Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Gangguan Emosional - Gangguan Pada Fungsi Perasaan

Initentangpsikologi.com - Definisi perasaan, afek dan emosi: Perasaan sering kali kita kenal sebagai suatu kondisi sadar yang dihasilkan dari emosi atau keinginan. Perasaan sendiri merupakan respon yang dipelajari mengenai suatu keadaan emosi di lingkungan tertentu. Perasaan sering disebut juga dengan renjana. 

Ada tiga sifat khas dari perasaan yaitu:
1. Dihayati secara subjektif;
2. Berkaitan dengan fungsi pengenalan;
3. Dialami oleh individu dalam macam-macam tingkatan (suka, tidak suka).

Perasaan yang dimiliki oleh individu ini sangat ditentukan oleh:
1. Consiusness (pengamatan, kecemasan, tanggapan);
2. Kepribadian;
3. Kondisi psikologis.

Gangguan Emosional
Ilustrasi Gambar Macam-Macam Emosi (pexels.com)

Emosionalitas adalah besar kecilnya kepekaan perasaan. Kualitas perasaan ini antara lain berwujud kegembiraan, kesenangan, duka derita, kesedihan, keseganan, buruk, dan lain sebagainya. Dominasi dari perasaan yang menyenangkan, baik, indah disebut dengan eukoloi. Sedangkan dominasi dari perasaan yang negatif, mengerikan, menakutkan disebut perasaan dyskoloi.

Orang orang yang memuat perasaan eukoloi biasanya merupakan pribadi yang optimis. Sedangkan orang-orang yang cenderung merasa tidak senang, cemas, sedih ini dihinggapi perasaan dyskoloi.

Afek (affect) adalah kondisi ketegangan abnormal dalam kehidupan perasaan. Merupakan emosi atau perasaan yang hebat, kuat dan berlangsung pendek, disertai macam-macam ledakan gejala fisik, sering disertai dengan kehilangan rem-rem batin dan pertimbangan akal. Contoh afek antara lain ialah: cinta, murka, benci, dan lainnya.

Stemming Atau Suasana Hati

Stemming atau suasana hati adalah kondisi perasaan yang berkesinambungan, dicirikan dengan selalu timbulnya perasaan-perasaan senang atau tidak senang yang sifatnya difusi (menyebar kesekeliling).

Suasana hati seseorang dapat menjadi penentu dalam penilaian terhadap situasi hidup sebagai suatu totalitas, karena itu sifatnya difusi atau membaur. Stemming juga menentukan apakah individu dapat menjalani kehidupan segenap suka-dukanya yang terbentang didepan mata ataukah tidak.

Contohnya, individu yang memiliki keadaan ekonomi yang berkecukupan namun suasana hatinya selalu menggaungkan nada negatif (tidak bersyukur, selalu merasa kurang) maka ia akan cenderung selalu dirundung perasaan kurang bergairah dalam menjalani kehidupan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana hati yaitu:

Faktor yang Mempengaruhi Suasana Hati
(pexels.com)

1. Konstitusi fisik

Merupakan pembawaan yang sudah ada dari sejak individu tersebut lahir. Konstitusi fisik tersebut yakni susunan sel-sel tubuh, kelenjar, alat pencernaan, susuan syaraf, dan lain sebagainya. Konstitusi fisik ini berkaitan dengan vitalitas fisik yang dimiliki oleh individu. Vitalitas fisik tersebut misalnya berupa vitalitas ketahanan jasmaniah terhadap penyakit, terhadap perubahan iklim, awet muda dan lain sebagainya.

Konstitusi fisik pun juga berkaitan dengan vitalitas psikis individu. Vitalitas psikis tersebut misalnya kondisi lekas lelah namun lekas merasa segar kembali dan perasaan semangat atau tidak semangat mengerjakan sesuatu.

2. Proses materiil pada otak

Adanya penggunaan bahan obat-obatan tertentu yang menurunkan tingkat suasana hati sehingga dapat memungkinkan munculnya depresi, misalnya obat reserpine. Sebaliknya ada juga penggunaan obat-obatan yang memperbaiki suasana hati seperti amitriptyline.

