baru, berarti ada dinamika pada diri klien menuju perubahan. Tanpa perspektif maka klien sulit untuk berubah. 
 
Adapun tujuan-tujuan dari tahap pertengahan ini yaitu:

a. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah, isu, dan kepedulian klien lebih jauh.
 
Dengan penjelajahan ini, konselor berusaha agar kliennya mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalahnya. Konselor mengadakan reassesment (penilaian kembali) dengan melibatkan klien, artinya masalah itu dinilai bersama-sama.

Jika klien bersemangat, berarti dia sudah begitu terlibat dan terbuka. Dia akan melihat masalahnya dari prepektif atau pandangan yang lain yang lebih objektif dan mungkin pula dengan berbagai alternatif.

b. Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara
 
Hal ini bisa terjadi jika: pertama, klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri dan memecahkan masalahnya.

Kedua, konselor berupaya kreatif dengan keterampilan yang bervariasi, serta memelihara keramahan, empati, kejujuran, keikhlasan dalam memberi bantuan. Kreativitas konselor dituntut pula untuk membantu klien menemukan berbagai alternatif sebagai upaya untuk menyusun rencana bagi penyelesaian masalah dan pengembangan diri.

c. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak
 
Kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar proses konseling. Karena itu konselor dan klien harus selalu menjaga perjanjian dan selalu mengingat dalam pikiranya mengenai kontrak yang sudah disepakati. 
 
Pada tahap pertengahan konseling ada juga beberapa strategi yang perlu digunakan konselor yaitu: 
Pertama, mengkomunikasikan nilai-nilai inti, yakni agar klien selalu jujur dan terbuka, dan menggali lebih dalam masalahnya. Karena kondisi sudah amat kondusif, maka klien sudah merasa aman, dekat, terundang dan tertantang untuk memecahkan masalahnya. 
 
Kedua, "menantang" klien sehingga dia mempunyai strategi baru dan rencana baru, melalui pilihan dari beberapa alternatif, untuk meningkatkan dirinya. 
 

3. Tahap Akhir Konseling (Tahap Tindakan)

Pada tahap akhir konseling ditandai dengan beberapa hal, yaitu:
a) Menurunya kecemasan klien. Hal ini diketahui setelah konselor menanyakan keadaan kecemasanya.
b) Adanya perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamis.
c) Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
 
Terjadinya perubahan sikap positif, yaitu mulai dapat mengoreksi diri dan meniadakan sikap yang suka menyalahkan dunia luar, seperti orang tua, guru, teman, keadaan tidak menguntungkan dan sebagainya. Jadi klien sudah berfikir realistik dan percaya diri.

Baca Juga: Teori Perbandingan Sosial Dalam Psikologi Sosial

Fungsi Konseling Individu 


Konseling Individu
Ilustrasi (pexels.com)

Fungsi dalam konseling individu yang diungkapkan oleh (Hallen, 2002: 3) yaitu:
 
1. Fungsi pengembangan; yaitu merupakan fungsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu.
2. Fungsi penyaluran; yaitu merupakan fungsi konseling dalam membantu individu memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
3. Fungsi adaptasi; yaitu membantu para pelaksana panti rehabilitas khususnya binsos dan pengurus panti untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kamampuan, dan kebutuhan individu.
4. Fungsi penyesuaian; yaitu fungsi konseling dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal.

Menurut Nur Ihsan (2006: 17) layanan konseling individu dapat membantu klien agar mampu mengembangkan kompetensinya, yaitu:
 
1. Memiliki komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja, atau masyarakat.
2. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif.
3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif (kelebihan dan kelemahan diri).
4. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri.
5. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
6. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat, sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan nilai-nilai budaya.
7. Proses bantuan untuk memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan pemahaman dan keterampilan berinteraksi sosial, serta memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi nya
8. Membantu siswa agar mampu mengembangkan kompetensinya dalam hal sebagai berikut:
  • Bersikap respek (menghargai dan menghormati) terhadap orang lain.
  • Memiliki rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap tugas, peran hidup dalam bersosialisasi.
  • Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship).
  • Memiliki kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.
  • Memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri (adjustment).

