Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Psikologi Kepribadian: Abraham Maslow Dan Humanism

Initentangpsikologi.com - Saat pertama kali Abraham Harold Maslow mulai menekuni bidang studi Psikologi, ia dikelilingi oleh teman-teman yang lebih dahulu terjun dalam bidang tersebut. Sebut saja, Erich Fromm dan Karen Horney yang mana keduanya bermadzhab psikoanalisa. 

Namun, Maslow menemukan perbedaan antara hewan yang dijadikan bahan percobaan, sehingga ia mulai keluar dari lingkaran psikoanalisa tersebut dan menyebut teorinya sebagai teori Holistik-Dinamis.

Ia menyebutnya demikian, karena teori ini menganggap bahwa keseluruhan dari seseorang terus-menerus termotivasi oleh satu atau lebih kebutuhan dan bahwa orang mempunyai potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis, yaitu aktualisasi diri.

Untuk meraih aktualisasi diri, orang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan di level yang lebih rendah, seperti kebutuhan akan fisiologis, keamanan, cinta, dan harga diri. Hanya setelah orang merasa cukup puas pada masing-masing dari kebutuhan-kebutuhan ini, maka mereka bisa mencapai aktualisasi diri.

Maslow percaya bahwa manusia mempunyai ciri-ciri yang lebih tinggi daripada yang diungkapkan, baik oleh teori psikoanalisis maupun behaviorisme. Maslow menghabiskan tahun-tahun terakhir masa-masa hidupnya untuk berusaha menemukan ciri-ciri dari individu-individu yang sehat secara psikologis.

Baca Juga: Pribadi yang Sehat Menurut Gordon Allport

Biografi Singkat Abraham Maslow

Abraham Harold Maslow mungkin memiliki histori masa kecil yang kesepian. Dilahirkan di Manhattan, New York, Pada 1 April 1908, Maslow menghabiskan masa kecilnya yang tidak bahagia di Brooklyn.

Maslow adalah anak tertua dari tujuh bersaudara dari pasangan Samuel Maslow dan Rose Schilosky Maslow. Pada masa kecilnya, kehidupan Maslow dipenuhi dengan perasaan malu, rendah diri, dan depresi kuat.

Pandangan Maslow tentang Motivasi

Abraham Maslow Dan Humanism
Ilustrasi (pexels.com)

Maslow mengadopsi sebuah pendekatan menyeluruh pada motivasi (holistic approach to motivation). Yang maksudnya adalah, keseluruhan dari seseorang, bukan hanya satu bagian atau fungsi.

Motivasi juga biasanya kompleks atau terdiri dari beberapa hal (motivation is ususally complex). Yang berarti bahwa tingkah laku seseorang dapat muncul dari beberapa motivasi.

Selanjutnya, Maslow juga berasumsi bahwa orang-orang berulangkali termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan (people are continually motivated by one need or another). Ketika sebuah kebutuhan tersebut terpenuhi, biasanya kebutuhan tersebut mengurangi kekuatan untuk memotivasinya dan digantikan oleh kebutuhan lain.

Asumsi lainnya adalah bahwa semua orang di manapun termotivasi oleh kebutuhan dasar yang sama (all people everywhere are motivated by the same basic needs).

Dan asumsi yang terakhir adalah bahwa kebutuhan-kebutuhan dapat dibentuk menjadi sebuah hierarki.

Baca Juga: The Science of Happiness: Saat Kebahagiaan Tak Lagi Soal Kekayaan

Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow

Konsep yang dikemukakan oleh Maslow ini menganggap bahwa kebutuhan-kebutuhan di level rendah harus terpenuhi atau setidaknya tercukupi lebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan di level atasnya.

Maslow mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan berikut ini berdasarkan prapotensi diri masing-masing: Fisiologis (physiological), keamanan (safety), cinta dan keberadaan (love and belongingness), penghargaan (esteem), dan aktualisasi diri (self actualization).

Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia dan membawa pengaruh besar bagi kebutuhan lainya. Kebutuhan fisiologis manusia berupa makan, minum, air, oksigen, mempertahankan suhu, dan lain sebagainya.

Orang yang merasa lapar akan termotivasi untuk mencari makan, tidak termotivasi untuk mencari teman dan memperoleh harga diri.

Baca Juga: 8 Tips Meningkatkan Self Acceptance dan Bangga Menjadi Diri Sendiri

Kebutuhan akan Keamanan

Ketika orang telah memenuhi kebutuhan fisiologi, mereka menjadi termotivasi dengan kebutuhan rasa aman (safety needs), yang termasuk di dalamnya adalah keamanan fisik, perlindungan, dan kebebasan dari kekuatan-kekuatan yang mengancam; seperti perang, rasa takut, kecemasan, bahaya, serta bencana alam.

