Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Inspiratif Raeni Berjuang Melawan Kutukan Privilege

Initentangpsikologi.com - Masih ingat dengan anak tukang becak yang menjadi lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang dengan nilai IPK 3,96?

Mbak Raeni yang ayahnya berprofesi sebagai tukang becak, sekarang sudah resmi menjadi lulusan S3 University of Birmingham loh.

Nah, saat ini kan sedang ramai-ramainya membahas soal privilege! Ya, privilege ini memang nyata adanya. Pilihannya, menggunakan dalih privilege untuk “berlindung” ngeles saat nasib kamu stagnan begitu-begitu aja. Atau kamu berjuang mati-matian demi mengalahkan kutukan privilege ini.

The Choice is Yours

Raeni dulu sempat viral saat ia lulus S1 di Universitas Negeri Semarang sebagai lulusan terbaik. Poin yang membuat ia jadi viral bukan soal lulusan terbaiknya, melainkan karena Raeni diantarkan wisuda oleh ayahnya dengan menaiki becak. 

Kisah Inspiratif Raeni
@raeni_raeni

Ya, dengan latar belakang keluarga dari kalangan menengah kebawah tentu predikat lulusan terbaik semakin luar biasa. 

 Lulus S1 Raeni mendapatkan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk melanjutkan S2 dan S3 di University of Birmingham, Inggris.

Privilege itu memang eksis dan nyata

Studi-studi menujukkan anak yang lahir dari orang kaya akan punya peluang sukses jauh lebih tinggi dibanding anak-anak yang lahir dari orang tua kelas menengah kebawah.

Bahkan studi menemukan fakta bahwa anak yang kurang pandai tapi lahir dari keluarga kaya tetap akan lebih sukses dibanding anak pintar yang lahir dari keluarga kurang mampu.

Ya, seakan-akan dunia rasanya tidak adil bukan? Lebih muram lagi ia yang kurang pandai dan lahir dari keluarga yang kurang mampu. 

Penelitian The SMERU Research Instistute

Selanjutnya ada juga penelitian yang dilakukan oleh The SMERU Research Instistute yang menunjukkan hasil seperti diatas. 

Kisah Inspiratif Raeni
pexels.com

Kisah sukses pada segelintir orang tidak bisa disamaratakan untuk semua kelompok. Dalam studi SMERU Institute yang diterbitkan di Asian Development Bank Institute (ADBI), sangat jarang anak yang lahir dari keluarga kurang mampu bisa sukses pada saat dewasa.

Sampel yang mereka gunakan adalah anak-anak berusia 8–17 tahun pada tahun 2000. Sebanyak 17% dari sampel tersbut merupakan anak dari keluarga kurang mampu. Mereka melihat pendapatan subjek penelitian pada 2014 (saat mereka berusia 22–31 tahun).

Penelitian tersebut menggunakan berbagai metode untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara hidup miskin saat anak-anak dan pendapatan mereka saat dewasa.  

Hasilnya? Anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki pendapatan sekitar 87% lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga sejahtera saat mereka dewasa. 

Pendapat Ahli Mengenai Privilege

Para ahli sosiologi dari mazhab kemiskinan struktural mengatakan, “Untuk melawan kutukan privilege ini, negara harus lebih banyak hadir guna membantu menuntaskan masalah kemiskinan.

Contoh epik, kebijakan ekonomi liberal kapitalistik China yang sukses tuntaskan 500 juta warganya dari kemisminan. 500 juta orang berhasil dientaskan dari kemiskinan! Inilah narasi paling epik dan fenomenal dari sukses kebijakan ekonomi liberal kapitalistik negara China.

Mungkin buku-buka sejarah pun akan mencatatnya dengan tintas emas. Nah pertanyaannya kapan Indonesia bisa seperti raksasa China yang berhasil menjadi adidaya ekonomi dunia?

Namun berbeda dengan struktural, para penganut mazhab kemiskinan kultural mengatakan, “Jika kamu hanya menunggu uluran tangan negara guna membantu msalah kamu mengalahkan kutukan privilege, ya kamu akan mati duluan. 

Jadi poin intinya itu ya kamu juga harus berjuang mati-matian dengan kekuatanmu sendiri demi kalahkan kutukan privilege itu. Kembali lagi bahwa “the coice is yours”. 

Berjuang Melawan Kutukan Privilege

Nah, nilah jalan ninja yang Raeni pilih. Ia terus berjuang dan berjuang dan berjuang! 

Kisah Inspiratif Raeni
@raeni_raeni

Jika Raeni ingin playing victim, pastinya saat SMA dulu sudah menyerah. Ngapain aku belajar mati-matian? Toh ayahku nggak bakal sanggup biayai aku kuliah”.

Jika Raeni ingin playing victim, Raeni pasti sudah mengatakan “Aku nggak punya privilege. Ayahku cuma tukang becak kok. Aku pasti nggak akan bisa sukses karena nggak punya modal.

Tapi dia memilih melawan kutukan privilege itu. Dia belajar mati-matian sampai akhirnya bisa menjadi lulusan terbaik dan mendapat beasiswa dan sekarang sudah lulus S3. Selamat Raeni! Semoga sukses dalam perjalananmu selanjutnya.

Intinya apa sih? Jangan menggunakan privilege sebagai alasan, “Lah aku cuma dari keluarga kurang mampu! Ayahku cuma kerja ini kok, Ibuku cuma kerja ini kok! Apalah itu!”. kesempatan untuk sukses sama mau lahir dari keluarga kaya atau kurang mampu, mungkin jalannya aja yang sedikit berbeda.

Mereka yang lahir dari keluarga kurang mampu harus menjelajah hutan, mendaki gunung, menyelami lautan, menghadapi badai, dan sebagainya untuk mencapai tujuan. Sementara yang terlahir dari keluarga kaya mungkin langsung masuk jaln tol aja.

Tapi hidup inikan adakalanya berputar! Nah, jika posisinya saling berganti, yang sudah terbiasa berjuang melewati jalur terjal disuruh lewat tol ya i’ts okay. Tapi yang terbiasa dengan jalur mudah disuruh berjuang melewati berbagai macam rintangan apa iya bisa kuat?

Privilege itu memang nyata tapi.... “The choice is yours” :)



Referensi Bacaan:
  • strategimanajemen.net
  • www.smeru.or.id

Posting Komentar untuk "Kisah Inspiratif Raeni Berjuang Melawan Kutukan Privilege"

Ikuti via email