Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sikap Toleransi Indentitas Negeri, Say No To Intoleransi!

Sikap toleransi identitas negeri, say no to intoleransi
(pexels.com)

Sikap Toleransi - Negara Indonesia merupakan negara yang mengedepankan kesatuan dan persatuan, bagaimana kehidupan saling toleransi menjadi ciri khas di negeri ini. 

 
Dengan beragam suku budaya dan bahasa daerah masing-masing bukan berarti berbeda, seperti kalimat yang tertulis di lambang negara Indonesia (Garuda Pancasila) yaitu ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang artinya ‘meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua’.

Selain budaya, Indonesia juga memiliki Agama yang beragam karena lebih dari satu agama yang diakui di sini namun tetap berpedoman pada sila pertama yakni ‘Ketuhanan yang Maha Esa’, dan hal berbau SARA (suku, agama, dan ras) inilah yang sering menjadi salah satu sasaran empuk berkaitan dengan isu-isu intoleransi di negeri ini.

Akhir-akhir ini marak sekali kasus-kasus intoleransi bernuansa SARA yang kemudian membuat cemas banyak pihak terutamanya adalah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Maka penting bagi kita untuk mengedepankan sikap toleransi yang sudah melekat sebagai identitas negeri ini.

Pada akhirnya isu-isu tersebut membuat presiden Jokowi mempunyai pemikiran untuk membentuk sebuah unit khusus. Unit yang bekerja untuk mensosialisasikan lagi isi dari pancasila yang menjadi dasar negeri ini, salah satunya untuk memahamkan bahwa negara Indonesia ini sangat beragam baik itu sukunya, budayanya atau agamanya.


Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengedepankkan sikap toleransi dan mengantisipasi sikap intoleransi. Jika intoleransi terus-menerus dibiarkan dan menganggap bahwa hal ini bukanlah suatu persoalan yang penting dalam hidup kita, maka secara tidak langsung kita harus mengubur dalam-dalam impian untuk mewujudukan masyarakat Indonesia yang hidup makmur dan sejahtera.

Menjaga Indonesia dari Ancaman Intoleransi
 
Sikap Toleransi Identitas Negeri
(pexels.com)

Berkaitan dengan impian dari Presiden Jokowi mungkin bisa melihat salah satu organisasi yang patut dijadikan rujukan berkaitan dengan perdamaian ini adalah “Wahid Foundation”, organisasi yang berdiri pada tanggal 07 September tahun 2004 di Jakarta. Sesuai dengan namanya organisasi ini didirikan oleh Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Adapun tujuan utama dari organisasi ini ialah memfasilitasi dialog dan membangun pemahaman antara agama Islam dan Agama lain serta budaya masyarakat setempat.

Lembaga ini mengemban cita-cita dan visi - misi mulia dari Gus Dur yakni mengenalkan bahwa Islam adalah agama perdamaian, Islam adalah agama ‘Rahmatan Lil Alamin’, beliau juga pernah mengatakan bahwa “Kita butuh Islam Ramah bukan Islam Marah”. Sehingga dari hal tersebut kita dapat menyebarkan sikap toleransi yang tinggi sehingga bisa dicapailah tujuan untuk mensejahterakan masyarakat.

Intoleransi dan radikalisme yang semakin marak terjadi di negeri ini menjadi salah satu tantangan kita semua, dan dari survei yang dilakukan dalam rentang tahun 2016-2017 didapatkan data bahwa sikap intoleransi meningkat dimana ditahun 2016 mayoritas muslim (laki-laki dan perempuan) bersikap intoleransi terhadap kelompok yang tidak disukai sebesar 51,0% dan ditahun 2017 memperoleh data sebesar 57,1%.

Jika kita lihat, sikap intoleransi saat ini yang paling banyak ditemui adalah berkaitan dengan ujaran kebencian. Khusunya yang sedang ramai ditahun politik lalu (pilpres 2019) bahkan nuansanya mungkin masih terasa sampai sekarang berkaitan dengan “Politik Identitas”.

Dilihat dari kasus Pilkada 2017 dan Pilpres 2019, politik identitas ini begitu menguat karena mayoritas orang tidak lagi melihat bahwa perbedaan itu harusnya menjadi salah satu faktor penguat, tetapi yang terjadi adalah mereka menganggap perbedaan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah landasan pemersatu.

Selanjutnya contoh lain dari perilaku intoleransi yang bernuansa SARA yang banyak ditemui sekarang ini adalah penyegelan tempat ibadah golongan minoritas di wilayah tersebut. Misalnya mereka beralasan terancam dan takut jika terdapat rumah ibadah lagi nanti akan ada maksud terselubung. Jadi tidak ada pemikiran untuk mengedepankan sikap toleransi meskipun memang keyakinannya berbeda.

