Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep-Konsep Dasar Teori Interdependensi

Initentangpsikologi.com - Teori interdependensi menerapkan dua hal untuk menerangkan hasil dari interaksi, yakni matriks dan daftar transisi (Lange & Rusbult, 2012). Tujuan dari representasi formal ini ialah untuk menetapkan karakter struktur kondisi secara pas. Berikutnya, struktur keadaan akan menggambarkan metode di mana individu bisa memengaruhi satu sama lain sebagai hasil dari interaksi.

 

Konsep-Konsep Dasar Teori Interdependensi
(pexels.com)


 Suatu interaksi menerangkan kebutuhan, pikiran, motif, dan perilaku dua individu (A dan B) dalam berhubungan pada konteks kondisi interdependensi tertentu (S). Simpulan tersebut bisa ditunjukkan dengan formula, I = f (S, A, B) (Lange & Rusbult, 2012).

Struktur situasi sangat menjadi penting disebabkan karena bisa memprediksi perilaku yang akan timbul disamping tujuan dan motif pada interaksi antar individu. Lange dan Rusbult (2012) menceritakan adanya empat asumsi teori interdependensi, yakni:

1. Prinsip Struktur Situasi

Memahami fitur interdependensi pada sebuah situasi amat penting untuk memahami proses psikologis (motif, kognisi, dan afeksi), perilaku, dan interaksi sosial.

Fitur tersebut di formalkan dalam taksonomi situasi, yakni tingkatan dependensi, dependensi mutual, kovarian kepentingan, dasar dependensi, struktur temporal, dan ketersediaan informasi.

2. Prinsip Transformasi

Situasi pada interaksi mungkin akan mengalami transformasi di mana individu menentukan konsekuensi dari perilakunya baik untuk diri sendiri dan orang lain, serta konsekuensi yang bersifat langsung atau pada masa depan.

Transformasi merupakan proses psikologis yang dipandu dengan tujuan interaksi dan ditunjang oleh proses afektif, kognitif, dan motivasi. Transformasi menerangkan bagaimana individu mempertimbangkan orang lain dalam menetapkan sikap dan perilaku.

Sikap dan perilaku yang semula akan dilaksanakan individu kemudian bertransformasi dalam wujud sikap dan perilaku lain sebab pertimbangan lebih lanjut kepada individu lain. Semisal, saat Ilham disakiti oleh Rifki (kakaknya), maka pada titik itu, Ilham merasa tak mau lagi melanjutkan hubungan dengan Rifki.

Namun, ikatan persaudaraan di antara mereka, membuat Ilham berpikir lebih lanjut dan mempertimbangkan dari sisi Rifki. Ilham meyakini bahwa tak mungkin Rifki menyakiti tanpa adanya alasan yang kuat. Maka dari itu, kemauan awal Ilham untuk memutus hubungan kemudian bertransformasi menjadi mendengarkan alasan dari Rifki dahulu sebelum menentukan tindakan selanjutnya.

Baca Juga: Pengertian dan Sejarah Teori Interdependensi

3. Prinsip Interaksi, SABI : I = f (A, B, S)

Interaksi yaitu fungsi dari dua orang (orang A dan B) dan sifat objektif situasi (S). Situasi bisa mengaktifkan motif, kognitif, dan afektif serta pengalaman tertentu pada A dan B, yang pada akhirnya menciptakan pola interaksi tertentu lewat tanggapan timbal-balik dalam perilaku mereka.

Nilai penting dari interdependensi yaitu bagaimana hubungan yang terbangun dari dua individu. Hubungan antar dua individu sama pentingnya dengan situasi dari masing-masing individu. Sehingga dinamika dari interaksi yang terjalin senantiasa merupakan fungsi dari situasi individu dan partner serta situasi.

4. Prinsip Adaptasi

Pengalaman interaksi sosial yang berulang akan menciptakan adaptasi yang tercermin dalam suatu orientasi dan bersifat stabil. Adaptasi secara garis bersar, prinsip adaptasi bisa digambarkan saat situasi berulang dialami individu akan menciptakan reaksi yang cenderung sama.