Daftar Pustaka

Willis S. Sofyan. 2007. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: CV Alfabeta. 

Lubis, Akhyar Saiful. 2007. Konseling Islami. Yogyakarta: Elsaq Press.

Lubis, Namora Lumongga. 2011. Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wingkel, W.S & Srihastuti, M.M . 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta. Media Abadi.

27 komentar untuk "Konseling Individu: Pengertian, Prinsip, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu"

  1. Mba Rizka, aku mau nanya nih..
    Kira-kira anak umur 11 tahun yang suka berbohong kalo dibawa konseling bisa merubah tingkah lakunya gak ya.

    Parah banget udah kelakuan suka boongnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa iya bisa ngga kak, tergantung juga pada anaknya. Yang jelas fungsi konselor itu sebagai fasilitator yang akan mendampingi, jadi faktor utamanya ya pada diri si konseli. Tapi dengan melakukan langkah yang tepat (konsultasi dengan ahli) maka kemungkinan untuk dia bisa mengubah perilaku negatif menjadi lebih baik akan lebih besar peluangnya kak.

      Hapus
  2. Dulu kalau dengar kata "konseling" gmana gitu.. dipanggil bu guru BK (Bimbingan dan Konseling) pasti ada apa2nya.. padahal konseling itu Menurut Rogers, konseling adalah serangkaian hubungan langsung antara konselor dengan individu yang bertujuan untuk membantu individu dalam merubah sikap dan tingkah lakunya (Hallen, 2002:10).

    Ga serem2 banget kan..hanya serangkaian hubungan antara konselor dengan individu...

    BalasHapus
  3. Kalo konseling untuk anak gimana ya prosesnya? Penasaran deh kalo untuk sesi konseling untuk anak gimana? Wih tulisanmu always penuh referensi ya kak. Nice untuk knowledge nih.

    BalasHapus
  4. Konseling individual ini pastinya ditangani konselor profesional yang sudah lama menangani banyak kasus dan banyak orang. Membaca pribadi orang itu tidak mudah, apalagi memberi solusi yang tepat.

    BalasHapus
  5. Kak kalau kita melakulan konselin pribadi itu gmn ya kak? Kita bisa datang kemana, saya dangat miskin info tentang konseling probadi ini. Tapi sudah lama sangat ingin melakukan konseling individu.

    BalasHapus
  6. Kalau sudah dewasa masihkah bisa mengikuti program konseling individual? Mungkin karena orang ini ada beberapa problem...
    Jasa konseling professional bisa ditemukan dimana ya?

    BalasHapus
  7. Bagi yang merasa insecure dan introvert, konseling individu ini beneran sangat membantu dalam memudahkan pasien dalam membuka diri kepada konselor.

    BalasHapus
  8. Jaman SMA dulu, kalau ada anak dipanggil ke kantor BK, langsung deh kesan negatif terus ke anak itu. Karena biasanya yang dipanggil itu anak-anak bermasalah dalam artian buruk. Padahal konseling nggak melulu untuk hal/kejadian yang buruk ya, bisa juga untuk pengembangan potensi diri

    BalasHapus
  9. Jaman SMA dulu kalau ada anak di panggil guru BK itu kesannya langsung negatif terus ke anak itu. Soalnya dulu tahunya kalau dipanggil guru BK itu pasti anak yang bermasalah. Padahal konseling bisa untuk hal yang positif juga ya, buat pengembangan potensi diri misalnya

    BalasHapus
  10. Yang jadi konselor harusnya professional banget yah. Engga mudah kan mendalami karakter orang lain, harus bisa berkomunikasi dengan baik dan benar nih...