Karena alasan tersebutlah akhirnya kelompok mayoritas ini mengumpulkan masa dan melakukan demonstransi agar rumah ibadah tersebut ditutup.

Baca Juga: Pengertian, ciri, syarat dan bentuk dari interaksi sosial

Sikap Toleransi Identitas Negeri
(pexels.com)

Dalam studi yang dilakukan organisasi wahid foundation, memandang jika tidak semua orang yang bersikap intoleran dapat berubah menjadi orang yang radikal. Namun intolernasi ini bisa menjadi pemicu atau faktor yang melandasi perbuatan yang mengarah pada tindakan kekerasan yang disebut dengan ‘Radikalisme’.

Sementara kita juga tahu bahwa yang menjadi salah satu ukuran keberhasilah sebuah negara adalah ketika negara itu mampu menciptakan suasana penduduknya menjadi masyarakat yang memiliki sikap toleransi dengan orang lain yang berbeda.

Oleh karenanya jika perilaku intoleransi ini terus kita biarkan dan dianggap bukan sebuah persoalan yang penting dalam hidup kita maka harus siap mengucapkan "selamat tinggal (perdamaian)". 

Selamat tinggal kehidupan sejahtera, selamat tinggal kehidupan yang makmur. Kita sebagai masyarakat Indonesia terutama para milenial harus dengan tegas dan lantang mengucapkan “Tidak ada tempat untuk Intoleransi di Negeri ini”. Karena yang menjadi identitas negara Indoneisa adalah sikap toleransi.
 
Oleh: Arfi Subarkah (1707016062)
Prodi Psikologi, Kelompok 135 

Referensi:
1) Qodir, Zuly. 2016. "Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme Agama". Jurnal Studi Pemuda. Vol. 05, No. 1.
2) https://www.wahidfoundation.org/ (diakses pada tanggal 06 oktober 2020)

25 komentar untuk "Sikap Toleransi Indentitas Negeri, Say No To Intoleransi!"

  1. Kalo menurut saya, kembali pada diri masing-masing aja. Berusaha memperbaiki diri, mendekatkan diri dengan sang pencipta juga saling menghargai sesama manusia. Kalo diri sendiri sudah sadar tentang ketenangan hidup juga harus diterapkan dalam hidup bersosial.

    BalasHapus
  2. Saya setuju sih anti radikalisme, rindu jaman dulu dimana org Indonesia lebih toleransi dan gak merasa paling benar sendiri.

    BalasHapus
  3. Musuh besar bangsa ini sebetulnya bukan intoleransi dan radikalisme, tapi lebih mendasar lagi adalah logical fallacy. Sebab di beberapa tempat, banyak yang mengaku sebagai kaum toleran, tapi hanya berpihak kepada personal dan kelompok, bukan berpihak pada sikap toleransi itu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas mantab bang. Setuju luar dalam

      Hapus
    2. Sepertinya memang perlu merumuskan indikator radikal dengan lebih terang ya Bang. Saya pribadi setuju bahwa Indonesia bukan tempat bagi orang-orang intoleran, hanya saja, selama itu tidak dijadikan senjata untuk memerangi bangsa kita sendiri dan melekatkan label pada orang yang tidak kita sukai semata karena perbedaan pilihan politik

      Hapus
  4. Revolusi mental belum sukses. Hehehe. Tapi kita sedang mengarah ke sana.

    BalasHapus
  5. Intoleransi kak...intoleransi bukan intolernasi... hehehe.. sepakat intoleransi adalah pintu gerbang awal masuknya perpecahan dan rusaknya demokrasi yang sudah dibangun bertahun-tahun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe maaf typo sedikit, namanya juga manusia pasti ngga luput dari salah, hehehe

      Hapus
  6. Di beberapa daerah sudah banyak terpasang spanduk "Warga (nama daerah) menolak keras radikalisme dan terrorisme", aku pernah lihat beberapa kali di dekat rumahku. giliran ada warga minoritas yang mau ibadah di lingkungan mereka, ijinnya dipersulit.

    Itu termasuk intoleransi kan?

    BalasHapus
  7. Politik identitas sedemikian kuat, di Indonesia. Memang tipikalnya gitu. Hanya mau percaya pada yang dilihat. Percaya dan yakin. Ini tidak baik. Ini tidak benar. Karena, yg dianut juga manusia, yang bisa salah. Buktinya, intoleransi sangat kental di Indonesia. Sedih bangeeeet... rasanya ketika teman menjadi merasa serba tahu dan paling tahu tentang agama. Sebel banget ketika budaya dipertentangkan.
    Kita harus berubah!

