Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Gangguan Tidur: Dampak Mematikan Sering Begadang

Initentangpsikologi.com - Begadang memicu disrupsi parah pada irama sirkadian tubuh. Disrupsi tersebut memicu kebingungan hebat sel-sel di dalam tubuh seseorang dan meningkatkan peluang kematian mendadak. Lalu, bagaimana nasib pekerja shift malam? 

Pernah tidak sih kamu lebih milih begadang untuk mengerjakan tugas daripada tidur? atau lebih memilih nonton film atau drakor di netflix sampai pagi karena penasaran dengan ending atau kelajutan episodenya? Atau kerja shift malam yang memang tidak bisa ditawar sehingga mau tidak mau harus begadang? 

Gangguan Tidur: Dampak Mematikan Sering Begadang
Ilustrasi orang begadang (pexels.com)

Gimana? Pernah melakukan salah satu dari hal diatas? Kalau saya si sering melakukannya, terutama yang ngerjain tugas dan nonton film, hehehe.

Dampak Buruk Begadang

Tapi kamu tau nggak sih? Kalau kebiasaan begadang dan tidur terlalu larut ini bisa memicu masalah serius, seperti obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskuler yang ujung-ujungnnya mempercepat kematian? Bahkan ada banyak sekali kasus kematian mendadak akibat terlalu sering begadang ini. Saya yakin semua orang sudah tau kalau begadang ini tidak baik. Ya, apalagi ada lagunya tuh dari Bang haji Rhoma tuh :)

"Nah, muncul sebuah pertanyaan kok bisa sampe segitunya ya? Apa sih yang sebenarnya terjadi?"

Untuk memahami itu, kamu harus tahu dulu apa itu tidur, siklus tidur, dan irama sirkadian. Tidur mempunya suatu siklus, yaitu siklus tidur-bangun yang selalu berulang setiap hari selama hampir 24 jam. Siklus tersebut diatur oleh suatu sistem yang kita kenal sebagai irama sirkadian. Untuk memahami cara begadang merusak tubuh, kamu perlu paham dulu apa itu irama sirkadian.

Jadi ceritanya, tubuh manusia itu mempunya kemampuan internal untuk mengukur waktu di dalam tubuh. Sekarang tanyakan pada dirimu. Gimana sih cara kamu tau kalau sekarang itu malam? Kok bisa sih kamu tau kalau sekarang itu pagi?

Kamu tau kalau jam 6 sudah mulai malam karena kamu tau saat jam 6 matahari sudah terbenam. Nah, darimana kamu tau kalau matahari terbenam? Benar! Jawabannya mata! Sebagai salah satu organ sensor penangkap cahaya, mata akan menangkap cahaya lebih sedikit ketika hari mulai gelap. Pada saat itu terjadi, salah satu fotoreseptor yaitu sel-sel kerucut mulai persiapan pergantian tugas ke fotoreseptor lain yakni sel batang. Oke bro, tugas aku udah selesai nih. Sekarang giliran kamu bertugas untuk menangkap cahaya.” ucap sel kerucut kepada sel batang. 

Sel Kerucut dan Sel Batang

Tugas apa saja sih yang sebenernya diemban kedua sel ini setiap harinya? Yang jelas banyak banget, nanti akan saya bahas secara terpisah.

Rupanya, penurunan jumlah berkas cahaya yang masuk ke dalam mata tidak hanya disadari oleh dua jenis sel tadi. Ini dia si ganglion fotosensitif retina yang ruangannya nggak jauh dari tempat sel batang dan kerucut bekerja. Apa lagi itu ganglion fotosensitif? Hey bro, kok berkas cahayanya semakin sedikit? Sudah malam ya?” Tanya sel ganglion ke sel batang. Si batang hanya memberikan respon dengan mengangguk karena ia sedang seibuk-sibuknya. “Okelah, aku harus laporan nih ke komandan di hipotalamus!” sambung si ganglion.

