Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Perkembangan Bermain ditinjau dari Aspek Sosial Menurut Mildred Parten

Initentangpsikologi.com - Menurut Mildred Parten salah seorang ahli psikologi anak, menyoroti kegiatan bermain sebagai salah satu sarana sosialisasi dan sebagai bentuk kegiatan untuk melihat perkembangan interaksi sosial pada anak. 

Jenis Permainan Menurut Mildred Parten
Ilustrasi (pexels.com)

Mildred Parten juga mengemukakan bahwa terdapat 6 jenis permainan anak. Penelitian Parten ini meninjau permainan anak yang dilihat dari sisi tingkah laku sosial, yaitu sebagai berikut:

a. Unoccupied Play (Permainan bebas)

Di mana Anak bermain dengan gerakan yang acak dan tanpa tujuan jelas, biasanya permainan jenis ini dilakukan oleh anak mulai usia 0 - 1,5 tahun. Ya, anak seusia tersebut tentu belum mengerti betul mengenai permainan. Ketika diberikan bola akan dilempar, namun saat ia diberikan mobil atau robot pun bisa jadi akan dilempar juga. 

b. Solitary Play (Bermain Sendiri)

Anak sibuk atau asyik bermain sendiri dan tidak memperhatikan kehadiran anak-anak lain di sekitarnya. Anak lain baru dirasakan kehadirannya apabila anak tersebut mengambil alat permainannya (Egosentris).

Misalanya seorang anak sedang bermain menumpuk balok sementara yang lainnya sedang bermain puzzle dan lego, maka dia tidak peduli dengan yang dilakukan anak lain. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak usia 3 tahun.

Baca Juga: Manfaat Bermain Terhadap Perkembangan Anak Menurut Psikoanalisa

c. Onlooker Play (Pengamatan)

Kegiatan bermain dengan mengamati anak-anak lain yang sedang melakukan kegiatan bermain. Ia asyik mengamati anak lain yang sedang melakukan permainan. Ya meskipun ada kalanya timbul rasa minat terhadap kegiatan anak lain yang sedang ia amati tersebut.

Misalnya: Melihat anak bermain sepakbola, bermain petak umpet, bermain lompat tali dan lainnya.

d. Paralel Play (Bermain Paralel)

Seiring berjalannya waktu anak akan mengalami peralihan dari masa bermain sendiri kemudian bermain bersama teman-temannya. Namun dalam permainan paralel ini tampak anak bermain dengan temannya melakukan kegiatan yang sama secara sendiri-sendiri di waktu dan tempat yang sama.

Jadi tampak dua anak atau lebih sedang bermain dengan jenis, alat atau permainan yang sama dan melakukan gerakan atau kegiatan yang sama tetapi bila di perhatikan tidak ada interaksi di antara mereka.

Misalnya anak yang sedang bermain mobil-mobilan. Anak tersebut belum mampu memahami atau berbagi rasa dan kegiatan dengan anak lain. Jadi ada 3 anak dan 3 mobil, yang seharusnya mereka bisa bermain bersama misalnya balapan mobil namun mereka akan bermain sendiri-sendiri. Anak yang satu memainkan mobil di lantai, satunya lagi di tembok, satunya lagi di tanah. Kurang lebih seperti itulah contohnya.

Kemudian contoh kedua ada beberapa anak bermain puzzle, suatu ketika salah satu anak meninggalkan puzzle-nya padahal dia belum selesai menyusunnya. Lalu ada anak lain (yang sama-sama main puzzle) meneruskan menyusun puzzle yang belum selesai tadi dan untuk menyelesaian puzzle milik temennya tadi dia melakukannya tanpa ada perintah yang diberikan anak tersebut (pemilik puzzle-nya yang belum selesai). Jadi kesannya sih seperti permainan kerjasama (ada interaksi atau komunikasi antar anak) padahal tidak.

Baca Juga: Teori Rekapitulasi Berkaitan dengan Kegiatan Bermain Anak

e. Associative Play (Bermain Asosiatif)

Adanya interaksi antar anak yang sedang bermain, saling tukar alat permainan tetapi bila di amati akan tampak masing-masing anak sebenarnya tidak terlibat dalam kerja sama. 

Misalnya anak yang sedang menggambar, saling berbagi pensil warna, saling memberi komentar terhadap gambar masing-masing, namun sebenarnya kegiatan menggambar dilakukan sendiri-sendiri.

f. Cooperative Play (Bermain bersama)

Adanya kerja sama atau pembagian tugas dan pembagian peran antar anak-anak yang terlibat dalam permainan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Kegiatan bermain tersebut terlihat adanya peningkatan kadar interaksi sosial, mulai dari kegiatan bermain sendiri sampai bermain bersama.

Misalnya seperti estafet bendera, balapan karung, lompat tali, sepakbola, dan lainnya.

 

Penulis: Ranggita Marsuma Lantin (1707016110)

Posting Komentar untuk "Perkembangan Bermain ditinjau dari Aspek Sosial Menurut Mildred Parten"