Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Tantangan Kesehatan Mental Bagi Tenaga Medis di Masa Pandemi

Initentangpsikologi.com - Wabah virus corona yang menyebar di seluruh dunia tidak hanya berdampak pada masyarakat umum, tetapi juga petugas medis yang berada di garda terdepan melawan virus mematikan ini. Fakta yang tersedia menunjukkan bahwa mereka harus mempertaruhkan nyawa menangani pasien virus corona dengan risiko penularan yang sangat besar. 

Mereka pun harus hidup terpisah dengan keluarga dan orang tersayang selama berminggu-minggu untuk menghindari penularan virus lebih luas. Tak hanya itu, petugas medis juga harus menghadapi tekanan dan kekhawatiran karena keterbatasan alat perlindungan diri (APD). Belum lagi soal stigma di masyarakat. Situasi yang berat ini tentunya sangat berisiko terhadap kesehatan mental para petugas medis.

Kesehatan Mental Bagi Tenaga Medis di Masa Pandemi
Ilustrasi (pexels.com)

Terdapat beberapa patologi yang memiliki peluang untuk muncul di tengah-tengah tenaga kesehatan selama pandemi ini yaitu:

Moral Injury

Cedera moral, sebuah istilah yang berasal dari militer, dapat didefinisikan sebagai tekanan psikologis sebagai hasil dari tindakan yang melanggar kode moral atau etika seseorang. Tidak seperti kondisi kesehatan mental seperti depresi atau gangguan stres pasca-trauma, cedera moral bukan penyakit kejiwaan.

Tetapi mereka yang mengalami cedera moral cenderung mengalami pikiran negatif tentang diri mereka sendiri atau orang lain. Misalnya, “Saya seorang yang mengerikan bagi orang lain”, atau "Atasan saya tidak peduli dengan kehidupan orang lain”. Serta perasaan malu, bersalah, atau jijik.

Gejala-gejala ini dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan kesehatan mental, termasuk depresi, gangguan stres pasca-trauma, dan bahkan ide bunuh diri.

Moral injury telah dijelaskan dalam dunia medis. Di mana biasanya mahasiswa ataupun residen kesehatan merasa tertekan dan kurang layak saat mereka dihadapkan dengan kasus asli atau ditempatkan ke dalam pelayanan langsung. 

Dalam keadaan di Indonesia tenaga kesehatan belum mendapatkan dukungan yang seharusnya mereka dapatkan. Walaupun tidak semua tenaga kesehatan mungkin mengalami hal ini namun dapat dipastikan bahwa semua tenaga kesehatan sedang dalam keadaan berduka dan tertekan.

Baca Juga: Kondisi Penyintas OCD di Tengah Pandemi Covid-19

Extreme Stress

Dalam studi di sebuah jurnal Internasional yang berjudul “Impact of the COVID-19 Pandemic on Mental Health and Quality of Life among Local Residents in Liaoning Province, China. Terdapat sekitar 52,1% partisipan studi yang merasa ketidaknyamanan yang sangat besar, ketakutan atau ngeri dan juga gelisah. Studi ini dilakukan saat angka penyebaran covid-19 masih belum meluas dengan pesat sehingga sangat memungkinkan adanya kenaikan persentase bahkan munculnya symtom lain.

Tenaga kesehatan telah dilanda gelisah saat penyebaran pandemi sudah mulai meningkat. Terlebih lagi pada kenyataannya walaupun mereka telah melakukan segala cara agar benar-benar bersih setelah bertemu pasien, mereka masih dihujani stigma-stigma masyarakat. Tenaga kesehatan yang sudah memiliki keluarga di rumah pun merasakan ketakutan untuk pulang, mereka khawatir membawa hal yang tak diinginkan ke rumah.

Psikosomatis

Dalam semua kegelisahan dan ketakutan tenaga kesehatan pada saat ini, menurut saya patologi yang paling memungkinkan muncul pada individu adalah psikosomatis. Psikosomatis bisa terjadi karena kegelisahan mereka serta kecemasan mereka yang akhirnya membuat mereka berpikir mereka mengalami hal-hal tersebut.

Hal Lainnya Dalam artikel ilmiah berjudul “Mental health of medical workers in Pakistan during the pandemic COVID-19 outbreak” dijelaskan bahwa kondisi sekarang bisa memicu beberapa patologi lainnya untuk tenaga kesehatan seperti anxiety, panic attacks, posttraumatic stress symptoms, psychological distress, stigma and avoidance of contact, depressive tendencies, sleep disturbances, helplessness, interpersonal social isolation dari keluarga dan concern regarding contagion exposure terhadap teman serta keluarga mereka.

Baca Juga: Mengatasi Stres Pada Siswa di Masa Pandemi Covid-19

Penanganan

Pekerja kesehatan dan profesional yang bekerja di bawah lingkungan stres tinggi rata-rata menunjukkan respons emosional dan perilaku secara alami adaptif dalam menghadapi stres yang ekstrem (tidak dapat diprediksi dan tidak pasti), dan dengan demikian konseling dan psikoterapi berdasarkan model adaptasi stres mungkin lebih baik diberikan sejak dini dan cepat.

Mengatasi masalah kesehatan mental pada pekerja medis sangat penting untuk pencegahan dan pengendalian pandemi yang lebih baik (Banerjee, 2020). Petugas medis biasanya dirotasi di dalam provinsi negara bagian untuk merawat kasus yang dikonfirmasi atau diduga, memperkuat dukungan logistik, dan mengurangi tekanan pada petugas layanan kesehatan.

Dalam kasus seperti itu, media online dan elektronik menyiarkan saran medis tentang bagaimana mencegah risiko penularan antara pasien dan pekerja medis dalam pengaturan medis dapat mengurangi tekanan pada pekerja medis.

Rencana intervensi krisis psikologis terperinci harus dikembangkan: 

a) dengan membangun tim medis intervensi kesehatan mental untuk memberikan konseling online untuk kesadaran akan dampak psikologis peristiwa- peristiwa stres untuk memandu pekerja medis, 

b) dan intervensi hotline bantuan psikologis bagi pekerja medis untuk membahas masalah psikologis mereka dengan tim praktisi kesehatan mental yang terlatih dan terspesialisasi.

Rumah sakit dalam hal ini harus sering menyediakan sistem shift, jaminan makanan dan persediaan hidup, menawarkan pelatihan pra-kerja untuk mengatasi identifikasi dan respons terhadap masalah psikologis pada pasien, keluarga, dan diri mereka sendiri.

 

Penulis: Hasni Dinul Hikmah

Posting Komentar untuk "Tantangan Kesehatan Mental Bagi Tenaga Medis di Masa Pandemi"

Ikuti via email