Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Teori, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Realitas

Initentangpsikologi.com - Sebagai makhluk hidup, manusia tentunya tidak dapat terlepas dari masalah. Cara setiap individu untuk menyelesaikan masalahnya tidak selalu sama dengan individu yang lain. Salah satu alternatif dalam dunia psikologi untuk mencari solusi bagi permasalahan yang dialami adalah dengan konseling.

Pendekatan Konseling Realitas
Ilustrasi (pexels.com)

Konseling merupakan sebuah proses interaksi dua arah antara konselor sebagai pendengar sekaligus seseorang yang membantu orang lain dalam mencari alternatif penyelesaian suatu permasalahan. Kemudian konseli sebagai individu yang membutuhkan bantuannya (konselor).

Konselor adalah seseorang yang telah menempuh pendidikan, memiliki pengetahuan, dan etika yang diperlukan dalam proses konseling. Tugas konselor dalam konseling salah satunya adalah membantu konseli dalam memahami dan mencari jalan keluar dalam penyelesaian permasalahannya.

Setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang harus terpenuhi. Hal tersebut adalah salah satu alasan yang mendasari munculnya pendekatan realitas dalam konseling. Pendekatan realitas pada pengertian dan penerapannya diharapkan mampu membuat setiap individu menyadari betapa pentingnya kebutuhan untuk mencintai, dicintai, serta kebutuhan untuk merasa berharga bagi orang lain.

Sebagai sebuah ilmu yang cukup dinamis perkembangannya, eksisntensi psikologi mengambil andil besar dalam mendeskripsikan suatu keadaaan dan kejadian yang sering kali dialami oleh manusia. Tidak melulu kasus yang berhubungan dengan hukum dan kriminal, pendidikan dan kemasyarakatan yang ditinjau ilmu psikologi mencakup juga persoalan konseling.

Baca Juga: Konseling dengan Pendekatan Behavioristik

Teori dan Pendekatan Konseling dari Realitas

Konseling Menurut Aliran Realitas

Tokoh dalam teori ini adalah William Glasser, seorang insinyur kimia sekaligus psikiater pada tahun 1950-an. Kehadiran konseling realitas di dunia konseling tidak terlepas dari pandangan psikoanalisis di mana Glasser menganggap bahwa aliran Freud tentang dorongan harus diubah dengan landasan teori yang lebih jelas. 

Menurut Glasser, psikiatri konvensional kebanyakan berlandaskan pada asumsi yang keliru sehingga dari pengalamanya sebagai seorang psikiatri mendorong Glasser melahirkan konsep baru yang dikenalkannya pada tahun 1964 sebagai konseling realitas.

Konseling realitas ini berfokus pada tingkah laku sekarang dan menolak masa lampau sebagai variabel utama. Pendekatan terapi realitas ini juga menolak model medis dan konsep tentang penyakit mental, tetapi lebih berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang dan mempertimbangkan nilai dan tanggung jawab moral yang ditentukan.

Pada terapi realitas, terapis (konselor) berfungsi sebagai guru dan model serta menkonfrontasikan klien dengan terapi realitas. Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Dalam konseling realitas individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi individu adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan.

Konselor dalam konseling realitas bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal penting sebagai kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri.

Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Konseling realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konseling realitas dapat dikatakan sebagai suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Sehingga hal tersebut dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah dalam rangka mengembangkan dan membina kepribadian atau kesehatan mental konseli/siswa secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada yang bersangkutan.

Baca Juga: Konseling Psikoanalisa - Pengertian, Tujuan, Hubungan, Teknik, dan Tahapan Konseling Psikoanalisa

Keunikan Aliran Konseling Realitas

William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Menurutnya, hakikat manusia adalah:

1. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal, yang hadir di seluruh kehidupannya, sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya.

2. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses.

3. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri.

Keunikan Terapi Realitas

Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapis untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun.

Terapi Realitas lebih menekankan masa kini, maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.

Baca Juga: Konseling Individu - Pengertian, Prinsip, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu

Tahapan Konseling Realitas

Proses konseling dalam pendekatan realitas berpedoman pada dua unsur utama, yaitu penciptaan kondisi lingkungan yang kondustif dan beberapa prosedur yang menjadi pedoman untuk mendorong terjadinya perubahan pada konseli. Secara praktis, Thompson,et.al., mengemukakan delapan tahap dalam konseling realitas yaitu:

a. Tahap pertama. Konselor menunjukkan keterlibatan dengan klien (be friend);

Pada tahap pertama, konselor mengawali pertemuan dengan bersikap otentik, hangat dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang dibangun. Konselor harus dapat melibatkan diri pada konseli dengan memperlihatkan sikap hangat dan ramah. Hubungan yang terbangun antara konselor dan konseli sangat penting, sebab konseli akan terbuka dan bersedia menjalani proses konseling jika dia merasa bahwa konselornya bersahabat dan dapat di percaya.

