Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konseling Psikoanalisa: Pengertian, Tujuan, Hubungan, Teknik, dan Tahapan Konseling Psikoanalisa

Initentangpsikologi.com - Menurut Freud, teori psikoanalisis ini akan sangat efektif digunakan dalam konseling untuk menyembuhkan pasien yang mengalami histeria, gangguan kecemasan, dan obsesi neurosis.

Pengertian Psikoanalisa

Sigmund Freud merupakan tokoh pencetus teori Psikoanalisa, yang menjadi letak dasar dalam teori Psikoanalisa yaitu tentang ‘ketidaksadaran’ (unconscious) yang merupakan sumber energi terpenting dari perilaku manusia.

Adapun teori-teori yang dijelaskan oleh Freud diantaranya: topografi, struktural, genitik, dan dinamika. Nah, keempat teori tersebut nantinya memiliki keterkaitan dengan konseling dalam perspektif psikoanalisis. 

Konseling Psikoanalisa
pexels.com

Pendekatan psikoanalisis sendiri menekankan pada pentingnya riwayat hidup klien (perkembangan psikoseksual), pengaruh dari impuls-impuls genetik (instink), energi hidup (libido), pengaruh dari pengalaman diri kepada kepribadian individu, serta irasioanalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia.

Konsep psikoanalisis mengenai taraf kesadaran memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Taraf conscious berisi tentang ide-ide yang tidak disadari individu pada saat itu, taraf preconscious berisi tentang ide-ide yang tidak disadari oleh individu pada saat itu akan tetapi dipanggil kembali, taraf unconscious berisi tentang memori dan ide yang sudah dilupakan oleh individu.

Menurut freud, yang tidak disadari merupakan bagian terbesar dari kepribadian dan mempunyai pengaruh yang kuat pada tingkah laku individu.

Gambaran Sifat Dasar Manusia (Menurut Freud)

Id: Merupakan aspek biologis yang mempunyai energi yang dapat mengaktifkan ego dan super ego. Energi yang meningkat dari id sering menimbulkan ketegangan dan rasa tidak nyaman. Sering menimbulkan dorongan-dorongan hawa nafsu yang berupa pemuasan.

Ego: Penekanan dorongan-dorongan dari Id.

Superego: Mengatur agar ego bertindak sesuai dengan moral masyarakat, menghalangi dorongan-dorongan id terutama dorongan seksual, dan agresivitas yang bertentangan dengan moral dan agama.

Freud beranggapan bahwa tingkah laku manusia itu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi tak sadar dan dorongan-dorongan biologis serta instingtual.

Sentral dari pendekatan teori Freudian adalah insting. Kemudian freud membagi insting tersebut menjadai dua yaitu insting hidup (life insting) dan insting mati (death insting).

Freud menganggap bahwasanya organism manusia sebagai suatu kompleks sistem energi yang mendapat energi dari makanan. Energi tersebut digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti: pernapasan, sirkulasi, gerakan otot, mengamati, berfikir, dan lainnya.

Freud menyebut energi yang ada pada psikis tersebut dapat berpindah kepada energi fisiologis dan sebaliknya. Titik temu antara energi tubuh dengan kepribadian adalah id. Id membangun insting yang mendinamiskan kepribadian.

Baca Juga: Konseling Kelompok: Tahapan, Tujuan, Kelebihan dan Kelemahan

Tujuan Konseling Psikoanalisa

Tujuan konseling adalah mengubah perilaku dalam pengertian yang sangat luas. Dalam pandangan psikoanalisa, tujuan konseling yaitu agar individu mengetahui dan memiliki ego yang kuat (ego strength). 

Konseling Psikoanalisa
pexels.com

Konseling akan menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak yang mampu memilih secara rasional dan menjadi mediator antara id dan super ego.
Adapun tujuan lain yang disampaikan oleh Nelson (dalam Latipun, 2005) terdapat tiga hal yaitu a). bebas dari implus, b). memperkuat realitas atas dasar ego, c). mengganti super ego sebagai relaitas kemanusiaan dan bukan sebagai hukuman standar pribadi.