    BalasHapus
  11. Kalau dengar kata konseling individu, seperti punya banyak masalah yang tidak bisa dihadapi ya, mengenai kejiwaan, kalau tingkah laku yang seperti suka ambil barang gitu (klepto) perlu konseling tidak ya?

    BalasHapus
  12. Kalau konseling individu ini lebih intens gitu ya kak? Lebih dari hati ke hati sih kalau aku menangkapnya dari penjelasan di atas. Kalau misalnya aplikasi-aplikasi konseling yang ada itu berarti menerapkan konseling individu ya?

    BalasHapus
  13. Semua bertujuan untuk bisa lebih terarah dan mission complete. Dengan adanya konseling individu akan mempermudah mencapai tujuan

    BalasHapus
  14. Bagaimana untuk konseling yang tidak membawa perubahan untuk pasiennya? Apakah akan diperpanjang waktunya atau bagaimana?

    BalasHapus
  15. saya tertarik jika ada konseling individu karenam membantu kita untuk beraction lebih cepat dan memiliki keputusan.. bearti kita harus memiliki partner untuk selalu bisa konseling individu agar bisa lebih mencapai tujuannya

    BalasHapus
  16. Ternyata tahapannya banyak ya, sebelum konsultasi individu. Saya belum pernah. Baca ini, saya jadi lebih tahu prosedurnya dan lebih percaya

    BalasHapus
  17. Seorang konselor memang god deh, selain mampu membaca nalan fikiran tpi konselor juga kerap sekali mampu membimbing seseorang dan menasehati ketika salah hmm

    BalasHapus
  18. mba, ada beda konseling yang dilakukan guru BK dengan yang dilakukan psikolog?

    BalasHapus
  19. Bicara mengenai konseling jadi ingat saat masa sekolah. Ada Guru konseling yang memberikan perhatian penuh pada siswa/siswi yang terlihat mengalami perubahan secara psikologis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru BK di sebuah sekolah memang salah satu hal yang paling penting, namun sayang sekali di Indonesia masih kurang diperhatikan. Banyak guru BK yang justru tidak expert di bidang konseling, kebanyakan ditunjuk sebagai BK karena memiliki sikap yang tegas saja. Saya dulu pernah ngobrol dengan kepala sekolah tingkat SMP saya dulu, dan itulah curhatan beliau ketika tau saya sedang kuliah jurusan psikologi. Beliau bilang 80 sampai 90% guru BK di sekolah bukan lulusan Psikologi, maka dari itu beliau menyampaikan kalau lulusan psikologi yang menguasai betul perihal proses konseling sangat dibutuhkan sekali dibidang pendidikan ini.

      Hapus
  20. Saya punya kenalan seorang psikolog klinis. Beliau buka praktek konseling, tapi katanya kliennya lebih banyak yang konsultasi via online, padahal sebaiknya memang tatap muka ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya benar sekali, karena hubungan antara konselor dan konseli sangatlah penting dalam kegiatan konseling, seorang konselor yang baik harus memiliki rasa empati kepada sang klien dimana hal tersebut bisa didapatkan ketika proses konseling bertemu secara langsung. Jika konseling via online bagaiman konselor tahu kondisi si klien, bagaimana konselor bisa tahu apakah konseli menjawab jujur atau justru berbohong?

      Hapus
    2. Bagaimana kalau online-nya hanya untuk media saja kak? Misal memang tidak ada konselor di daerah sekitar konseli.

      Hapus
    3. Tentunya itu tidak apa-apa, karena di zaman yang serba digital ini harus bisa beradaptasi dengan hal tersebut. Hanya saja jika kita berbicara konseling yang ideal memang haruslah tatap muka.

      Hapus
  21. Agak mirip dengan psikolog ya ? Tugasnya bersama-sama memecahkan masalah agar cepat dapet solusi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang konseling yang dimaksud disini adalah konseling yang secara khusus dilakukan oleh seorang psikolog.

      Hapus

Berlangganan via Email