Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Teori Bermain Modern: Teori Psikoanalisa Menurut Freud Dan Erikson

Initentangpsikologi.com - Menurut Sigmund Freud (teori psikoanalisa) bermain adalah media, sarana, alat atau cara untuk mengeluarkan atau melepaskan emosi-emosi dari dalam diri. Bermain juga merupakan media untuk belajar mengatasi pengalaman traumatic atau frustasi. 

 

Bermain merupakan salah satu cara untuk mengukur, menguasai dan mengetahui sifat suatu alat. Teori bermain modern psikoanalisa adalah mengatasi pengalaman traumatic, coping terhadap frustasi.

Teori Bermain Modern
(pexels.com)

Teori Bermain Psikoanalisa Sigmund Freud

Sigmund Freud (1920) melihat bermain dari kaca mata psikoanalisis. Dengan demikian, teorinya disebut teori bermain psikoanalisis. Menurutnya, bermain bagi anak-anak merupakan suatu mekanisme untuk mengulang kembali peristiwa traumatic yang dialami sebelumnya sebagai upaya untuk memperbaiki atau menguasai pengalaman tersebut demi kepuasan anak.

Dengan demikian, Freud melihat bermain sebagai sarana melepaskan kenangan dan perasaan yang menyakitkan. Hal ini berarti anak bermain karena mereka butuh melepaskan desakan emosi secara tepat (Freud, 1958; Isenberg & Jalongo, 1993). Freud yang mengembangkan teori perspektif psikoanalisis untuk bermain. Gagasan Freud (1958) telah mempengaruhi perkembangan teori bermain, dan akhir-akhir ini topiknya sangat diminati sebagai topik-topik penelitian.

Dalam sebuah buku Mayke (2001:7) Freud memandang bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Melalui bermain atau fantasi, seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan maupun konflik pribadi. Dengan demikian freud percaya bermain memegang peran penting dalam perkembangan emosi anak. 

Baca Juga: Manfaat Bermain Terhadap Perkembangan Anak Menurut Psikoanalisa

Anak dapat mengeluarkan semua perasaan negative, seperti pengalaman yang tidak menyenangkan atau traumatik dan harapan-harapan yang tidak terwujud dalam realita melalui bermain. Dengan demikian, bermain mempunyai efek katarsis. Melalui bermain, anak dapat mengambil peran aktif sebagai pemrasarana dan memindahkan perasaan negative ke objek atau orang pengganti.

Sebagai contoh, setelah mendapat hukuman fisik dari guru, anak dapat menyalurkan perasaan marahnya dengan bermain pura-pura memukul boneka. Dengan mengulang-ulang pengalaman negative melalui bermain, menyebabkan anak dapat mengatasi kejadian yang kurang menyenangkan, karena anak dapat membagi pengalaman tersebut ke dalam bagian-bagian kecil yang dapat dikuasainya.

Secara perlahan anak dapat mengasimilasi emosi-emosi negative berkenaan dengan pengalamannya sehingga timbul perasaan lega. Freud memandang bermain sebagai cara yang digunakan anak untuk mengatasi masalahnya. 

Pandangan Freud tentang bermain akhirnya memberi petunjuk bagi para ahli ilmu jiwa untuk memanfaatkan bermain sebagai alat diagnose terhadap masalah anak ataupun sarana mengobati jiwa anak yang dimanifestasikan dalam terapi bermain.

Baca Juga: Teori Klasik Mengenai Kegiatan Bermain

Teori Bermain Psikoanalisa Erikson

Sedangkan menurut Erikson (1963), bermain membantu anak mengembangkan rasa harga diri. Alasannya adalah karena dengan bermain anak memperoleh kemampuan untuk menguasai tubuh mereka dan memahami benda-benda, serta belajar keterampilan sosial.

Anak bermain karena mereka berinteraksi guna belajar mengkreasikan pengetahuan. Bermain merupakan cara dan jalan anak berpikir dan menyelesaikan masalah, anak bermain karena mereka membutuhkan pengalaman langsung dalam interaksi sosial agar mereka memperoleh dasar kehidupan sosial.

Karakteristik atau Ciri Khas Bermain

Bermain memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang khas, yang perlu diketahui oleh guru dan orang tua. Kekhasan itu ditunjukkan oleh perilaku anak. Kegiatan dapat disebut bermain apabila:

1. Menyenangkan dan menggembirakan bagi anak, anak menikmati kegiatan bermain tersebut, mereka tampak riang dan senang.

2. Dorongan bermain muncul dari anak bukan paksaan dari orang lain, anak melakukan kegiatan karena memang mereka ingin melakukannya.

3. Anak melakukan karena spontan dan sukarela, anak tidak merasa diwajibkan.

4. Semua anak ikut serta secara bersama-sama sesuai peran masing-masing.

5. Anak berlaku pura-pura, tidak sungguhan, atau memerankan sesuatu, seperti anak pura-pura marah atau menangis.

6. Anak menetapkan aturan main sendiri, baik aturan yang diadopsi dari orang lain maupun aturan yang baru, dan aturan bermain tersebut akan dipatuhi oleh semua peserta bermain.

