Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengertian Penilaian Acuan Patokan dan Penilaian Acuan Norma

penilaian acuan patokan

Initentangpsikologi.com - Pada pembahasan kali ini akan diulas mengenai PAN dan PAP. Apa itu PAN? yang pastinya bukan PAN nama partai ya! Apa itu PAP? yang pasti bukan PAP yang itu! yang itu mana? ya pokoknya itulah, hehehe.

 
Pengertian Penilaian Acuan Kriteria

Sebelum membahas tentang PAP dan PAP, terlebih dulu kita harus membahas tentang penilaian acuan kriteria. Penilaian acuan kriteria (criterion-referenced test), secara umumnya CRT (criterion-refrenced test) bertujuan untuk menunjukkan apa yang seseorang ketahui atau yang dapat dilakukan seseorang. 

Menurut M. Ngalim Purwanto, kriteria CRT ialah tes yang dirancang untuk mengukur seperangkat tujuan yang eksplisit. Dengan kata lain, CRT adalah sekumpulan soal atau item-item yang secara langsung mengukur berbagai tingkah laku yang dinyatakan di dalam seperangkat tujuan behavioral atau performance objective.

Ada dua pengertian dalam penggunaan kata Criterion dalam ungkapan Criterion Referenced Test Items yaitu:

a. Menunjukkan hubungan antara tujuan-tujuan yang bersifat behavioral atau performance atau penampilan dan soal-soal test yang dibuatnya.

b. Menunjukan spesifikasi ketetapan penampilan yang dituntut untuk dinyatakan sebagai penguasaan atau mastery. Atau dengan kata lain, sampai batas mana siswa diharapkan dapat menguasai atau dapat menjawab dengan benar tes tersebut atau sampai seberapa jauh siswa harus melakukan keterampilan tertentu untuk dapat dinyatakan berhasil mencapai tujuan.
 

Pengertian Penilaian Acuan Patokan (PAP)


PAP adalah singkatan dari Penilaian Acuan Patokan. Suatu penilaian dapat disebut PAP jika dalam melakukan penilaian kita mengacu kepada suatu kriteria pencapaian tujuan (instruksional) yang telah dirumuskan sebelumnya. 
 
Nilai-nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan (mastery) siswa tentang pengajaran sesuai dengan tujuan (instruksional) yang telah ditetapkan. Patokan yang digunakan pun bersifat mutlak. Artinya, patokan itu bersifat tetap dan berlaku bagi semua siswa yang mengikuti tes di lembaga terkait. 
 
Selain itu, nilai dari hasil penilaian acuan patokan (PAP) juga bisa dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui sampai di mana tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran tertentu.

Contoh:
Untuk dapat diterima sebagai calon penerbang setiap calon harus memenuhi syarat antara lain tinggi badan minimal 170 cm. Berdasarkan patokan tersebut, maka siapapun yang tidak memenuhi syarat akan dinyatakan gagal dan tidak diterima. 
 
Contah lain, untuk dapat diterima di sebuah perguruan tinggi adalah harus mendapatkan nilai tes minimal 200. Maka siapapun yang tidak mencapai nilai tersebut dinyatakan tidak lulus tes masuk perguruan tinggi.


Pengertian Acuan Norma

penilaian acuan norma
 
Penilaian Acuan Norma (Norm Referenced Test) secara umum bertujuan untuk mununjukkan di mana peringkat individu dalam kelompok yang mengikuti tes. 
 
Secara singkat dapat dirumuskan bahwa penilaian acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa lain yang termasuk di dalam kelompok itu.

Yang dimaksud dengan “norma” dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud dengan “kelompok” adalah dapat berarti sejumlah siswa dalam suatu kelas, sekolah, rayon, dan provinsi atau wilayah.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian penilaian acuan norma, yaitu:

a. Acuan norma merupakan elemen pilihan yang memberikan daftar dokumen normative yang diacu dalam standar sehingga acuan tersebut tidak terpisahkan dalam penerapan standar.
 
b. Pengolahan dan pengubahan dari skor mentah menjadi nilai acuan dilakukan dengan mengacu pada norma atau kelompok.
 
c. PAN adalah nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu.
 
d. PAN dilakukan dengan cara membandingkan nilai seorang siswa dengan nilai kelompoknya. Jadi dalam hal ini prestasi seluruh siswa dalam kelas atau kelompok dipakai sebagai acuan penilaian.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, penilaian acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa lain yang termasuk di dalam kelompok itu.

Penilaian dikatakan menggunakan pendekatan PAN apabila nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa lain yang termasuk dalam kelompok itu. Yang dimaksud dengan norma dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud kelompok adalah semua siswa yang mengikuti tes tersebut. 

Selain itu, nilai dari hasil PAN tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjukkan kedudukan siswa di dalam peringkat kelompoknya.

Contoh PAN:
Sebagai contoh, pada pelajaran bahasa Indonesia, siswa yang mendapat skor 80 di kelas B akan mendapat nilai A, sedangkan di kelas C siswa yang mendapat skor 65 akan mendapat nilai A juga. Mengapa bisa demikian? Karena nilai yang didapat siswa hanya dihubungkan dengan norma kelompoknya. 
 
Pada kelas C, norma kelompoknya rendah, maka skor 65 saja sudah mendapat nilai A, dan pada kelas B, norma kelompoknya tinggi, maka skor 80 baru bisa mendapat nilai A, sehingga skor 65 bisa bernilai rendah apabila berada di kelas B. 


Persamaan dan Perbedaan PAN dan PAP

penilaian acuan patokan
 
Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan, di antaranya sebagai berikut:

Persamaan kedua penilaian adalah sebagai berikut:
a. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
 
b. Kedua pengukuran memerlukan sampel yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sampel yang diukur mempresentasikan populasi siswa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
 
c. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tentang siswa, kedua pengukuran sama-sama memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrumen.
 
d. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
 
e. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
 
f. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
 
g. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

Perbedaan kedua penilaian adalah sebagai berikut:
a. Penilaian acuan norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
 
b. Penilaian acuan norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
 
c. Penilaian acuan norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
 
d. Penilaian acuan norma digunakan terutama untuk survey. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.



Referensi Bacaan:

  • Irham, Muhamad dan Ardy, Novan Wiyani. 2014. Psikologi Pendidikan : Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media. 
  • Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Terjemahan oleh Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana. 
  • Prawira, Purwa Atmaja. 2014. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
  • Nuryanta, Nanang. 2008. “Pengelolaan Sumber Daya Manusia (Tinjauan Aspek Rekrutmen dan Seleksi)”. Jurnal Pendidikan Alam. Vol. 1 No. 1. 
  • Sumarno. 2016. “Pengaruh Balikan (feedback) Guru Dalam Pembelajaran Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Peserta Didik (Suatu Kajian Toritis Dan Empirik)”. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Vol. 1 No. 2. 
  • Marlina, Leny. 2015. “Management Sumber Daya Manusia Dalam Pendidikan”. Jurnal Pendidikan. Vol. 1 No. 4. 
  • Anrita. 2016. “Studi Komparasi Silabus Rongrien Bakonh Pittaya School Pattani Thailand Selatan Dengan Silabus MI Ma’aruif NU 1 Pageraji Cilongok Kabupaten Banyumas”. Skripsi.

Posting Komentar untuk "Pengertian Penilaian Acuan Patokan dan Penilaian Acuan Norma"