3. Penilaian diri sendiri

Penilaian diri sendiri yaitu bagaimana kita memandang suatu peristiwa yang kita alami tersebut. Apakah peristiwa yang kita alami akan membawa kita pada suasana perasaan yang negatif atau positif.

Gangguan Perasaan Dalam Wujud Kecemasan 

a. Psikoneurosa

Psikoneurosa ialah sekelompok reaksi psikis dengan adanya ciri khas yaitu kecemasan, dan secara tidak sadar ditampilkan ke dalam berbagai bentuk tingkah laku dengan jalan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism). Psikoneurosa atau biasa disingkat neurosa disebabkan oleh faktor-faktor psikologis dan kultural, khususnya oleh ketakutan dan kecemasan terus-menerus sehingga menimbulkan konflik batin yang kuat dan kronis, kelelahan fisik sehingga menjadi sakit secara jasmaniah dan juga kelelahan secara psikologisnya.

b. Histeria

Perasaan Histeria
Ilustrasi Orang Sedang Histeria (pexels.com)

Histeria adalah gangguan psikoneurotik dengan ciri emosionalitas yang ekstrim dan kecemasan-kecemasan. Histeria mencakup macam-macam gangguan fungsi psikis, sensoris, motorik, vasomotor (syaraf yang membesarkan atau mengecilkan pembuuh darah) dan alat pencernaan. Pada umumnya gejala histeria muncul disebabkan oleh usaha represi berbagai macam konflik internal.

c. Somnabulisme

Somnabulisme dikenal juga dengan sebutan sleep walking yaitu tidur sambil berjalan. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas pengulangan kembali kejadian-kejadian yang dialami oleh alam bawah sadarnya. Adanya pengalaman-pengalaman yang mencemaskan atau belum terselesaikan ini menyebabkan disosiasi selama tidur.

d. Neurasthemia

Neurasthemia adalah kondisi syaraf-syaraf yang lemah, sehingga penderitanya sering merasa tidak memiliki energi, selalu merasa lelah yang ekstrim disertai rasa sakit dan nyeri. Perasaan sakit dan lelah tersebut akan selalu ada walaupun individu tersebut tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

e. Fobia

Fobia adalah ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional dan tidak dapat dikontrol terhadap suatu situasi atau objek tertentu. Fobia merupakan ketakutan atau kecemasan khas neurotis dan merupakan simbol dari konflik-konflik neurotis. Fobia dapat disebabkan oleh adanya pengalaman yang mengerikan mengenai suatu objek atau peristiwa sehingga ketika orang tersebut bertemu dengan objek atau peristiwa yang serupa akan merasa trauma dan merasa takut walaupun sejatinya pengalaman tersebut sudah dilupakan namun secara tidak sadar respon ketakutan tersebut akan tetap muncul kembali.

f. Hipokondria

Hipokondria adalah kondisi kecemasan yang kronis dan penderitanya selalu merasakan ketakutan dan kecemasan yang patologis terhadap kesehatan badan sendiri. Penyebab umumnya adalah konflik intrapsikis yang sudah lama dan kronis yang tidak dapat diselesaikan oleh penderita.

g. Anxiety Neurosis

Neurosa kecemasan adalah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan yang kronis walaupun tidak ada rangsangan yang spesifik. Penderita akan selalu merasakan kecemasan-kecemasan yang tidak perlu misalnya saja takut mati, takut menjadi gila, dan macam kecemasan lainnya yang tidak dapat dikategorikan sebagai fobia.

