Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tahap Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Piaget

Tahap Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Piaget

Sensory Motor Play

Sensory Motor Play yaitu tahap perkembangan bermain yang paling awal yakni dari lahir sampai dengan usia sekitar dua tahun. 

Kegiatan anak pada tahap sensori-motor sebenarnya merupakan gerakan lanjutan dari kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya dari kegiatan hidupnya seperti menghisap, menangis, bermain dengan lidah dan mulutnya. Kegiatan itu hanya mengulangi apa yang menjadi aktivitas sebelumnya yang berlangsung terus menerus, Piaget menyebutnya reproductive assimilation.

Anak bergerak menurut indra yang dimilikinya yang dimulai dari gerakan kebetulan dan selanjutnya diulang-ulang karena merasa senang. Misalnya tangan bergerak sembarangan dan menyentuh benda (lonceng) yang ada di atasnya dan berbunyi. Maka anak akan tertarik dan kemungkinan besar diulangi lagi gerakan semacam itu yang akhirnya menjadi gerakan yang disengaja.

Semakin mendekati usia dua tahun anak semakin sadar akan gerakannya untuk beraktivitas sesuai dengan kemauan yang menyenangkan. Selain itu mampu bergerak secara terkoordinasi dengan baik walaupun belum benar-benar sempurna. Misalnya dalam berlari, melompat, menendang, melempar, memukul, dan sebagainya.

Contoh, anak menemukan kaleng bekas susu kemudian ditendang atau dipukul ternyata menimbulkan bunyi sehingga hal itu akan diulang-ulang. Bahkan anak tersebut akan menendang atau memukul dari berbagai sudut, ternyata menimbulkan bunyi yang berbeda-beda. Selanjutnya anak akan memulai penjelajahan yang sistematik terhadap lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Anak

Symbolic atau Make Belive Play

Tahap Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Piaget
Ilustrasi (pexels.com)

Symbolic atau Make Belive Play merupakan tahapan bermain pra operasional yang terjadi pada anak usia sekitar 2 sampai 7 tahun. Ciri-cirinya anak mampu melakukan kegiatan bermain pura-pura atau bermain khayal dan anak mulai mengenal simbol dari benda lain secara representatif. Kejadian yang sering terjadi pada tahap ini antara lain:

a. Secara bertahap anak mulai mengenal bahasa dengan baik dan banyak kosa kata baru yang diperoleh pada saat bermain. Bahkan seringkali bertanya mengani apa saja dan kepada siapa saja tanpa menghiraukan jawabannya atau bahkan ia jawab sendiri.

b. Anak pada masa ini mempunyai keingintahuan yang luar biasa sehingga selalu bereksplorasi di lingkungan sekitarnya. Ia akan belajar terus menerus dari pengalaman eksplorasinya atau percobaannya. Ia juga akan mencoba memanipulasi benda-benda di sekitarnya agar memperoleh pengalaman lebih banyak lagi.

c. Anak pada tahap ini mulai mampu menggunakan berbagai benda di sekitarnya sebagai simbol atau pengganti benda yang sesungguhnya dalam aktivitas bermainnya.

Sebagai contoh anak-anak perempuan menggunakan daun dengan berbagai ukuran untuk mengganti atau sebagai simbol uang dalam bermain pasar-pasaran. Anak laki-laki memainkan balok kayu sebagai simbol mobil-mobilan, dan lain sebagainya.

d. Dalam aktivitas bermain, tahap ini anak semakin mampu untuk bermain secara konstruktif atau realistis dalam arti lebih mendekati kenyataan. Hal ini berarti bermain merupakan latihan berfikir dan mengarahkan anak untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata di lingkungannya.

Misalnya anak bermain peran tertentu dalam kehidupan masyarakat seperti berperan sebagai guru, dokter, pedagang sayuran, petani, ketua RT, presiden, tukang jahit dan lain sebagainya.

Baca Juga: Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Sosial Menurut Mildred Parten

Social Play Games With Rules

Social Play Games With Rules yaitu bentuk permainan dengan peraturan yang berhubungan dengan perilaku sosial. Ini berlangsung pada anak usia sekitar 7 sampai 11 tahun yang dikenal pula dengan permainan konkret operasional.

Anak-anak seusia ini sudah mampu menggunakan akal pikiran atau penalaran atau logika yang obyektif dalam aktivitas bermain. Hal ini terkait dengan taktik dan strategi permainan untuk aktivitas bermain yang disesuaikan dengan peraturan permainannya.

Peraturan permainan disesuaikan dengan kemampuan anak-anak dalam arti peraturan yang sederhana atau mungkin merupakan kesepakatan anak-anak saja sehingga mereka dengan sukarela menaati aturan tersebut. Contohnya permainan petak umpet, peraturannya yang ketemu maka dia jaga.