Kebutuhan akan hukum, ketentraman, dan keteraturan juga merupakan kebutuhan akan keamanan menurut Maslow.

Kebutuhan akan Cinta dan Keberadaan

Kebutuhan akan cinta seperti keinginan untuk berteman, keinginan untuk mempunyai pasangan dan anak, kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga, serta kebutuhan memberi dan mendapatkan cinta.

Kebutuhan akan Penghargaan (harga diri)

Setelah memenuhi kebutuhan akan cinta, manusia bebas untuk mengejar penghargaan yang meliputi; penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan, dan pengetahuan yang orang lain hargai tinggi.

Baca Juga: Tips Melakukan Self Love dan Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Aktualisasi Diri

Ketika kebutuhan di level rendah terpenuhi, orang secara otomatis beranjak ke level berikutnya. Akan tetapi setelah kebutuhan akan penghargaan terpenuhi, orang tidak selalu bergerak menuju level aktualisasi diri.

Mengapa ada sebagian orang yang melewati pintu gerbang dari harga diri menuju aktualisasi diri sementara sebagian lainnya tidak, merupakan suatu yang terkait dengan apakah orang-orang tersebut memiliki nilai atau tidak.

Kebutuhan akan aktualisasi diri mencangkup pemenuhan diri, sadar akan semua potensi diri, dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin (Maslow).

Orang-orang yang mengaktualisasikan diri dapat mempertahankan harga diri mereka bahkan ketika mereka dimaki, ditolak, dan diremehkan orang lain.

Selain lima kebutuhan konatif, Maslow mengidentifikasikan tiga kategori kebutuhan lainya (estetika, kognitif, neurotik).

Terpenuhinya kebutuhan estetika dan kognitif sejalan dengan tercapainya kesehatan psikologis, sementara kebutuhan neurotik mengarah pada munculnya hal-hal patologis.

Kebutuhan Estetika

Beberapa orang di setiap kultur sepertinya termotivasi oleh kebutuhan akan keindahan dan pengalaman yang menyenangkan secara estetis. Sehingga sejak jaman dulu kala hingga masa kini banyak manusia menghasilkan seni, karena ingin berseni.

Baca Juga: Teori Kepribadian Gordon Allport

Kebutuhan Kognitif

Sebagian besar orang mempunyai keinginan untuk mengetahui, memecahkan misteri, memahami, dan untuk menjadi penasaran.

Ketika kebutuhan kognitif tidak terpenuhi, maka manusia juga tidak dapat memenuhi kebutuhan hierarki Maslow, karena pengetahuan sangat penting untuk memenuhi kelima hierarki kebutuhan tersebut.

Kebutuhan Neurotik

Kebutuhan ini memupuk gaya hidup yang tidak sehat dan tidak adanya keinginan untuk berusaha memperoleh aktualisasi diri.

Kebutuhan ini bersifat reaktif, yaitu kebutuhan ini berperan sebagai kompensasi atas kebutuhan-kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi.

Kebutuhan neurotik berbeda dengan kebutuhan hierarkis karena kepuasan kebutuhan neurotik tidak membuat orang berkembang menjadi sehat. 

Contohnya orang yang berkebutuhan neurotiknya haus kekuasaan, tidak membuat neurotiknya mereda dan jenuh. Contoh lain berapapun makanan yang disediakan dia masih tetap lapar (karena dia melihat makanan lain).

Apakah kebutuhan neurotik terpenuhi atau tidak, kesehatan jiwa tidak menjadi lebih baik, bahkan terkadang mengalami frustasi (karena tidak terpuaskan). Pada setiap jenjang kebutuhan dapat berubah menjadi kebutuhan neurotik, khususnya frustasi pada bagian keamanan atau kebutuhan dicintai.

Baca Juga: Apakah Memiliki Kepribadian Introvert itu Salah?

Nilai-nilai dari Orang yang Mengaktualisasi Diri

Maslow menyatakan bahwa orang-orang yang mengaktualisasi diri termotivasi oleh “prinsip hidup yang abadi, yang ia sebut sebagai nilai-nilai B.

Maslow menamakan nilai-nilai B sebagai “meta kebutuhan” (meta needs) untuk menunjukan bahwa nilai-nilai ini merupakan level tertinggi dari kebutuhan.

