Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Beragama Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme

Initentangpsikologi.com - Ok, pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai beragama dalam perspektif psikologi behaviorisme. Namun, sebelum ke pembahasan tersebut tentu harus mengetahui terlebih dahulu “teori behaviorisme” itu seperti apa?


Beragama Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme
Beragama Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme (pexels.com)

Teori Behaviorisme

Pelopornya yang terkenal adalah John B. Watson, Watson adalah seorang ahli psikologi Amerika Serikat yang pada awal abad ke-20 mulai memperkenalkan gerakan Behaviorisme, sejak itu Behaviorisme telah dikenal dengan analisis perilakunya dengan mengembangkan teknik-teknik guna mengamati perilaku dalam lingkungan yang dikendalikan, fungsinya untuk apa? untuk mengukur tanggapan dan untuk meramal pola perilaku selanjutnya.

Oleh karenanya, bukan hal mengherankan jika Behaviorisme tidak memberi perhatian banyak kepada agama, hal ini dikarenakan pengandaian mereka bahwa perilaku keagamaan adalah sama halnya dengan segala perilaku lain, yang merupakan akibat dari proses tanggapan fisiologis manusia. 

Dengan demikian tak menyediakan cukup kemungkinan untuk menggali agama dari segi metafisisnya. Maka dari itu, psikologi ilmiah yang didominasi mazhab behavioristik jarang menyinggung secara serius topik agama. Jadi, pembahasan beragama dalam perspektif psikologi behaviorisme mungkin tidak terlalu lengkap.

Pokok-Pokok Teori Pengkondisian

Terdapat tiga pokok teori pengkondisian dalam aliran behavior ini yaitu; pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan tindakan penguat.
  • Pengkondisian Klasik
Dalam bukunya “The Battle for the Mind”, William Sargant menyajikan teori yang menarik, meskipun sempit, tentang pertobatan (conversion) berdasarkan teori Pavlov. Sargant menggunakan dua konsep Pavlov yaitu rangsangan trans-marginal (transmarginal stimulation) dan penghambatan trans-marginal (transmarginal inhibition) untuk membahas gejala pertobatan.

Sargant melihat bahwa rasa takut yang ditimbulkan seperti karena membayangkan api neraka, yang diciptakan lewat khotbah-khotbah yang berapi-api, merupakan keadaan kebangkitan emosi yang hebat yang diciptakan secara artifisial, buatan.
  • Pengkondisian Operan
Skinner berpendapat bahwa manusia berbuat sesuatu dalam lingkungannya untuk mendatangkan akibat-akibat, entah untuk mendatangkan pemenuhan kebutuhan atau untuk menghindari datangnya hukuman atau pengalaman yang tidak enak.

Menurut skinner segala perbuatan dan tindakan manusia dapat dimengerti dalam kerangka pemikiran itu, begitu pula manusia dalam beragama. Ia juga berpendapat bahwa agama masih diperlukan oleh orang-orang awam, terutama sebagai cara untuk mendorong mereka menangguhkan pemuasan kebutuhan masa kini.
  • Tindakan Penguat
Penguat adalah peristiwa atau sesuatu yang membuat tingkah laku yang dikendaki bepeluang untuk diulangi. Dalam pandangan Skinner kegiatan keagamaan diulangi karena sebagai faktor penguat dan sebagai perilaku yang dapat meredakan ketegangan. Kelembagaan sosial juga menjadi faktor penguat yang dapat mempertahankan perilaku dan kebiasaan masyarakat.


Ya, itulah ulasan singkat mengenai beragama dalam perspektif psikologi behaviorisme.

Posting Komentar untuk "Beragama Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme"

Ikuti via email