Dari tujuan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling dalam psikoanalisa lebih kepada proses redukasi terhadap ego, dari yang sebelumnya terus tunduk pada implus-implus atau hukuman kode moralnya menjadi lebih realistik dan rasional.

Perspektif Psikoanalisa Hubungannya dengan Konseling

Menurut Prochaska (dalam Latipun, 2005) bahwasanya konseling dalam psikoanalisa terdapat dua bagian yaitu hubungan antara konseli (klien) dengan konselor. Kedua hubungan tersebut berupa melakukan aliansi (working aliance) dan transferensi (transference). Kedua bentuk hubungan tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Aliansi merupakan prakondisi untuk terjadinya keberhasilan konseling, sejak sikap rasional ini diberikan kepada konseli untuk percaya dan bekerja sama dengan konselor.

Konselor yang berhasil membangun hubungan aliansi dengan konseli dimungkinkan akan lebih berhasil dalam proses selanjutnya. Melakukan sebuah aliansi merupakan sikap konseli kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurotis. Aliansi ini terjadi pada awal hubungan antara konselor dengan konseli. 

Sedangkan Transferensi merupakan pengalihan pengalaman konseli dimasa lalu terhadap orang-orang yang mempengaruhi dirinya yang ditunjukkan kepada konselor. Dalam psikoanalisis transferensi merupakan bagaian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis.

Transferensi sebagai upaya analisis konselor untuk membantu konseli agar bisa membedakan antara khayalan dan realitas tentang ornag-orang yang mempengaruhinya (significant others). 

Konseling Psikoanalisa
pexels.com

Oleh karena itu transferensi ini membantu konseli dalam mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya salah dalam menerima, menginterpretasikan dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.

Konselor perlu untuk mengembangkan hubungan hangat dengan konseli dan perhatian sepenuhnya kepada konseli, dengan tujuan untuk terus menjaga kepercayaan konseli kepada konselor.

Dalam hal ini konselor menunjukkan keadaan yang healthier yaitu kejujuran tanpa sandiwara yang sesuai dengan kenyataan yang ada pada dirinya, tanpa adanya sikap yang defensive atau mencoba menutup-nutupi.

Baca Juga: Konseling Individu: Pengertian, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu

Teknik Konseling Psikoanalisa

Dalam psikoterapinya freud menerapkan 3 (tiga) teknik, yaitu:

Asosiasi Bebas

Asosiasi bebas maksudnya yaitu teknik yang memberikan kebebasan kepada konseli untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikirannya yang terlintas di benaknya baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Konseli melepaskan perasaannya melalui proses katarsis, sehingga dia dapat melepaskan segenap perasaan yang mengekangnya.

Asosiasi bebas ini untuk memudahkan pemahaman konselor terhadap dinamika psikologis yang terjadi pada diri konseli, sehingga dapat membimbing konseli untuk menyadari pengalaman-pengalaman ketidaksadarannya.

Analisis Mimpi

Teknik ini merupakan teknik dimana konseli mengemukakan segenap mimpi-mimpinya kepada konselor, karena fungsi mimpi adalah ekspresi segenap kebutuhan akan dorongan, keinginan yang tidak disadari seringkali akan direpresi dan termanifes kedalam mimpi.

Interpretasi mimpi ini dimaksudkan untuk mengajak konseli menafsirkan makna-makna yang tersirat dalam mimpi yang berhubungan dengan dorongan ketidaksadarannya.

Analisis Transferensi

Transferensi adalah respon konseli kepada konselor. Transferensi merupakan bentuk pengalihan segenap pengalaman masa lalunya dalam hubungannya dengan orang-orang yang berpengaruh kepada terapis disaat konseling.

Dalam transferensi ini akan muncul perasaan benci, cemas, dan sebagainya, yang selama ini ditekan dan diungkapkan kembali, dengan sasaran konselor sebagai objeknya.

Analisis Resistensi

Resistansi merupakan sikap dan tindakan konseli untuk menolak keberlangsungan terapi atau mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan kecemasan. Perilaku ini dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri.