Adaptasi direalisasikan dalam disposisi interpersonal, motif pada hubungan sepesifik, dan norma sosial. Prinsip adaptasi akan lebih dibahas pada proses terjadinya interdependensi. 

Baca Juga: Definisi dan Teori-Teori Agresi dalam Psikologi Sosial

Dimensi Struktur Interdependensi

Setelah menerangkan pentingnya struktur situasi, selanjutnya akan dipaparkan lebih lanjut perihal enam dimensi struktur interdependensi, yakni:

a. Level Dependensi

Masing-masing individu akan dilihat, bagaimana tingkatan bergantungnya terhadap partner. Jika individu dalam bertindak tak ditentukan oleh perbuatan partner, maka individu tersebut independen (actor control). Individu dapat dikatakan dependen kepada partner saat individu berperilaku ditetapkan sepenuhnya oleh partner (partner control) atau ditetapkan oleh (kombinasi) dirinya dan partner (joint control).

Pada bagian ini, individu dilihat sejauh mana dapat merasa nyaman dengan tingkatan dependensi (independen atau dependen) dalam relasi. Konsekuensinya yakni momen menyakitkan yang dialami oleh individu yang dependen, akan lebih ditolerir. Dengan kata lain, individu yang dependen kepada partner akan lebih memaafkan, mengakomodasi akibat perbuatan negatif yang dijalankan partner.

Pengorbanan yang dilaksanakan tersebut, dianggap lebih mudah individu hadapi daripada mengakhiri hubungan dengan partner. Individu yang dependen akan merasa lebih kesulitan dalam menjalani hidupnya saat tidak lagi mempunyai hubungan dengan partner. Oleh sebab itu, individu mengakomodasi kerusakan yang terjadi dalam hubungan. 

Baca Juga: Teori Perbandingan Sosial dalam Psikologi Sosial

b. Dependensi Mutual

Bagian ini menerangkan, apakah masing-masing individu dalam hubungan mempunyai level dependensi yang sepadan satu sama lain. Dependensi mutual menonjolkan ketergantungan yang sepadan di antara dua individu dalam relasi. Bentuk hubungan ini dianggap lebih aman, stabil, dan tentram.

Kemungkinan lain yaitu dependensi nonmutual. Dependensi nonmutual menunjukkan bahwa ada salah satu pihak yang memiliki kuasa lebih daripada hubungan lainnya. Pada situasi ini, pihak yang memiliki kuasa lebih, akan bertindak sebagai pihak yang mengendalikan tanggung jawab dan kendali terhadap pengambilan keputusan serta pengguna sumber kekuaatan dan komponen.

Pihak yang memiliki kuasa kurang akan berbuat sebagai pihak dependen. Individu yang memiliki kuasa yang lebih, akan dipandang dari sejauh mana sanggup merasa nyaman dengan perannya sebagai penanggung jawab, sedangkan pada individu yang bertindak sebagai pihak dependen, akan dipandang sejauh mana sanggup merasa nyaman dengan perannya sebagai pihak yang rentan mengalami rasa tak aman (insecure).

c. Dasar Dependensi

Dasar dependensi menjelaskan, bagaimana perilaku masing-masing individu saling memengaruhi satu sama lain. Pada partner control, maka semua kontrol (dominasi) berada pada partner. Dominasi oleh satu pihak memungkinkan terjadinya keputusan sepihak dalam relasi.

Pada relasi joint control, maka kontrol yang berpengaruh adalah kontrol satu sama lain secara bergantian. Relasi ini akan menyebabkan berbagi koordinasi yang melibatkan kecerdasan, inisiatif dan kemampuan strategis. Kedua pihak (baik individu maupun partner) dapat dengan bebas menyampaikan secara asertif apa yang mereka rasakan dan bagaimana keberlanjutan hubungan selanjutnya. 

Baca Juga: Teori Gender dalam Psikologi Sosial

d. Kovarian Kepentingan

Bagian ini menjelaskan sejauh mana kovarian kepentingan dalam relasi ketika individu berupaya merealisasikan kepentingannya. Individu memiliki kepentingan pribadi, demikian pula partner derajat kovariansi memiliki rentang dari kepentingan bersaing yang terjalankan dengan baik, hingga terjadinya konflik akibat kepentingan dari salah satu pihak bertentangan dengan pihak lain. 

