Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konseling Eklektik: Definisi, Tujuan, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Eklektik


Konseling eklektik

Pengantar 
Salah satu kegiatan professional ilmiah dalam ranah kajian psikologi adalah melakukan praktik konseling. Namun sebelum berpraktik di lapangan secara langsung bersama klien yang memiliki masalah, haruslah diketahui dan dipahami terlebih dahulu teori-teori yang mendasarinya.

Bagaimana cara melakukannya? apakah dalam proses konseling dilakukan secara individu atau kelompok? serta siapa saja yang diperbolehkan mengikuti proses konseling? Semua kegiatan pasti dilandasi oleh teori, begitu juga dengan konseling yang mana ada banyak teori yang mendasarinya. Sehingga dapat diketahui pendekatan apa yang digunakan konselor selama proses konseling dilakukan. 

Dalam konseling ada 5 pendekatan, yakni pendekatan psikoanalisis, pendekatan humanistik, behavioral, konseling kognitif dan kognitif-behavioral, serta pendekatan sistem/eklektik. Dari berbagai pendekatan itu hanya membahas satu teori dari grand theory psikologi, namun hanya satu yang membahas semua metode konseling dengan mengintegrasikan masing-masing pendekatan konseling itu sesuai permasalahan yang dihadapi klien.

Pendekatan ini adalah pendekatan eklektik, yang mana disebut juga dengan konseling integratif karena alasan yang demikian. Jadi, satu-satunya pendekatan dalam konseling yang tidak berdasarkan teori adalah pendekatan eklektik. 

Individu yang ingin diberi konseling biasanya memiliki suatu permasalahan yang berkaitan dengan dirinya sendiri, keluarga, ataupun teman. Sehingga ada konseling keluarga yang mana dilakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dalam keluarga. Anggota keluarga yang bermasalah juga dapat melakukan sesi konseling secara individu maupun kelompok.

Konseling yang dilakukan secara kelompok ini dilakukan karena dalam suatu kelompok tersebut memiliki masalah yang sama, dan sama-sama menginginkan suatu penyelesaian dari masalah yang dihadapinya, karena antar individu sudah kesulitan menemukan titik temu. 


Pendekatan Eklektik 

pendekatan konseling eklektik


Salah satu pendekatan konseling yang menjadi pilihan utama konselor di Indonesia dalam menangani permasalahan klien adalah pendekatan eklektik. Dimana pelopor dari pendekatan ini yaitu F.C. Thorne pada sekitar tahun 1940-an dengan pemikirannya yang menyelidiki dan mengevaluasi semua metode konseling.

Beberapa ahli lain yang juga berkecimpung untuk mengembangkan pendekatan eklektik ini adalah Brammer, Shostrom, Carkhuff dan G. Egan dengan memberikan istilah lain yang setara dengan eklektik, yaitu integratif dan systemic helping. Jadi, pendekatan eklektik disebut juga dengan konseling integratif ataupun pendekatan sistem. 


Definisi Konseling Eklektik 
 
Konseling eklektik dapat di sebut dengan pendekatan konseling integratif, yang menunjukkan dalam konseling ini berpegang pada pandangan teoritis dan pendekatan, yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari berbagai konsepsi serta pendekatan.

Tujuan dari layanan ini adalah menggantikan tingkah laku yang terlalu kompulsif dan emosional dengan tingkah laku yang bercorak lebih rasional dan lebih konstruktif. 

Promotor utama dari konseling eklektik adalah Frederick Thorne yang mulai mengelola majalah journal of clinical Psychology pada tahun 1945 dan menyebarkan luaskan rangkaian pandangannya dalam beberapa buku.

Menurut Gilliland, dalam Arintoko (2011), mengemukakan bahwa konseling eklektik adalah teori konseling yang tidak memiliki teori atau prinsip khusus tentang kepribadian. Sedangkan pandangan Shertzer & Stone dalam buku Fundamentals Of Counseling, konseling eklektik sebagaimana di konsepsikan oleh Thorne mengandung unsur positif dan negatif. 

Cooper (Surya, 2003) menyarankan bahwa tiga bentuk dasar pengalaman (afektif, kognitif dan behavioral) menggambarkan unsur-unsur internal sistem lingkungan klien. Kemudian hal itu dipengaruhi oleh lingkungan eksternal siswa yang terdiri atas faktor keluarga, spasial yang berada diluar dari pribadi siswa. Konselor yang menggunakan model eklektik akan memandang masalah siswa dalam kaitan dengan unsur eksternal dan internal.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa konseling eklektik adalah konseling yang memilih teori yang baik dari bermacam-macam teori, metode dan pengamalan - pengalaman ppraktik untuk dipergunakan bersama-sama dalam menghadapi konseli. 


