Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kesehatan Mental Pekerja Dari Rumah

Initentangpsikologi.com - Saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja karena diserang oleh virus yang bernama Covid-19. Virus ini menyerang sistem pernapasan dan infeksi terhadap paru-paru. Virus ini menyebar dengan sangat cepat dan berbahaya. Dampak terberat dari virus ini adalah kematian. 

 

Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kesehatan Mental Pekerja Dari Rumah
(Pexels.com)

Setiap hari diseluruh dunia semakin banyak manusia yang terpapar Covid-19. Angka kematian diseluruh dunia pun meningkat, termasuk Indonesia. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menghilangkan virus ini, tetapi sampai sekarang belum ada satu pun manusia di seluruh dunia yang menemukan vaksin dari virus covid-19.

Untuk penanggulangan semakin banyaknya yang terpapar Covid-19, pemerintah diseluruh dunia memerintahkan semua warganya untuk melakukan semua aktivitasnya di rumah guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Pemerintah memberikan aturan agar semua warga bekerja dari rumah, sekolah dan kuliah dari rumah, dan beribadah dari rumah.

Sistem ini diterapkan dengan waktu perubahan yang singkat. Semua manusia dipaksa untuk siap dengan keadaan dan sistem yang berubah secepat ini.

Baca Juga: Bahaya Self Diagnosis Terhadap Kesehatan Mental

Kerja Dari Rumah Rentan Mengalami Stres

Efek dari pandemi ini sangat dirasakan oleh semua pekerja. Hampir semua perusahaan menerapkan sistem work from home, tetapi terdapat sebagian perusahaan yang tidak mendukung sistem kerja work from home. Pekerja yang melakukan work from home diperintahkan untuk langsung melakukan pekerjaan seperti biasanya dengan sistem yang berubah menjadi serba online, sedangkan mereka pun membutuhkan adaptasi terlebih dahulu dengan sistem kerja yang baru.

Banyak pekerja yang mengalami stress dengan perubahan sistem kerja mereka yang sekarang. Sehingga hasil dari kinerja yang mereka lakukan sedikit banyak mengalami perubahan.

Pola hidup yang berubah dengan begitu cepat dapat mempengaruhi kesehatan mental para pekerja. Dengan sistem work from home di mana mereka mengerjakan semua pekerjaan kantor di rumah mereka masing-masing sangat berpengaruh besar terhadap menurunnya kesehatan mental mereka.

Rumah yang setiap harinya menjadi tempat pelepas penat setelah seharian bekerja di kantor kini telah berubah menjadi tempat mereka menumpuk penat kembali. Tempat bekerja dan beristirahat mereka bercampur menjadi satu di dalam ruangan membuat mereka kerap tidur dengan tidak tenang. Fisik mereka beristirahat tetapi pikiran mereka masih terbawa dengan apa yang mereka kerjakan sebelumnya.

Keadaan seperti ini sangat rawan terjadinya stress dan meningkatnya tingkat kecemasan seseorang karena waktu istirahatnya berkurang dan tekanan terus masuk dalam dirinya. 

Baca Juga: Strategi Produktif Selama di Rumah Aja

Pikiran Terbagi Antara Kerja dan Keamanan Dari Paparan Virus

Disamping memikirkan pekerjaan mereka, para pekerja pun juga memikirkan keamanan diri mereka sendiri dari Covid-19. Pola hidup mereka berubah seketika dari yang bebas kemanapun dan bebas untuk bertemu dengan orang lain menjadi terkurung di dalam rumah karena social distancing.

Anjuran-anjuran dari pemerintah juga harus mereka lakukan seperti social distancing, physical distancing, cuci tangan secara rutin, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, berolahraga secara rutin, dan lainnya.

Hal-hal tersebut dapat menyebabkan naiknya tingkat kecemasan dan rasa panik seseorang muncul karena mereka khawatir akan salah dalam melakukan anjuran-anjuran tersebut. Mau bagaimanapun semua memang membutuhkan adaptasi agar dapat menyesuaikan kehidupan saat ini. 

Permasalah Finansial

Selain dampak kesehatan yang semakin mengancam pada saat pandemi. Hal lain yang muncul dalam kehidupan manusia adalah masalah keuangan. Tidak dipungkiri bahwa saat pandemi seperti ini semua sektor industri mengalami penurunan pendapatan. Hal ini berakibat terhadap nasib para pekerja pada suatu perusahaan. Bagi perusahaan yang masih dapat mempertahankan usaha nya, semaksimal mungkin akan berusaha mempertahankan para pekerjanya walaupun dengan sistem work from home.

Tetapi bagi perusahaan yang omset usaha nya menurun drastis maka mereka akan mengurangi jumlah pekerja nya yang berarti angka pengangguran akan semakin meningkat. Akibatnya akan menimbulkan kecemasan yang bukan lagi jangka pendek namun juga kecemasan untuk menghadapi kehidupan mendatang. Mereka khawatir apabila tidak mendapatkan pekerjaan lagi setelah di rumahkan sedangkan kebutuhan hidupnya terus berjalan setiap hari.