Gangguan Tidur: Dampak Mematikan Sering Begadang
Ilustrasi orang berada di ruang gelap (pexels.com)

Nah, itulah tugas sel ganglion fotosensitif. Mereka bertanggung jawab untuk mendeteksi kecerahan lingkungan sekitar. Dari sinilah kamu tau kalau jam 6 itu sudah mulai malam! Informasi yang mereka terima akan dikirim langsung ke hipotalamus melalui jalur khusus (kalau daftar di lembaga pendidikan jalur prestasi nih, hehehe) yaitu Retinohipotalamik. Begitu informasi sampai di tangan hipotalamus “Oh informasi dari ganglion mata ya? Oke, teruskan ke SCN!” perintah hipotalamus ke bawahannya.

Suprachiasmatic Nucleus 

Wah, wah, wah, apa lagi itu SCN? Kok makin pusing aja mikirin nama-namanya?Suprachiasmatic Nucleus disingkat menjadi SCN merupakan master clock atau central clock, sang koordinator jam biologis tubuh yang berlokasi di bagian depan hipotalamus. Sebagai seorang master, ia bertanggung jawab untuk menyinkronkan jam biologis tubuh dengan waktu eksternal (memberikan respons terhadap Zeitgeber utama, sang matahari sebagai sumber cahaya terbesar sejagat tata surya) yang silih berganti dengan keadaan gelap dan membentuk suatu siklus.

Nah dari sini kamu akan tau, apa yang terjadi jika penyinkronan tersebut rusak akibat ulah dari begadang.

Ok, sekarang lanjut ke SCN dulu. Begitu SCN menyadari bahwa hari mulai gelap, ia langsung mengirim perintah ke masing-masing sistem organ. Perintah tersebut tentu saja dalam bentuk molekul-molekul kimia.

Nah bagaimana caranya sel menangkap perintah dari SCN? Jawabannya ya sangat rumit. Anggap saja perintah tersebut telah berhasil diterima oleh sel-sel perifer. Nah, tiap-tiap sel tersebut akan menghasilkan protein tertentu yang sesuai dengan perintah SCN. Protein tersebut digunain untuk mengekspresikan diri. Ya iyalah, masa kamu doang yang boleh mengekspresikan diri? Sel juga nggak mau kalah untuk melakuka hal yang sama.

Ekspresi tersebut dapat kamu rasakan melalui perubahan tanda-tanda organ vital (suhu, denyut nadi, pernapasan, & tekanan darah), produksi hormon, fisiologi tubuh, dan perilaku yang kamu lakukan sehari-hari. Jadi, sekarang kamu tau kan kalau ekspresi kamu selama ini berasal dari ekspresi sel-sel ini.

Ekspresi Sel-Sel Membentuk Pola Sirkadian

Oleh karenanya secara otomatis, pola sirkadian harian terbentuk dari ekspresi-ekspresi tersebut. Dari sinilah tubuh jadi tahu apa yang harus ia lakukan di malam dan siang hari. Tanpa kamu sadari, tubuh sudah mengerti harus melakukan apa. Hebat kan? Nah, pada suatu hari, tubuh dibuat kaget nih oleh ulah kamu. Perilaku manusia modern rupanya sudah tidak lagi ditentukan oleh perubahan siang-malam, melainkan oleh kesibukan pekerjaan masing-masing. Nyadar nggak? 

“Lah kok tiba-tiba ada banyak cahaya yang masuk sih? Ini malam atau siang ya?” Tanya ganglion fotosensitif kebingungan ketika kamu menyalakan lampu, menonton TV, atau membuka hp buat nonton youtube atau siap-siap begadang buat ngerjain tugas. SCN yang bekerja sesuai laporan dari sel ganglion kembali memberi perintah kepada kelenjar pineal untuk menghentikan produksi melatonin (hormon yang membuatmu ngantuk. Normalnya diproduksi pada malam hari).

Tentu saja pineal protes! “Lah begimana ini? Melatonin baru saja aku keluarin nih. Udah terlanjur nyebar ke seluruh tubuh. Kenapa tiba-tiba diberhentiin?” SCN merespons bingung keluhan pineal. Tiba-tiba saja ada kabar kalau kadar kortisol tubuh meningkat drastis. Hipotalamus kaget! “Wah ini kenapa tiba-tiba kortisol meningkat?” sel-sel mulai panik dan bingung.

