Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan

Initentangpsikologi.com - Salah satu orang terkaya di Indonesia dengan net worth Rp. 250-an triliun, menikmati hidupnya dengan makan tahu pong di warung sederhana langganannya.


Ada sebuah studi yang menuliskan “Ketika uang tak lagi jadi masalah, kebahagiaanmu justru akan terlahir dari hal-hal kecil yang terlihat sederhana


The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan
pexels.com

Studi-studi dalam ilmu human behavior menemukan fakta “Saat kekayaanmu sangat melimpah, uang justru tak lagi punya pengaruh pada tingkat kebahagiaanmu.

Memang Betul Uang Bukan Segalanya? 

Saat kamu memiliki uang lebih dari cukup, maka kebahagiaan seringkali didapat dari hal-hal yang bersahaja. Misal seperti pak Bambang Hartono yang selalu meluangkan makan tahu pong langganannya di warung pinggir jalan.

Sebutannya Law of Diminishing Return, semakin melimpah uangmu, maka semakin menurun pula dampak uang itu pada kebahagiaan hakiki, "Diminishing impact".

Akan tetapi, tak banyak orang kaya yang paham dengan ilmu di atas.

Tak banyak orang kaya seperti pak Hartono yang meskipun seorang bilioner tapi tetap bersahaja. Banyak sekali orang kaya baru (OKB) yang terjebak sindrom Hedonic Treadmill. Artinya apa? ia akan terus-menerus membeli barang-barang dengan harga mahal demi memuaskan nafsunya.

Padahal, studi mengatakan nafsu seseorang akan kemewahan materi tidak akan pernah terpuaskan”, dan pada akhirnya kebahagiaan hakiki tidak pernah tergapai. Hedonic treadmill sama dengan gaya hidupmu, akan terus naik sejalan dengan kenaikan penghasilanmu juga.

Baca Juga: Tips Agar Tetap Konsisten Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Penghasilan Besar Memicu Gaya Hidup Mewah 

The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan
pexels.com

Gaji 4 juta-an masih pake ojol, gaji naik 10 juta beli motor sendiri, gaji 20 juta, beli mobil. Ya, tidak masalah jika membeli sesuai kebutuhan. Tapi banyak kasusnya, makin naik lagi penghasilan makin naik lagi standar barang yang dipakenya, dan hal tersebut tidak akan ada ujungnya jika terus dituruti. 

Nafsu akan hal-hal yang bersifat materil tetap tak pernah terpuaskan, dan kebahagiaanmu tetap jalan di tempat. Ya, itulah kenapa disebut dengan istilah hedonic treadmill. Meski uangmu makin banyak, ternyata kebahagiaanmu tetap jalan di tempat.

Kenapa? Karena nafsu kamu untuk terus membeli dan memiliki aneka benda materil tidak pernah bisa terpuaskan. Nafsu dan ekspektasi kamu yang terus naik dan tidak pernah bisa terpuaskan, membuat level kebahagiaanmu tidak bisa naik, seberapapun kenaikan kekayaanmu atau penghasilanmu.

Coba Renungkan Kembali Kalimat di Atas

Ok, sekarang pertanyaannya bagaimana cara agar terhindar dari jebakan hedonic treadmillBagaimana agar gaya hidup tidak ikut naik saat pendapatan mengalami kenaikan? Sebab kita tidak ingin ikut larut dalam pepatah lama yg pahit ini Hidup itu sebenarnya sederhana, yang mahal adalah gaya hidupnya”.

Nah, salah satu cara agar terhindar dari jebakan hedonic treadmill adalah fokus pada aktivitas-aktivitas kecil nan sederhana namun bisa hadirkan small happiness. Bagi pak Hartono kebahagiaan didapat dari makan tahu pong di tempat langganan. Kamu juga pastinya punya hal sederhana seperti pak Hartono yang dapat mendatangkan kebahagiaan! Maka lakukanlah.

Sebuah penelitinya menyebutkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam frekuensi yang rutin, jauh lebih baik daripada mengharapkan big happiness yang jarang didapatkan". Aktivitas-aktivitas sederhana yang rutin hadirkan small happiness itu justru murah meriah jika dinilai dengan materi.

Misal jalan kaki tiap pagi sambil hirup udara segar, atau bersepeda bersama teman-teman, atau berkebun, atau rutin membaca buku tiap malam, atau small activities lainnya.

Baca Juga: 8 Tips Self Acceptance dan Bangga Menjadi Diri Sendiri

Ketika Orang Kaya di Dunia ditanya Soal Bahagia

The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan
@bali_punya_cerita

Hal yang luar biasa adalah saat para bilioner ditanya aktivitas apa yang membuat anda paling merasa bahagia.
-> Bill Gates menjawab membaca buku tiap malam.
-> Warren Buffet menjawab hal yang sama "membaca buku".
-> Pak Hartono menjawab bermain bridge dan makan tahu pong di warung langganan.

Bisa dilihat kan? Bahagia itu sederhana. Melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas sederhana yang rutin membawa small happiness bisa membuat kita terhindar dari godaan nafsu ingin terus membeli aneka barang mewah atau materil.

Mamfaatnya banyak loh, jiwa kita makin bahagia sekaligus kita makin hemat dalam keluarkan uang. Karena sekali lagi ya, mengejar kebahagiaan melayani nafsu untuk memiliki aneka benda mewah atau materi tidak akan pernah berhasil. Kebahagiaan seperti itu tak akan pernah tergapai, karena nafsu dan ekspektasi kamu tidak akan pernah terpuaskan.

Pak Bambang Hartono & Tahu Pong 

The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan
@kang_gosip.id

Ok, coba kembali lagi ke cerita pak Hartono! Pemilik warung tahu pong mengatakan bahwa pak Hartono sudah menjadi pelanggan sejak 35 tahun lalu, yang mana saat itu warung tahu pong masih sebatas tenda di pinggiran jalanan.

Nah yang menjadi fokusnya, dalam rentang waktu 35 tahun itu, kekayaan yang dimiliki pak Hartono mungkin bertambah sekitar Rp 200 triliun lebih. Tapi ia tetap makan tahu pong di warung yang sama.

Apa pelajaran dari semua ini? Mungkin memang kebahagiaan hakiki tidak pernah bisa digapai dengan kemewahan materi, atau dengan memamerkan aneka benda atau liburan mewah di sosial mediaKebahagiaan hakiki mungkin kita raih dari hal-hal kecil nan sederhana di sekeliling kita.


Referensi:
@Strategi_Bisnis

Posting Komentar untuk "The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan"

Ikuti via email