7. Anak berlaku aktif, mereka akan melompat atau menggerakkan tubuh, tangan dan tidak sekedar melihat.

8. Anak bebas memilih mau bermain apa dan beralih ke kegiatan bermain lain, bermain bersifat fleksibel.

Baca Juga: Tahap Perkembangan Bermain ditinjau dari Aspek Kognitif Menurut Piaget

Bermain itu menyenangkan dan dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan bagi pemainnya. Di dalam kegiatan bermain, anak tidak berpikir tentang hasil karena proses lebih penting dari pada tujuan akhir. Bermain juga bersifat fleksibel, karenanya anak dapat membuat kombinasi baru atau bertindak dalam cara-cara baru yang berbeda dari sebelumnya.

Bermain bukanlah aktifitas yang kaku. Bermain juga bersifat aktif karena anak-anak benar-benar terlibat dan tidak pura-pura aktif, bermain juga bersifat positif dan membawa efek positif karena membuat pemainnya tersenyum dan tertawa karena menikmati apa yang mereka lakukan.

Dengan demikian, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan, bersifat pribadi, berorientasi proses, bersifat fleksibel, dan berefek positif. Bermain juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan demi kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar.

Baca Juga: Perkembangan Bermain ditinjau dari Aspek Sosial Menurut Mildred Parten

Hal-Hal yang Berkaitan dengan Kegiatan Bermain

Bagi anak, bermain merupakan hal yang berkaitan dengan suatu peristiwa, situasi, interaksi dan aksi. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa bermain mengacu pada suatu aktivitas, seperti berlaku pura-pura dengan benda, sosiodrama, dan permainan yang beraturan. Bermain berkaitan dengan tiga hal yaitu :

- Keikutsertaan dalam kegiatan;

- Aspek efektif;

- Dan orientasi tujuan.

Meskipun mengandung unsur aktifitas, bermain berbeda dengan bekerja. Bekerja merupakan kegiatan yang berorientasi pada hasil akhir sedangkan bermain tidak. Hasil akhir dalam bermain bukanlah hal yang utama. Kegiatan dalam bermain menimbulkan kesenangan bagi pelakunya, sedangkan dalam bekerja efek tersebut tidak selalu muncul.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bermain

1. Kesehatan

Semakin sehat anak, semakin banyak energi untuk bermain aktif, seperti permainan gerak dan olahraga. Sementara anak yang kekurangan tenaga lebih menyukai hiburan yang tidak banyak gerak.

2. Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik, apa saja yang akan dilakukan dan waktu bermainnya bergantung pada perkembangan motor mereka. Pengendalian motorik yang baik memungkinkan anak terlibat dalam permainan aktif.

3. Intelegensi

Pada setiap usia, anak yang pandai lebih aktif ketimbang yang kurang pandai, dan permainan mereka lebih menunjukkan perhatian dalam permainan kecerdasan, dramatis, konstruktif, dan membaca. Anak yang pandai menunjukkan keseimbangan perhatian bermain yang lebih besar. Termasuk upaya menyeimbangkan faktor fisik dan intelektual nyata.

Baca Juga: Mengembangkan Keterampilan Menari dan Olahraga Pada Anak

4. Jenis Kelamin

Anak laki-laki bermain lebih kasar ketimbang anak perempuan dan lebih menyukai permainan fisik dan olahraga dari pada berbagai jenis permainan lainnya. Pada awal masa kanak-kanak, anak laki-laki menunjukkan perhatian pada berbagai jenis permainan yang lebih banyak dari pada anak perempuan, tetapi hal sebaliknya terjadi pada akhir masa kanak-kanak.

5. Lingkungan

Anak dari lingkungan yang buruk cenderung kurang bermain ketimbang anak lainnya. Karena kesehatan yang buruk, kurang waktu, peralatan, dan ruang. Anak yang berasal dari lingkungan kurang baik cenderung kurang bermain dari pada mereka yang berasal dari lingkugan baik. Hal ini karena kurangnya teman bermain serta kurangnya peralatan dan waktu bebas.

6. Status Sosioekonomi

Anak yang dari sosioekonomi yang lebih tinggi lebih menyukai kegiatan yang mahal, seperti lomba atletik, bermain sepatu roda, sedangkan mereka dari kalangan bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal seperti bermain bola dan berenang. Kelas sosial mempengaruhi buku yang dibaca dan film yang ditonton anak, jenis kelompok rekreasi yang dimilikinya dan supersive terhadap mereka.

7. Jumlah Waktu Bebas

Jumlah waktu bermain terutama bergantung pada status ekonomi keluarga. Apabila tugas rumah tangga atau pekerjaan menghabiskan waktu luang mereka, anak terlalu lelah untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga besar.

8. Peralatan Bermain

Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainannya. Misalnya, dominasi boneka dan binatang buatan mendukung permainan pura-pura.  Banyaknya balok, kayu, cat air, dan lilin mendukung permainan yang sifatnya konstruksif.

 

Penulis: Ni'matul Farihah (1707016027)


Posting Komentar untuk "Teori Bermain Modern: Teori Psikoanalisa Menurut Freud Dan Erikson"

Berlangganan via Email