Oleh karena itu, penerimaan yang positif sangat esensial agar proses konseling berjalan efektif. Menunjukkan keterlibatan dengan konseli dapat ditunjukan dengan perilaku attending. Perilaku ini bisa berupa kontak mata (menatap konseli), ekspresi wajah (menunjukkan minat untuk mendengarkan klien), duduk dengan sikap dan diarahkan ke konseli, melakukan respon refleksi, memperhatikan perilaku nonverbal konseli, dan melakukan respon parafrase. Intinya, konselor harus menunjukkan sikap yang bersahabat.

Pada tahap awal, umumnya konseli menunjukkan tidak membutuhkan bantuan konselor, terlebih bila konseli tidak datang dengan sukarela. Meskipun konseli menujukkan ketidak senangan, marah, atau bersikap yang tidak berkenan dan sebagainya. Konselor harus tetap menujukakan sikap ramah dan sopan, tetap tenang, dan tidak mengintimidasi konseli.  

Kalimat yang diungkapkan juga mengekspresikan apa yang sedang dirasakan oleh konseli pada saat itu, selain itu menujukan kekuatan dan fleksibilitas konseli, bukan kelemahan dan kekakuan konseli. Mengapa? karena pada dasarnya konseli bukan sedang marah kepada konselor.

Oleh karena itu, respon konselor harus mengandung muatan bahwa ia sedang menyampaikan:

terkadang marah bukanlah sebuah kesalahan, sebab dalam keadaan tertentu, marah kadang-kadang menjadi pilihan.

b. Tahap kedua. Fokus pada perilaku sekarang;

Pada tahap kedua, setelah konseli dapat melibatkan diri kepada konselor, maka konselor menanyakan kepada konseli apa yang akan dilakukan sekarang. Tahap kedua ini merupakan eksplorasi diri bagi konseli. 

Konseli mengungkapkan ketidak nyamanan yang ia rasakan dalam menghadapi permasalahannya. Secara rinci, tahap ini meliputi: Eksplorasi “picture album” (keinginan) kebutuhan, dan persepsi; dan menanyakan keinginan-keinginan konseli.

Baca Juga: Sejarah Munculnya Konseling Behavioral

c. Tahap ketiga. Mengekplorasi total behavior klien;

Pada tahap ketiga, menanyakan apa yang dilakukan konseli (doing) saat menghadapi masalah. Jadi, konselor menanyakan secara spesifik apa saja yang dilakukan konseli.

Misalkan, akar permasalahan konseli mengungkapkan bahwa setiap kali menghadapi ujian ia mengalami kecemasan yang luar biasa. Dalam pandangan konseling realitas, yang harus diatasi bukanlah kecemasan dari konseli, tetapi hal-hal apa saja yang telah dilakukan konseli untuk menghadapi ujian. (karena jika ia sudah bersiap menghadapi ujian dengan belajar mungkin rasa cemas tidak terlalu dirasa, tapi jika sebaliknya ia tidak mempersiapkan diri maka wajarlah rasa cemas berlebihan itu muncul).

d. Tahap keempat. klien menilai diri sendiri atau melalukan evaluasi;

Memasuki tahap keempat, konselor menanyakan kepada konseli bahwa yang dilakukan tidak untuk menilai benar atau salahnya perilaku konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi, apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut.

Pada tahap ini, respon-respon konselor di antaranya menanyakan apakah yang dilakukan konseli dapat membantunya keluar dari permasalahan atau sebaliknya. Konselor menanyakan kepada konseli apakah pilihan perilakunya itu didasari oleh keyakinan bahwa hal tersebut baik baginya. Fungsi konselor tidak untuk menilai benar atau salah perilaku konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini.

Beri kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi, apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut. Kemudian bertanya kepada konseli: 

Apakah pilihan perilakunya dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan konseli saat ini?

Menanyakan apakah konseli akan tetap pada pilihannya? 

Apakah hal tersebut merupakan perilaku yang dapat diterima, apakah realitas, apakah benar-benar dapat mengatasi masalahnya? 

Apakah keinginan konseli realistis atau dapat terjadi/dicapai? 

Bagaimana konseli memandang pilihan perilakunya, sehingga konseli dapat menilai apakah hal tersebut cukup membantunya, dan menanyakan komitmen konseli untuk mengikuti proses konseling.

Baca Juga: Konseling Kelompok - Definisi, Tahapan, Tujuan, Kelebihan dan Kelemahan Konseling Kelompok

e. Tahap kelima. Merencanakan tindakan yang bertanggung jawab;

Tahap ketika konseli mulai menyadari bahwa perilakunya tidak meyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan dirinya. Maka konseling dilanjutkan dengan membuat perencanaan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Rencana yang disusun sifatnya spesifik dan konkret. Hal-hal apa yang akan dilakukan konseli untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya.

f. Tahap keenam. Membuat komitmen;

Konselor mendorong konseli untuk merealisasikan rencana yang telah disusunnya bersama konselor sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan.

g. Tahap ketujuh. Tidak menerima permintaan maaf atau alasan konseli;

Konseli akan bertemu kembali dengan konselor pada batas waktu yang telah disepakati bersama. Pada tahap ini konselor menanyakan perkembangan perubahan perilaku konseli.

