Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Definisi dan Teori-Teori Agresi dalam Psikologi Sosial



Pengantar

Perilaku agresif merupakan salah satu perilaku yang dianggap menyimpang. Perilaku agresif biasanya tidak hanya dilakukan oleh seseorang, melainkan dapat pula dilakukan oleh sekelompok orang. Perilaku tersebut merupakan perilaku yang bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. 

Perilaku ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merugikan orang lain. Pada masa ini, perilaku agresi tidak hanya terjadi dan dilakukan oleh orang dewasa, melainkan juga pada anak-anak. Oleh karena itu, mengenai definisi, teori-teori, jenis-jenis, sumber, serta cara mengurangi agresivitas akan sedikit dipaparkan pada makalah ini.


Definisi Agresi 



Terdapat tiga perbedaan dalam pengertian agresi. Pertama, definisi agresi sebagai perilaku melukai atau mempertimbangkan apakah orang tersebut tidak bermaksud melukai. Keuntungan definisi ini adalah bahwa perilaku itu sendiri menentukan apakah suatu tindakan agresif atau tidak. 

Kelemahan definisi ini adalah mengabaikan maksud orang yang melalaikan tindakan tersebut atau mengabaikan tujuannya. Pengabaian maksud ini menimbulkan kesalahan bahwa jika ia tidak melakukan tindakan yang berbahaya maka seharusnya dia tidak dikatakan agresif, meskipun kelihatan marah atau ingin melukai.  

Kedua, biasanya kita menyamakan agresi sebagai sesuatu yang buruk, padahal perlu dibedakan antara agresi antisosial dengan agresi prososial. Memang, agresi yang melukai itu buruk tetapi dalam contoh kasus seorang polisi yang menembak mati penjahat kelas kakap yang telah melakukan banyak kejahatan, maka agresi yang dilakukan polisi tersebut bisa menimbulkan ketentraman dan keamanan bagi masyarakt.  

Karena itu yang perlu dilihat dalam tindakan agresi adalah apakah tindakan agresif yang dilakukan melanggar atau mendukung norma sosial yang telah disepakati. 


Ketiga, adalah perbedaan antara perilaku agresif dengan perasaan agresif misalnya rasa marah, perilaku kita yang tampak tidak selalu mencerminkan perasaan internal. Mungkin saja seseorang sangat marah tetapi tidak menampakkan usaha untuk melukai orang lain, dalam hal ini kita perlu mempertimbangkan faktor yang meningkatkan rasa marah maupun kendala yang mencegah agar perasaan itu tidak menjadi tindakan agresif.

Secara umum, perilaku agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain. Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. 

Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Agresi tidak sama dengan ketegasan. 


Teori – Teori Perilaku Agresi 


1. Teori Bawaan 
Teori bawaan merupakan teori yang terdiri atas teori psikoanalisis dan teori biologi. Menurut Freud, agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Naluri manusia terdiri atas naluri agresi dan naluri seks. Naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan, sedangkan naluri agresi berfungsi untuk mempertahankan jenis. 

Teori naluri lainnya dikemukakan oleh K. Lorenz. Lorenz menyimpulkan bahwa agresi merupakan bagian dari naluri hewan yang diperlukan untuk survival (bertahan) dalam proses evolusi. Agresi dalam hal ini bersifat adaptif (menyesuaikandiri dengan lingkungan), bukan destruktif (merusak lingkungan). 

2. Teori Biologi
Teori biologi menjelaskan perilaku agresif dari berbagai proses. Proses tersebut antara lain proses faal dan teori genetika. Mayor berpendapat bahwa perilaku agresif ditentukan oleh proses tertentu yang terjadi di otak dan susunan syaraf pusat. Sedangkan Lagerspetz meninjau perilaku agresi dari ilmu genetika. 

Lagerspetz mencoba membuktikan teori ini dengan mengidentifikasi ciri-ciri agresif pada pasangan kembar identik, kembar non identik,dan saudara-saudara kandung non kembar. Hasil yang didapatkannya adalah bahwa ciri-ciri yang sama paling banyak terdapat antara pasangan kembar identik. 

3. Teori Lingkungan


Inti dari teori ini adalah bahwa perilaku agresi merupakan reaksi terhadap peristiwa atau stimulus yang terjadi di lingkungan. 

- Teori Frustasi - Agresi Klasik
Teori yang dikemukakan oleh Dollard dan Miller ini intinya adalah bahwa agresi dipicu oleh frustasi. Frustasi disini berarti hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan.

- Teori Frustasi - Agresi Bam
Teori ini merupakan modifikasi dari teori frustasi agresi klasik. Burnstein & Worchel membedakan antara frustasi dan iritasi. Jika suatu hambatan dalam pencapaian tujuan dapat dimengerti alasannya, yang terjadi adalah iritasi berupa gelisah dan sebal, bukan frustasi berupa kecewa atau putus asa.

4. Teori Belajar Sosial
Teori ini memperhatikan faktor tarikan dari luar. Patterson, Littman dan Bricker menemukan agresivitas yang membuahkan hasil berupa peningkatan perilaku agresif. Rubin, mengemukakan bahwa aksi terorisme yang tidak mendapat tanggapan dari media massa tidak akan berlanjut. 

Jadi, setiap ganjaran yang diperoleh dari perilaku agresif akan berpengaruh pada peningkatan perilaku agresif tersebut. Menurut mereka, agresi bukan disebabkan oleh pengalaman masalalu maupun kondisi kesehatan mental, melainkan hanya reaksi sesaat saja. 

5. Teori Kognisi
Inti dari teori kognisi adalah proses yang terjadi pada kesadaran dalam membuat penggolongan (kategorisasi), pemberian sifat-sifat (atribusi), penilaian, dan pembuatan keputusan.



Daftar Pustaka

Hanurawan, Fattah. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2015. Psikologi Sosial Individu dan Teori Teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero).

Posting Komentar untuk "Definisi dan Teori-Teori Agresi dalam Psikologi Sosial"

Ikuti via email