Dalam konseling, konselor membantu konseli mengenali alasan-alasan konseli melakukan resistensi. Analisis resistensi sebaiknya dimulai dari hal-hal yang sangat tampak untuk menghindari penolakan atas interpretasi konselor.

Interpretasi

Interpretasi harus dianggap sebagai bagian dari teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Pada saat melakukan interpretasi, konselor membantu konseli memahami arti peristiwa dari masa lalu dan sekarang.

Interpretasi menyangkut penjelasan dan analisis berbagai pikiran, perasaan, dan tindakan konseli. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah konselor harus memilih waktu yang tepat dalam melakukan interpretasi ini.

Tahapan Konseling Menurut Psikoanalisa

Menurut salah seorang penganut teori psikoanalisa yaitu Arlow (dalam Latipun, 2005) mengemukakan beberapa tahapan dalam melaksanakan konseling diantaranya:

Konseling Psikoanalisa
pexels.com

Tahapan Pembukaan

Tahapan ini terjadi pada permulaan interview hingga masalah konseli dapat ditetapkan. Terdapat dua bagian pada tahapan permulaan ini yaitu: 1). disepakati mengenai struktur situasionalis yang menyangkut tanggung jawab konselor dan konseli, 2). Dimuali dengan konseli menyimpulkan posisinya, sementara konselor terus mempelajari dan memahami dinamika konflik-konflik ketidaksadaran yang dialami konseli.

Pengembangan Transferensi

Perkembangan dan analisis transferensi merupakan inti dalam konseling psikoanalisis. Pada fase ini perasaan konseli mulai ditunjukkan kepada konselor, yang dianggap sebagai orang yang telah menguasai dirinya dimasa lalulnya.

Pada tahapan ini konselor harus menjaga jangan sampai terjadi kontra transferensi yaitu transferensi balik yang dilakukan konselor kepada konseli karena konselor memiliki perasaan yang tidak terpecahkan.

Bekerja Melalui Transferensi

Tahap ini mencakup mendalami pemecahan dan pengertian konseli sebagai orang yang terus melakukan transferensi. Tahap ini dapat tumpang tindih dengan tahap sebelumnya, hanya saja transferensi terus berlangsung, dan konselor berusaha memahami tentang dinamika konseli

Resolusi Transferensi

Tujuan pada tahap ini adalah untuk memecahkan perilaku neurosis konseli yang ditunjukkan kepada konselor sepanjang melakukan hubungan konseling.

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Psikoanalisis

Kelebihan

1. Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.
2. Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristic.
3. Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrument diagnostic.
4. Pendekatan ini tampaknya efektif bagi mereka yang menderita berbagai macam gangguan, termasuk hysteria.
5. Pendekatan ini menekankan pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.

Kelemahan

1. Pendekatan ini menghabiskan waktu dan biaya yang banyak
2. Pendekatan ini tidak terlalu berguna bagi konseli lansia atau bahkan sekelompok yang bervariasi, yang paling banyak mendapatkan keuntungan dengan pendekatan ini adalah pria paru baya dan wanita yang tertekan dalam hidupnya.
3. Di luar harapan freud, pendekatan ini telah diklaim secara eksklusif oleh para psikiater.
4. Pendekatan ini berdasarkan pada banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan.
5. Pendekatan ini membutuhkan ketekunan. Pendekatan ini tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling professional.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Psikoanalisis

a. Menelusuri riwayat masa lampau konseli
b. Memberikan sarana konseli memproyeksikan masalahnya
c. Memberikan penafsiran terhadap proyeksi, asisosiasi dan mimpi kepada konseli
d. Membiarkan atau memerintahkan konseli untuk mengeluarkan emosi negatifnya untuk direalisasikan atau diekspresikan.

Baca Juga: Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Eklektik


Referensi Bacaan:

Diniati, Amira. 2009. Teori-teori Konseling. Pekanbaru: Daulat Riau.
Gerald, Corey. 1995. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Eresco.
Gerald, Corey. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Posting Komentar untuk "Konseling Psikoanalisa: Pengertian, Tujuan, Hubungan, Teknik, dan Tahapan Konseling Psikoanalisa"

Berlangganan via Email