Baca Juga: Definisi Kegiatan Bermain

Games With Rules and Sports

Games With Rules and Sports pada anak usia 11 tahun ke atas, anak semakin menyenangi suatu games dengan peraturan sederhana dan olahraga. Bermain dengan peraturan lebih disenangi anak karena ada unsur kompetitifnya yang memberikan penghargaan tinggi kepada anak-anak yang sukses dalam permainan tersebut. 

Selanjutnya olahraga merupakan permainan dengan suatu peraturan yang baku juga semakin disenangi anak-anak. Pada masa ini dengan alasan yang hampir sama dengan games tersebut, sehingga anak-anak akan selalu ingin melakukan berulang-ulang untuk memperoleh kesenangan.

Teori perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, dan teman.

Bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.

Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia. 

Namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya.

Baca Juga: Manfaat Bermain Terhadap Perkembangan Anak Menurut Psikoanalisa

Tahap Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Rubin, Fein, Vandenberg, dan Smilansky

Bermain Fungsional (Functional Play)

Bermain fungsional (Functional Play) biasanya terjadi pada anak usia 1-2 tahun dengan cirri-cirinya beraktivitas sederhana, menyenangkan dan dilakukan berulang-ulang. Aktivitas bermain pada masa ini dapat dilakukan dengan alat atau tanpa alat permainan.

Misalnya: bermain dengan berlari mengelilingi ruang tamu atau dapur, mendorong atau menarik kursi plastik, berguling-guling di tempat tidur, memukul-mukul bantal, lompat-lompat di sofa, mengolah lilin atau bermain pasir atau tanah tetapi tidak bermaksud membuat bentuk apapun dalam artian bentuk sembarang.

Melalui bermain fungsional anak-anak semakin menyadari akan fungsi tubuh atau anggota tubuhnya dalam beraktivitas sehari-hari.

Bermain Bangun-Membangun (Constructive Play)

Kegiatan bermain bangun-membangun terjadi pada anak-anak pra-sekolah sekitar usia 3-6 tahun. Anak-anak sudah mampu menciptakan sesuatu berdasarkan suatu konsep yang tersusun sebelumnya walaupun masih sangat sederhana.

Semula anak-anak dalam bermain ini bersifat reproduktif artinya dalam aktivitas bermain tersebut anak-anak hanya membentuk atau membangun berdasarkan sesuatu objek yang mereka kenal atau lihat sehari-sehari kemudian dicontoh dalam kegiatan bermain tersebut.

Sejalan dengan berkembangnya kemampuan kognitif atau kecerdasan anak maka dalam perkembangan bermainnya anak mulai menciptakan bentuk-bentuk sesuai dengan imajinasinya. Pada akhirnya anak aktif untuk berkreasi dalam permainan ini sehingga pada masa ini juga sering disebut permainan aktif.

Bentuk-bentuk aktivitas bermain ini seperti: bermain dengan balok-balok, lilin, tanah liat, pasir, tanah, dan benda lain untuk dibuat berbagai macam bentuk bangunan seperti gedung, jembatan, gua, orang-orangan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Peran Lingkungan dalam Kegiatan Bermain Anak

Bermain Peran atau Pura-Pura (Make-believe Play)

Kegiatan dalam bermain pura-pura ini anak menirukan kegiatan orang lain dalam berbagai status sosial seperti guru, dokter, bidan, pedagang, polisi, tentara, dan sebagainya, bahkan tokoh dalam film kartun, atau dongeng sekalipun.

Bermain pura-pura sering dilakukan oleh anak usia 3-7 tahun di dunia prasekolah atau taman kanak-kanak. Kegiatan bermain pura-pura ini dapat dilakukan anak secara individual maupun kelompok baik dengan alat maupun tanpa alat.

Contoh bermain pura-pura yang sering dilakukan oleh anak-anak diantaranya bermain jual-beli di pasar, dokter-dokteran, perang-perangan, sekolah-sekolahan, panggung boneka dan sebagainya.

Permainan Dengan Peraturan (Games With Rules)

Kegiatan bermain pada masa ini telah menerapkan suatu peraturan permainan dalam kegiatan bermain. Peraturan yang dipergunakan dalam kegiatan bermain ini dimulai dari peraturan yang sederhana sampai dengan peraturan kompleks atau baku seperti yang ada dalam kegiatan olahraga seperti sepak bola, bola voli, bulutangkis dan sebagainya.

Dalam kegiatan bermain ini anak-anak sudah mulai mengenal peraturan dan berusaha untuk menaati semua peraturan yang mereka terapkan. Anak usia 6-11 tahun sudah mampu melakukan kegiatan bermain dengan peraturannya. 

Beberapa contoh kegiatan bermain pada tahap ini antara lain: bermain tali, monopoli, ular tangga, congklak, bekelan, petak umpet, gobak sodor, bentengan, kelereng, kasti, sepak bola, basket, tenis meja, catur, dan sebagainya.

 

Penulis: Diyanti Setiyorini (1707016006)

Posting Komentar untuk "Tahap Perkembangan Bermain Ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Piaget"