Tujuan Konseling Eklektik

pendekatan konseling eklektik


Tujuan dari konseling eklektik adalah untuk membantu klien dalam mengembangkan integrasinya pada level tertinggi yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Sedangkan layanan konseling eklektik bertujuan untuk menggantikan tingkah laku yang terlalu kompulsif dan emosional dengan tingkah laku yang bercorak lebih rasional dan konstruktif.

Pendekatan eklektik dapat digunakan untuk membantu konseli yang kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dengan berbagai tuntutan, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. 


Tahap-Tahap Konseling Eklektik

Tahapan dalam konseling eklektik yang dirancang secara sistematis oleh Carkhuff ada 6 tahap, yakni:

  • Tahap eksplorasi masalah

Tahap awal dalam proses konseling adalah eksplorasi masalah, agar klien bersedia menyampaikan masalahnya, maka sebelum itu harus dilakukan pengkondusifan suasana. Konselor harus bisa menciptakan suasana konseling yang kondusif agar konseli bersedia mengeksplor masalahnya, konselor akan mendengarkannya dengan cermat untuk dilakukan tahapan selanjutnya.

  • Tahap perumusan masalah

Merupakan tahap bagi konselor untuk mengelompokkan setiap aspek dari masalah konseli, tergolong aspek kognitif, afektif ataukah tingkah laku. Kemudian membuat kesepakatan terkait pemecahan masalah yang akan dilakukan. Barulah dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

  • Tahap identifikasi alternatif

Selanjutnya adalah mengidentifikasi alternatif penyelesaian masalah yang dilakukan oleh konselor dan konseli, dapat disusun secara tertulis. Kemudian konseli diberi kebebasan dalam memilih alternatif yang akan dilakukan, tanpa ada keterlibatan konselor.

  • Tahap perencanaan

Setelah konseli memilih alternatif penyelesaian masalah, selanjutnya adalah menyusun rencana tentang apa yang akan dijalankan. Ini dilakukan oleh konselor dan konseli, karena meliputi tindakan apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, dan kapan rencana akan mulai dijalankan. Tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh konseli.

  • Tahap tindakan/komitmen

Tahap ini akan mengaplikasikan apa yang sudah direncanakan, merupakan aplikasi dari proses konseling. Konseli akan memulai tindakannya sesuai yang telah direncanakan sebelumnya bersama konselor.

Sementara konselor akan memberikan dukungan dan motivasi kepada konseli agar memiliki komitmen dalam bertindak. Selain komitmen, kerja keras dan kesungguhan hati konseli dalam pemecahan masalah juga akan diketahui oleh konselor.

  • Tahap penilaian/umpan balik

Akhir dari tahapan konseling ini adalah penilaian konselor terhadap tindakan konseli selama proses penyelesaian masalah. Penilaian konselor harus dilakukan dengan objektif, yakni dengan melihat dari sudut pandang klien. Mengulangi pertanyaan kepada konseli mengenai tujuan konseling.

Jika belum tercapai, maka konselor akan mengevaluasi kegagalan itu sekaligus mengamati dan mengevaluasi kemajuan dari tindakan konseli apakah menjadi lebih baik atau stagnan, bahkan mengalami penurunan. 


Kelebihan dan Kelemahan Konseling Eklektik

pendekatan konseling eklektik


Kelebihan dari konseling eklektik adalah dalam menerapkan/memadukan berbagai pendekatan, menggunakan variasi dalam prosedur dan teknik, sehingga dapat melayani konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah yang dihadapinya.

Namun, konseling eklektik ini juga memiliki kelemahan yaitu: konseli dapat merasa bingung bila konselor mengubah-ubah strategi yang sesuai dengan kebutuhan konseli pada suatu waktu dalam proses konseling, dan yang kedua yaitu konselor bisa mengalami kesulitan dalam proses konseling, karena konselor dituntut untuk mahir dalam menerapkan semua pendekatan yang ada.