Ia membedakan antara motivasi berdasarkan kebutuhan biasa dan motivasi dari orang-orang yang mengaktualisasi diri, yang disebutnya “meta motivasi”.

Dengan kata lain, meta motivasi merupakan jawaban sementara Maslow terhadap masalah mengapa ada beberapa orang yang telah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan di level rendahnya, yang mampu memberikan dan menerima cinta, yang memiliki rasa percaya diri dan harga diri, tetapi tidak dapat mengaktualisasikan diri.

Maslow mengidentifikasi 14 nilai nilai B, yang setiap nilai saling berhubungan satu sama lain yaitu :

  • Kemandirian;
  • Kejujuran;
  • Kebaikan;
  • Keindahan;
  • Keutuhan;
  • Perasaan hidup;
  • Keunikan;
  • Kesempurnaan;
  • Kelengkapan;
  • Keadilan;
  • Kesederhanaan;
  • Totalitas;
  • Membutuhkan sedikit usaha;

Baca Juga: Aplikasi Teori Kepribadian Gordon Allport

Karakteristik Orang yang Mengaktualisasi Diri

Ciri-ciri orang yang mengaktualisasi diri sampai batasan tertentu: 

1. Persepsi yang lebih efisien akan kenyataan;

2. Penerimaan akan diri, orang lain, dan hal-hal alamiah;

3. Spontanitas, kesederhanaan, dan kealamian;

4. Berpusat pada masalah;

5. Kebutuhan akan privasi;

6. Kemandirian;

7. Penghargaan yang selalu baru;

8. Pengalaman puncak;

9. Hubungan interpersonal yang kuat;

10. Struktur karakter demokratis;

11. Diskriminasi antara cara dan tujuan;

12. Rasa jenaka atau humor yang filosofis;

13. Kreativitas;

14. Tidak mengikuti enkulturasi/apa yang diharuskan oleh kultur.

Baca Juga: Lapisan Masyarakat dalam Era Global

Jonah Complex

Semua orang dilahirkan dengan memiliki kemauan untuk tumbuh menuju aktualisasi diri, tetapi hanya sedikit orang yang berhasil mencapainya. Pertumbuhan menuju kepribadian normal dan sehat dapat terhambat pada masing-masing tahapan hierarki kebutuhan.

Ada orang yang sudah memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan cinta, dan meraih harga diri, tetapi tidak bisa mencapai aktualisasi diri karena mereka tidak memiliki nilai-nilai B.

Hal lain yang seringkali menghambat pertumbuhan seseorang menuju aktualisasi diri adalah Jonah complex atau ketakutan untuk mencapai puncak atau perasaan takut untuk menjadi atau menjalani apa yang terbaik bagi seseorang.

Jonah complex memiliki ciri-ciri adanya usaha untuk melarikan diri dari takdir seseorang sama seperti nabi Jonah (Yunus) yang berusaha untuk melarikan diri dari takdirnya.

Walaupun Jonah complex dapat terlihat dengan jelas pada orang orang neurotik, tetapi hampir semua orang memiliki kecemasan ketika mencari kesempurnaan dan kehebatan.

Orang-orang mengijinkan perasaan rendah hati yang tidak pada tempatnya untuk menghambat kreativitas, kemudian mereka mencegah diri mereka sendiri untuk dapat mengaktualisasi diri.

Baca Juga: Bahaya Self Diagnosis Terhadap Kesehatan Mental

Psikoterapi

Tujuan dari terapi adalah agar klien-klienya dapat memiliki nilai-nilai kehidupan (nilai B) dan mempunyai kecenderungan bawaan untuk berkembang menuju kondisi yang lebih baik, yaitu aktualisasi diri.

Psikoterapi diarahkan pada level kebutuhan yang saat ini sedang terhambat, dalam sebagian kasus, biasanya yang terhambat adalah kebutuhan akan cinta dan keberadaan.

Oleh karena itu, psikoterapi sebagian besar merupakan proses interpersonal. Melalui hubungan yang hangat dan penuh kasih dengan terapis, klien memperoleh pemenuhan kebutuhan akan cinta dan keberadaan dan kemudian mendapatkan perasaan percaya diri dan penghargaan diri.

Sehingga hubungan antar klien dan terapis merupakan obat psikologis yang terbaik.

 

Referensi:

Feist, J. & Feist., G. (2010) Theoris of Personality Edition. Boston: McGraw Hill.

Alwisol. 2011. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Posting Komentar untuk "Psikologi Kepribadian: Abraham Maslow Dan Humanism"

Berlangganan via Email