Pada situasi-situasi terjadinya konflik, maka individu cenderung menggali infomasi mengenai partner, misalnya muncul pertanyaan apakah partner dapat dipercaya. Pada bagian ini, partner akan dilihat seberapa jauh memiliki kerja sama atau kompetisi, serta kepercayaan atau ketidakpercayaan.

Dimensi Kovarian kepentingan menjelaskan, bagaimana setiap individu memiliki kepentingan yang berbeda satu sama lain. Tidak jarang dalam relasi, kepentingan dua individu bertentangan satu sama lain. Konflik bisa terjadi karena adanya pertentangan kepentingan antar dua individu, misalnya, A bersahabat dengan B. A terpaksa mengingkari janji dengan B ketika A akan belajar untuk menghadapi ujian esok hari.

A menghadapi dilema dalam menghadapi dua kepentingan yang harus dipilih, apakah mengutamakan kepentingan pribadi atau sahabat. A lebih dapat menerima perasaan kekecewaan yang akan dialami oleh B karena pengingkaran janji dibandingkan kegagalan yang A alami jika tidak belajar. Pengingkaran janji yang dilakukan oleh A akan membuat B kembali mempertimbangkan, apakah A masih layak dipercaya atau tidak. 

Baca Juga: Norma-Norma Kelompok Sosial

e. Struktur Temporal

Bagian kelima dimensi interdependensi adalah mengenai struktur temporal. Ada beberapa saat di mana situasi yang terjadi merupakan bersifat sementara. Relasi tidak mungkin selalu menyenangkan, ada waktunya ketika relasi menyakiti individu yang terlibat di dalamnya. Pada saat seperti ini, potensi perilaku di masa yang akan datang sebagai konsekuensi hasil interaksi mungkin saja dilakukan dan mungkin saja sengaja dihilangkan.

Akan terlihat, bagaimana individu melakukan pilihan untuk berperilaku. Apakah individu akan melakukan ketergantungan atau memilih untuk bersikap tidak reliabel, apakah individu akan tetap loyal atau tidak loyal dengan relasinya, misalnya; individu semula ingin mengakhiri relasi. Namun, setelah individu memahami bahwa kondisi ini bersifat sementara dan hanyalah sebuah fase dalam relasi, maka individu ingin mencoba memperbaiki relasi.

Bagian ini membahas motif individu yang dipengaruhi oleh Waktu. Beberapa motif tersebut, yaitu investasi, penundaan kepuasan, dan pertimbangan konsekuensi di masa depan.

Investasi yaitu ketika individu membantu partner dan berharap di masa depan partner dapat membantu individu; penundaan kepuasan yaitu ketika individu membantu partner karena meyakini selalu ada balasan yang baik di masa depan dan penimbangan konsekuensi di masa depan, yaitu ketika individu membantu partner karena partner dan individu akan menjadi kolega di masa depan.

f. Ketersediaan Informasi

Ada beberapa situasi di mana setiap individu membutuhkan informasi untuk memastikan pengaruh sikap atau perilakunya terhadap perilaku partner. Hal ini berkaitan dengan motif atau tujuan individu mengenai perilaku yang dilakukan, serta apakah ada konsekuensi yang dihasilkan atau dihilangkan dari berbagai macam perilaku yang dihasilkan.

Individu akan cenderung melakukan atribusi untuk mendapatkan jawaban dari berbagai dugaan yang didapatkan. Bagian ini menekankan sejauh mana individu memiliki keterbukaan dalam menyampaikan informasi mengenai perilaku atau jusrru memilih menunggu adanya permintaan konfirmasi.

 

Referensi:

1) Hudijana, Joevarian, dkk, Teori Psikologi Sosial Kontemporer, Edisi 1. 2017. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

2) Richard West dan Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi , terj. Maria Natalia Damayanti Maer, Edisi 3. 2007. Jakarta: Penerbit Selemba Humanika.


Posting Komentar untuk "Konsep-Konsep Dasar Teori Interdependensi"

Ikuti via email