Daftar Pustaka

Asmani, Jamal Ma’ruf. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Diva Press.
Lubis, Namora Lumongga. 2011. Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tambunan, Elistiani. 2017. Meningkatkan Minat Belajar Siswa Melalui Konseling Eklektik Dengan Menggunakan Media Superhero pada Siswa Kelas VIII-6 SMP Negeri 5 Sibolga. Jurnal Psikologi Konseling, 11(2), 1-13.

18 komentar untuk "Konseling Eklektik: Definisi, Tujuan, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Eklektik"

  1. Baru tau kalo ada konseling model gini... Btw, post konseling model yang lain gan... Nice info👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, di bookmark aja dulu pasti ada postingan lain berkaitan dengan konseling.

      Hapus
  2. Berarti kegiatan konseling ekletik ini nggak bisa dilakukan cuma sekali pertemuan ya, mesti berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya

    BalasHapus
  3. kata teman2 saya, saya berbakat jadi konselor. kalo ga punya basic ilmu psikologi, bisa ga sih? menarik nih buat saya memahami persoalan org lain dan mencarikan solusi baginya

    BalasHapus
  4. Ternyata konseling juga ada berbagai jenis ya kak.. saya tahunya konseling ya itu-itu aja..
    Makin nambah pengetahuan nih

    BalasHapus
  5. Konseling eklektik ini bisa diterapkan ke orang seperti apa mba? Apakah bisa misalnya orang yang bipolar, atau yg punya kebiasaan tertentu, seperti shopaholic alias si penggila belanja? Hehehe. Unik yaaa luas sekali konseling itu.

    BalasHapus
  6. sebagai orang non HRD dan psikologi, kira2 contoh konsep pendekatan ekletik untuk bisa saya terapkan kepada rekan kerja di bawah saya gimana ya mb?

    BalasHapus
  7. Psikologi itu ilmu yang menarik ya. Ternyata konseling pun pendekatannya bermacam-macam. Ya namanya orang pun bermacam-macam yah? Psikolognya harus cermat dong ya, supaya metodenya pas...

    BalasHapus
  8. Konseling harus dilakukan secara kontinyu ya kak,sampai permasalahan yang dihadapi bener2 selesai. Makasih infonya kak.

    BalasHapus
  9. Ilmu baru nih, harus dibaca pelan pelan dan berkali kali biar paham. Ternyata konseling itu banyak macamnya dan disesuaikan dengan kebutuhan

    BalasHapus
  10. Aku waktu SMA cita2 mau jadi psikolog lho.. jadi dapat ilmu lagi nih. Thanks author

    BalasHapus
  11. Repot juga ya ...sepakat dengan kelebihannya menggunakan beberapa metode tapi malah menjadi sebuah kelemahan komunikasi antara konseli dengan konselornya

    BalasHapus
  12. Saya baru tahu ada konseling eklektik ini. Ternyata malah memudahkan konselor karena bisa memadukan berbagai pendekatan, ya. Karena melihat masalah konseli secara global, internal dan eksternal. Kalau saya konseli, mungkin saya lebih nyaman, dengan catatan saya percaya pada kemampuan konselor saya. Jadi tidak sibuk mempertanyakan mengapa.

    BalasHapus
  13. Konselor harus bisa memahami berbagai pendekatan dulu nih untuk bisa memakai konseling eklektik ini. Jangan sampai kelemahan dari konseling ini hadir karena kurangnya penguasaan berbagai pendekatan dari konselor. Tapi di sisi lain, kalau sudah mahir, konseling eklektik ini sangat ampuh ya sepertinya

    BalasHapus
  14. Wah aku baru tahu tipe konseling ini
    Ternyata banyak jenisnya ya konseling itu. Kalau begini kita konselingnya ke psikolog atau psikiater sih?
    Aku masih rancu nih perbedaan psikolog dan psikiater

    BalasHapus
  15. Wah banyak istilah-istilah yang roaming. Saya mencoba memahami bahwa konseling eklektik ini merupakan varian berbagai macam teknik koneling ya. Kalau istilah saya mungkin teknik konseling sapu jagat. *eh benar gak sih hehe

    BalasHapus
  16. Teknik elektik ini sangat membantu sekali ya, apalagi penyelesaian masalah yg sesuai dg teknik di atas

    BalasHapus
  17. Bagus banget pendekatan ekletik ini ya, jadi berasa nggak berjarak dengan psikolognya.
    tulisannya menambah pengetahuanku, Kak. Terima kasih

    BalasHapus

Berlangganan via Email