Apabila konseli tidak atau belum berhasil melakukan apa yang telah direncanaknnya, permintaan maaf konseli atas kegagalannya tidak untuk dipenuhi konselor. Sebaliknya, konselor mengajak konseli untuk melihat kembali rencana tersebut dan mengevaluasinya mengapa konseli tidak berhasil.

Konselor selanjutnya membantu konseli merencanakan kembali hal-hal yang belum berhasil ia lakukan. Pada tahap ini sebaiknya konselor menghindari pertanyaan dengan kata "Mengapa" sebab kecenderungannya konseli akan bersikap defensive dan menncari-cari alasan.

Kondisi: Pada waktu yang telah disepakati (dua minggu setelah sesi sebelumnya) konseli datang menemui konselor. Dalam proses konseling ia bercerita bahwa dalam waktu dua minggu ini ia tetap cemas ketika jam pelajaran matematika karena tidak dapat menjawab soal-soal latihan yang diberikan guru.

Contoh respon yang salah:

Konseli: "Saya tetap merasa cemas saat pelajaran matematika, pelajarannya sulit …"

Konselor: "Mengapa kamu merasa sulit?"

Konseli: "Saya tidak pernah sempat untuk belajar karena PR saya banyak Bu …"

Contoh respon yang benar:

Konseli : "Saya tetap merasa cemas saat pelajaran matematika, pelajarannya sulit …"

Konselor: "Kamu bisa menceritakan kepada saya hal-hal yang menghambat kamu tetap merasa sulit?"

Pada tahap ini, konselor juga tidak memberikan hukuman, mengkritik dan berdebat, tetapi hadapkan konseli pada konsekuensi. Menurut Glasser, memberikan hukuman akan mengurangi keterlibatan konseli dan menyebabkan ia merasa lebih gagal. Saat konseli belum berhasil melakukan perubahan, hal itu merupakan pilihannya dan ia akan merasakan konsekuensi dari tindakannya. Konselor cukup memberi pemahaman pada konseli, bahwa kondisinya akan membaik jika ia bersedia melakukan perbaikan itu. Selain itu, konselor jangan mudah menyerah.

Proses konseling yang efektif antara lain ditunjukkan dengan seberapa besar kegigihan konselor untuk membantu konseli. Ada kalanya konseli mengharapkan konselor menyerah dengan bersikap pasif, tidak kooperatif, marah atau apatis. Namun pada tahap inilah konselor dapat menunjukkan bahwa ia benar-benar terlibat dan ingin membantu konseli mengatasi permasalahannya. Kegigihan konselor dapat memotivasi konseli untuk bersama-sama memecahkan masalah.

h. Tahap kedelapan. Tindak lanjut.

Merupakan tahap terakhir dalam konseling realitas. Konselor dan konseli mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir atau dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum tercapai.

Baca Juga: Konseling Eklektik - Definisi, Tujuan, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Eklektik

Kelemahan dan Kelebihan Konseling Realitas

Kelebihan

Karakteristik pendekatan konseling realitas secara khusus menekankan pada pertanggungjawaban. Aspek lain dari pendekatan konseling realitas yang disokong Corey (1985) termasuk ide-idednya yang tidak menerima alasan dari gagalnya pelaksanaan kontrak dan menghindari hukuman atau menyalahkan.

Keterbatasan

Dianggap terlalu sederhana dan dangkal. Diakui bahwa kritik pendekatan konseling realitas memang berkaitan dengan hal tersebut. Glasser juga menyetujui bahwa delapan tahap dari pendekatan konseling realitas adalah sederhana karena lebih menekankan pada praktek dan tidak pada materi yang sederhana.

Kesimpulan

Konseling realitas ini berfokus pada tingkah laku sekarang dan menolak masa lampau sebagai variabel utama. Pendekatan terapi realitas ini juga menolak model medis dan konsep tentang penyakit mental, tetapi lebih berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang dan mempertimbangkan nilai dan tanggung jawab moral yang ditentukan.

Konseling Realitas dapat dikatakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli, yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah dalam rangka mengembangkan dan membina kepribadian atau kesehatan mental konseli secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan.

 

Daftar Pustaka:

Namora, Lumongga Lubis. Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktek. Medan: KENCANA PRENADA.

Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Farid, Mashudi. 2013. Psikologi Konseling. Jogjakarta. Penerbit Ircisod.

Posting Komentar untuk "Teori, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Realitas"

Ikuti via email