Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mengenal Komunitas Masyarakat Kyai, Santri dan Abangan

Komunitas Masyarakat Kyai, Santri Dan Abangan
(pexels.com)

A. Kyai

Kyai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya. Menurut Saiful Akhyar Lubis, menyatakan bahwa: 

“Kyai adalah tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren, maju-mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kyai. Karena itu, tidak jarang terjadi, apabila sang kyai di salah satu pondok pesantren wafat, maka pamor pondok pesantren tersebut merosot karena kyai yang menggantikannya tidak sepopuler kyai yang telah wafat itu”.

Menurut Nurhayati Djamas mengatakan bahwa: 

“Kyai adalah sebutan untuk tokoh ulama atau tokoh yang memimpin pondok pesantren”. 

Sebutan kyai sangat populer digunakan di kalangan komunitas santri. Kyai merupakan elemen sentral dalam kehidupan pesantren, tidak saja karena kyai yang menjadi penyangga utama kelangsungan sistem pendidikan di pesantren, tetapi juga karena sosok kyai merupakan cerminan dari nilai yang hidup di lingkungan komunitas santri. 

Kedudukan dan pengaruh kyai terletak pada keutamaan yang dimiliki pribadi kyai, yaitu penguasaan dan kedalaman ilmu agama, kesalehan yang tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari yang sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan menjadi ciri dari pesantren seperti ikhlas, tawadhu`, dan orientasi kepada kehidupan ukhrowi untuk mencapai riyadhah.

Baca Juga: Peran Agama dalam Pembinaan Kesehatan Mental

B. Santri

Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang mendalami agama Islam dan orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yang shaleh). Seorang santri harus mempunyai tiga unsur yang berperan dalam kehidupannya yaitu Iman, Islam, dan Ihsan

Sehingga semua ilmu tentang Iman, Islam, dan Ihsan dipelajari di pesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara bersungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan Islam, serta dapat berbuat ihsan terhadap sesama.

Menurut Nurcholish Madjid, kata ‘santri’ dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, ‘santri’ berasal dari perkataan ‘sastri’, bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf. 

Di sisi lain, Zamkhsyari Dhofier berpendapat bahwa kata “santri” dalam bahasa India secara umum dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. 

Kedua, yang mengatakan “santri” berasal dari bahasa Jawa, yaitu “cantrik”, berarti seseorang yang selalu mengikuti guru kemana guru itu pergi menetap.

Baca Juga: Perkembangan Agama dan Sifat-sifat Keberagamaan pada Masa Dewasa

C. Abangan

Abangan merupakan umat muslim nominal (muslim KTP) yang memandang Islam terutama sebagai sumber praktik ritual di tahapan tertentu dalam kehidupan. 

Seorang muslim abangan jarang atau tidak pernah bersembahyang, tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat atau membaca Alqur’an, jarang atau tak pernah berpuasa pada bulan Ramadhan, dan nyaris tidak pernah berpikir untuk mengalokasikan uangnya untuk pergi naik haji ke Mekah. 

Tetapi, pada waktu kelahiran dan kematian, kaum abangan akan berharap bahwa ritual Islam dijalankan. Dan, versi-versi tertentu dalam ritual Islam juga mungkin dilaksanakan pada peristiwa sunatan atau pernikahan.

 

Penulis: Khofifah Maulidina Inayah (1707016016)

Posting Komentar untuk "Mengenal Komunitas Masyarakat Kyai, Santri dan Abangan"