    BalasHapus
  8. Tidak dapat dipungkiri bahwa kencangnya globalisasi dan tingginya penggunaan teknologi juga berimbas pada turunnya toleransi. Liat ajah saat kumpul kumpul, orang lebih banyak yg sibuk dg gadgetnya dibanding bercengkrama tanpa gadget

    BalasHapus
  9. Wah sampai ada penyegelan tempat ibadah segala ya. Kalau kata orang tua, hidup itu yang penting lakon atau sifat. Apapun agama, suku dan budayanya, kalau sikap dan perilakunya baik, tentu hidup jadi lebih damai

    BalasHapus
  10. Saya setuju banget sama pendapat bang Doel. Terkadang yang ngomong toleran eeh cuma toleran sama yang sekelompok doank. Kangen 10 tahun lalu, gak ada teriak teriak intoleran tapi kita damai damai aja

    BalasHapus
  11. toleran intoleran, kalau jadi bahasan saya pilih menghindar aja. Nyatanya banyak menemui yang teriak menolak segala bentuk intoleransi, malah kelakuannya mencerminkan intoleran.

    BalasHapus
  12. Politik identitas. Dua kata ini jujur paling membuat sebel, karena penggunanya sebagai senjata di pentas politik itu bener2 sering lempar batu doang bikin rame, kalau nguntungin dia ya koar2. kalau nggak nguntungin ya dia diem2 aja.

    Sebelnya, udah mulai ada anak2 yang tidak mau bermain bersama dg temen lain yang agamanya berbeda. ini bahaya banget.

    BalasHapus
  13. Sebenarnya radikalime literarry bagus lohh artinya mengajar, punya dasar. Kl kita menyetujui atau menolak sesuatu atas dasar pijakan argumentasi yg jelas masa' langsung dicap radikal, intoleran. Jadi menurut saya tergantung konteksnya juga, gak asal main stigma dan tuduh seseorang/sekelompok org intoleran.

    BalasHapus
  14. Sebenarnya radikalisme literarry bagus lohh artinya mengakar, punya dasar. Kl kita menyetujui atau menolak sesuatu atas dasar pijakan argumentasi yg jelas masa' langsung dicap radikal, intoleran. Jadi menurut saya tergantung konteksnya juga, gak asal main stigma dan tuduh seseorang/sekelompok org intoleran.

    BalasHapus
  15. betul banget tetap menjaga kerukunan antar umat agama dan suku lainnya di tanah ibu pertiwi ini, karena kita adalah bhineka tunggal ika berbeda" tetap bersatu dan satu tanah air Indonesia.. stop hoax, ujaran kebencian dan SARA

    BalasHapus
  16. Tulisan yang pas sekali dengan moment Haul Gus Dur yang ke 10 tahun. Al fatihah

    BalasHapus
  17. radikalisme itu bagus tapi arahnya yang menjadi masalah. Kemana itu arahnya?
    dan sayapun setuju sama bang doel. Yes

    Intoleransi itupun gak baik, tapi jika toleransi yang berlebihan gak baik pula.
    Semoga 2020 no SARA no HOAX

    BalasHapus
  18. Setuju semoga tahun 2020 no SARA no HOAX. Aman damai aja dan engga saling curiga.

    BalasHapus
  19. Ini memamg PR bersama. Hidup di Indonesia harus siap dengan keberagaman dan saling menjaga. Karena Allah memamg menciptakan kita berbeda2,.bersuku2, untuk saling mengenal. Bukan untuk bermusuhan.

    BalasHapus
  20. Jangan cemas dengan isu-isu yang saat ini sedang beredar, saat ini banyak sekali isu negatif kepada pemerintahan, berita hoax juga terus bertebaran.
    Kenapa jangan cemas, karena saya dan juga berharap kepada teman-teman semua jangan terlalu cemas, Selama ini Pak Jokowi masih dalam sekeliling para Ulama besar. Saya makin merasa tenang setelah Habib Lutfi mengabdi sebagai wantimpres.

    Insyaallah semua masih bisa diatasi.

    BalasHapus
  21. Intoleransi itu PR kita bersama
    Minat baca yang rendah serta mudahnya akses informasi via gadget menjadi selah satu penyumbang intoleransi. Kenapa? Ya, karena orang-orang mudah sekali terprovokasi saat membaca hanya sekilas tanpa mencari tahu kebenarannya dan melakukan cek n ricek

    Sedih banget
    Semoga kedepannya intoleransi makin berkurang bahkan hilang sama sekali
    Karena kita semua cinta damai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget! kemudahan yang didapat dari kemajuan teknologi belum bisa dimanfaatkan dengan baik, orang-orang kalo baca biasanya hanya menyimpulkan dari judulnya saja, padahal isinya itukan yang paling penting sehingga dapat memberikan kesimpulan yang tidak menyimpang.

      Hapus

Ikuti via email