Asal kamu tau saja, penurunan kadar melatonin memengaruhi produksi hormon stres karena kerja keduanya memang berbanding terbalik. Ya, tau kan kalau kortisol itu hormon stres? Ketika kortisol naik, tubuh menjadi paham. Mereka harus bersiap-siap menghadapi situasi stres fisiologis akut yang tidak kamu sadari. Irama sirkadian telah kalian reset! jeglekk!

Ritme Sirkadian di Reset

Apa yang terjadi jika irama sirkadian di-reset? Mari bahas mulai dari sistem kardiovaskular. Beberapa jurnal menjelaskan bahwa paparan cahaya memengaruhi fungsi kardiovaskular. Sistem kardiovaskuler yang baru saja memasuki fase aktivitas rendah tidak siap jika harus jet lag. Seluruh tanda-tanda vital mulai menunjukkan peningkatan, termasuk denyut nadi, suhu badan, dan tekanan darah. Tidak hanya itu saja, perubahan pada irama sirkadian rupanya juga memengaruhi agregasi trombosit!

Padahal normalnya, peningkatan agregasi trombosit terjadi di pagi hari. "Loh, loh, loh, ini kenapa secara tiba-tiba teman-teman jadi gampang menyatu begini?" tanya trombosit kebingungan ke sel-sel darah. "Ngga tau ya, mungkin ada infeksi?" sel darah menjawab.

Peningkatan agregasi trombosit berhubungan dengan kemampuan mereka membentuk gumpalan darah. Jika aliran darah kamu tidak lancar, tentu akan menjadi masalah. Dan benar saja! Mana ada orang yang olahraga larut malam? Aktivitas fisik akan menurun di tengah malam, padahal gumpalan-gumpalan bekuan darah mulai terbentuk di dalam darahmu. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, gumpalan-gumpalan tersebut bisa mampir ke jantung yang dapat menyumbat pembuluh koroner.

Gangguan Fungsi Organ Akibat Begadang

"Kira-kira apa yang terjadi jika pembuluh koroner tersumbat?" Ya! serangan jantung! Pada beberapa kasus, gangguan pada sistem kardiovaskuler dapat memicu sudden cardiac arrest, atau henti jantung mendadak. Jika tidak tertolong, orang bisa meninggal mendadak. "Bagaimana jika bekuan darah sampai ke otak?" Ya, stroke!

Kebingungan yang sama tidak hanya dialami oleh trombosit saja, melainkan komponen darah yang lain "Apa benar tubuh sedang menghadapi infeksi?" tanya sel darah putih heran. "Ah tidak tau lah pusing, tapi aku baru saja dapat perintah baru dari komandan pasukan imun." tambah sel putih makin keheranan. Nah, ada apa lagi ini? Perintah yang dimaksud oleh sel darah putih adalah sitokin. Ada banyak sekali interleukin (IL)-6 (sitokin proinflamasi) yang ditemukan di dalam pembuluh darah kamu!

Situasi mulai kacau. Pasukan imun dibuat bingung dan ini dapat memengaruhi sistem imun tubuh kamu. Rupanya, kortisol mengelabui sel imun kamu. Reaktivasi stres akibat pola tidur yang buruk memicu aktivitas inflamasi. Kini, situasi di dalam sistem kardiovaskuler makin kacau. Perlahan kamu mulai paham mengapa hipotalamus kaget dan sel-sel panik ketika tau kortisol meningkat di waktu yang salah.

"Sebentar, kamu diem deh. Ini kenapa tiba-tiba ada banyak glukosa?" sel darah merah bingung karena suplai makanan tiba-tiba meningkat. Temannya mengangguk setuju. Ia menyadari hal yang sama "Lah bener juga ya. Duh ini ada apa sih?" Bisa nebak nggak? Ya! Resistensi insulin. Hah? kok bisa? Kenapa sampai nyebar ke insulin? Ya kortisol memang kerjaannya memengaruhi regulasi glukosa (bareng-bareng sama growth hormone).