Penyebab neurosa kecemasan antara lain adalah kecemasan, ketakutan dan kegagalan yang bertubi-tubi. Kemudian penderita melakukan represi terhadap emosi negatif yang muncul akibat kegagalan tersebut namun “represi” tersebut tidak sempurna sehingga malah menimbulkan kecemasan yang lebih serius.

h. Psikosomatisme

Psikosomatisme adalah kondisi dimana konflik-konflik psikis yang dialami oleh individu menjadi sebab timbulnya macam-macam penyakit fisik. Misalnya saja, orang yang merasa gugup saat akan berpidato didepan banyak orang akan merasakan pusing, keringat dingin, kram perut, dan sebagainya. Pada hal-hal yang lain misalnya terlalu banyak me-repress konflik batin menjadikan individu itu terkena penyakit maag.

i. Hypertension (Tekanan darah tinggi)

Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi. Hipertensi umumnya disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat dan faktor genetik. Namun apabila dilihat dari sisi psikologi sendiri, hipertensi disebabkan oleh individu yang memiliki kecemasan, stress, perasaan marah dan berbagai macam emosi negatif lainnya sehingga tubuh akan memproduksi hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah sehingga akan memicu penyakit hipertensi.

j. Effort sydrome dan Post Power Syndrome

Effort sydrome adalah reaksi somatik dalam bentuk sekelompok tanda dan simptom penyakit luka atau kerusakan. Misalnya saja, merasa sesak napas, pusing, ingin pingsan, detak jantung cepat. Effort syndrome ini disebabkan oleh kecemasan dan ketakutan yang berhubungan dengan aktivitas yang sering disertai dengan perasaan berdosa, atau individu merasa cemas dan takut akan agresivitas yang ia lakukan sendiri.

Post Power Syndrome adalah reaksi somatik dalam bentuk sekumpulan simptom penyakit yang menyebabkan kerusakan fungsi jasmaniah dan rohaniah yang bersifat progresif. Misalnya saja pada orang yang baru pensiun dan lansia. Sejatinya yang menjadi tolok ukur dari Post Power Syndrome adalah bagaimana seorang individu dapat memaknai kehidupannya yang sekarang bukannya merasa cemas dan malah menimbulkan konflik batin.

Manifestasi Dari Gangguan-Gangguan Perasaan 

Manifestasi dari gangguan perasaan dapat bermacam-macam bentuknya, seperti:

Gangguan Perasaan
Ilustrasi Orang yang Sedang Mengalami Gangguan Perasaan (pexels.com)

1. Perubahan tingkah laku

Perubahan tingkah laku ini biasanya terlihat dan dapat diobservasi oleh orang-orang disekeliling penderita gangguan perasaan. Sehingga sering kali perilaku yang ditampilkan oleh penderita dapat berdampak bagi orang disekitarnya.

Contohnya saja yaitu Menjadi lebih pendiam, lebih sering merasa cemas, penyalahgunaan obat-obatan, dan lain sebagainya.

2. Perubahan psiko-fisiologis

Tubuh dan kondisi psikis manusia memiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan antara hormon-hormon dan syaraf membentuk suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan cara kerjanya didalam tubuh. Perubahan kondisi fisik dapat terjadi seiring dengan perubahan psikis, perubahan fisik yang terjadi ini sering kali lebih kearah perubahan yang negatif. Seperti merasa pusing, mual, kram dan lain sebagainya.

3. Geltungstrieb

Pengertian geltungstrieb adalah hasrat yang dimiliki oleh setiap orang untuk diakui dan dianggap penting oleh masyarakat.

4. Kepekaan

Kepekaan adalah suatu masa atau periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang dan diarahkan sehingga perkembangannya tidak terlambat (hurlock: 1978). Salah satu peranan perasaan adalah untuk menyampaikan maksud hati kepada orang lain. Menciptakan rasa saling menghargai orang lain. Memahami lawan bicara.

5. Depresi

Depresi adalah gangguan kondisi emosional individu yang ditandai dengan perasaan sedih, murung, putus asa, tidak percaya diri, merasa bersalah, kehilangan minat, menyendiri dan merasa tidak memiliki harapan lagi secara berlebihan.

Seseorang yang mengalami depresi akan cenderung menginterpretasikan pemikiran negatif terhadap segala sesuatu yang datang dilingkungannya.



Referensi Bacaan:
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

Posting Komentar untuk "Gangguan Emosional - Gangguan Pada Fungsi Perasaan"

Ikuti via email