Peran Ganda Pekerja yang Mempunyai Anak

Para pekerja wanita yang sudah mempunyai anak mempunyai tingkat stres yang lebih tinggi karena mereka harus melakukan peran ganda sebagai ibu dan pekerja selama sistem work from home. Di satu sisi mereka dituntut oleh perusahaan bekerja secara professional walaupun kerja dari rumah dan harus menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Di sisi lain ketika di rumah mereka adalah seorang ibu bagi anak-anaknya, di mana mereka akan mengurus sang buah hati secara penuh ketika di rumah.

Pandemi seperti ini semua sektor diwajibkan melaksanakan kegiatan di rumah termasuk anak-anak yang sekolah. Setiap hari anak-anak akan belajar dari rumah didampingi oleh orang tua nya masing-masing. Keadaan seperti itu sangat memberatkan bagi ibu dan pekerja yang work from home. Mereka harus membagi waktunya untuk bekerja dan mendampingi anaknya sekolah dari rumah.

Pekerjaan mereka tak hanya sampai di sana saja, mereka juga harus melakukan pekerjaan rumah. Belum lagi jika anaknya lebih dari satu dan semua nya sekolah dari rumah, mereka akan semakin stres dan tertekan apabila tidak ada yang membantunya.

Keadaan seperti ini seharusnya suami ikut andil dalam membantu dan membagi tugas rumah dengan sang istri sehingga tidak semua beban jatuh ke pundak sang istri. Ibu juga harus pandai dalam membagi waktu untuk work from home dan mendampingi anaknya sekolah dari rumah.

Baca Juga: Perlunya Layanan Kesehatan Mental Bagi Siswa

Emosi yang Meningkat

Emosi yang muncul ketika keadaan yang tidak kondisional seperti yang dirasakan oleh seorang ibu sekaligus pekerja yang melaksanakan sistem work from home sangatlah bermacam-macam. Pada saat mereka tertekan dengan peran ganda, mereka akan mengeluarkan emosi negatif baik untuk dirinya maupun lingkungan sekelilingnya. Mereka harus bisa mengatur emosi yang ada pada diri mereka sendiri. Karena tingkat emosi akan mempengaruhi kebahagiaan mereka dalam menjalani perannya sebagai dualisme. Maka dari itu mengolah emosi sangat penting untuk kesehatan mental dalam keadaan pandemi seperti ini.

Sedikit saran untuk para pekerja yang work from home, sebaiknya dipisahkan antara tempat bekerja dan tempat istirahat. Jangan biarkan tempat istirahatmu dijadikan tempat bekerja juga. Karena apabila kedua tempat itu masih menyatu, pikiran kita tidak dapat membedakan waktu bekerja dan waktu istirahat. Hal itu mengakibatkan pikiran akan terus menerus bekerja walaupun sebenarnya kita sedang istirahat.

Bangun tidur yang seharusnya dapat menyegarkan badan akan menjadi suram karena pikiran-pikiran sebelum tidur belum terselesaikan dan ketika membuka mata yang diingat langsung pekerjaan karena tempat istirahat dan tempat bekerja berada di satu tempat yang sama.

Tidak ada yang tahu kapan masa work from home akan berakhir. Mengingat masyarakat yang terpapar virus Covid-19 setiap harinya masih tinggi. Selama masa pandemi masih menghantui kita, kita harus terus beradaptasi agar kesehatan jiwa kita tetap baik. Hal itu dapat dilakukan dengan menyaring setiap emosi yang masuk ke dalam diri kita. 

Jauhkan emosi-emosi negatif yang masuk ke dalam diri kita. Apabila sudah lelah dengan keadaan, rehatlah jangan dipaksakan untuk kuat. Karena setiap manusia membutuhkan waktu rehat untuk memulai kembali kehidupannya esok agar lebih baik.

 

Referensi Bacaan:

1) Chodijah, M., Nurjannah, D. S., Yuliyanti, A. Y., & Kamba, M. SEFT sebagai terapi mengatasi kecemasan menghadapi Covid-19. Karya Tulis Ilmiah LPPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

2) Marliani, R., Nasrudin, E., Rahmawati, R., & Ramdani, Z. Regulasi emosi, stres, dan kesejahteraan psikologis: Studi pada ibu work from home dalam menghadapi pandemi COVID-19. Karya Tulis Ilmiah LP2M UIN SGD Bandung.

3) Mustajab, D., Bauw, A., Rasyid, A., Irawan, A., Akbar, M. A., & Hamid, M. A. Fenomena Bekerja dari Rumah sebagai Upaya Mencegah Serangan COVID-19 dan Dampaknya terhadap Produktifitas Kerja Working from Home Phenomenon as an Effort to Prevent COVID-19 Attacks and Its Impacts on Work Productivity.

 

Penulis : Intan Mahdiana Firdaus

Posting Komentar untuk "Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kesehatan Mental Pekerja Dari Rumah"

Ikuti via email