Kinerja Insulin Terganggu Kortisol

Melalui reaksi kompleks yang nggak akan saya jelaskan disini karena sangat rumit, intinya kerja insulin diganggu oleh kehadiran kortisol di dalam tubuh. Selain itu, kortisol mengaktifkan Glukoneogenesis dengan memecah protein di dalam liver sehingga menambah jumlah glukosa dalam darah. Terus kamu masih mau makan malam atau nyemil saat begadang? Apa nggak nambah tuh glukosa di dalam tubuh kamu?

Insulin ngga bisa kerja, glukosa meningkat, hasilnya? Hiperglikemia! Kalau keterusan? Ya bisa menyebabkan diabetes! Peningkatan glukosa darah dapat memperparah fungsi kardiovaskuler yang sudah buruk.

Gangguan Tidur: Dampak Mematikan Sering Begadang
Ilustrasi begadang (pexels.com)

Apa sudah selesei? tentu saja tidak! Penurunan kuantitas tidur karena begadang rupanya memengaruhi produksi dua buah hormon pengatur nafsu makan, Ghrelin dan Leptin. Normalnya, ghrelin menstimulasi nafsu makan, sementara leptin menurunkannya. Selama kita tidur, leptin akan terus diproduksi untuk memberitahu otak bahwa masih ada cukup energi untuk sebagian sel bekerja.

Jadi, kalau tidurnya kurang ya kadar leptin juga kurang. Kalau kadar leptin kurang, ghrelin bakal meningkat. Ini dia yang membuat kamu kelaperan di malam hari ketika begadang!

Peningkatan kortisol, resistensi insulin, dan penurunan leptin adalah trio maut yang dapat memicu obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan kematian. Ketika otak dan sistem saraf pusat kebingungan menghadapi kekacauan irama sirkadian, berita mengejutkan datang dari wilayah prefrontal "Kita kedatangan kortisol. Hormon itu sudah menembus sawar darah otak." Wah, habis sudah. Wilayah yang bertanggung jawab terhadap fungsi atensi, persepsi, belajar, dan memori di dalam otakmu mulai berisiko.

Kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang mengakibatkan mengecilnya volume otak seperti yang terlihat pada pasien demensia. Bersamaan dengan produksi Interleukin-6, kortisol melemahkan fungsi kognitif kamu. Lambat laun, fungsi kewaspadaan untuk fight or flight dan kemampuan konsentrasi dapat menurun secara signifikan. Ini nih yang membuat kamu merasa susah konsentrasi kalau kebanyakan begadang, bingung, ngantuk, dan penurunan performa peran. 

Beberapa artikel dalam jurnal menghubungkan antara kekurangan tidur dengan kematian dini. Orang-orang yang tidurnya kurang dari 6 jam dalam semalam berisiko mengalami kematian prematur.

Kesimpulan Dampak Buruk Begadang

Kesimpulan yg bisa diambil adalah, begadang dapat menyebabkan
1. Circadian rhythm reset
2. Gangguan jantung
3. Serangan jantung
4. Stroke
5. Obesitas
6. Diabetes
7. Penurunan konsentrasi & performa kognitif
8. Penurunan kewaspadaan
9. Kematian mendadak

Jika masih ada yang tanya, "kalau pindah waktu tidur ke pagi gimana? Asalkan tidurnya lebih dari enam jam per hari. Tidak apa apa?" Tapi mau bagaimana pun tidur di malam hari lebih tepat karena memang rules yang seharusnya seperti itu. Jangan membuat new rules, karena itu lagunya dua lipa, hehehe.

Berarti masih belum paham apa itu irama sirkadian. Terus bagimana nasib pekerja shift malam, orang yang mengalami gangguan tidur (insomnia, deprivasi tidur, dan gangguan pola tidur), serta deadline tugas dadakan. Apa yang harus mereka lakukan? 

Kurang lebih itulah pembahasan mengenai gangguan tidur dan dampak mematikan sering begadang. Nanti ya akan saya ulas dipembahasan berikutnya!



Referensi Bacaa:
@afrkml

Posting Komentar untuk "Gangguan Tidur: Dampak Mematikan Sering Begadang"

Ikuti via email