Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Lapisan Masyarakat dalam Era Global

Initentangpsikologi.com - Pengertian lapisan masyarakat (stratifikasi sosial). Menurut Pitirim Alexandrovich Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat. 

Lapisan Masyarakat dalam Era Global
(pexels.com)

Pitirim A. Sorokin juga mengatakan bahwa lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur. Lapisan-lapisan kelas secara bertingkat dapat dibedakan menjadi tiga unsur, yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah.

Golongan yang berada dalam kelas atas adalah golongan yang memiliki banyak uang, kekuasaan, dan mungkin juga kehormatan. Misalnya mereka yang masuk dalam lapisan atas dengan ukuran ekonomi yang tinggi sehingga mereka memiliki kekuasaan yang tinggi juga.

Sementara kelas bawah kebalikan dari kelas atas, dan kelas menengah adalah mereka yang belum mencapai tingkatan atas namun tidak termasuk juga dalam kelas bawah. 

Baca Juga: Wajah Komunitas dalam Struktur Kemasyarakatan

Terjadinya Lapisan Masyarakat

Sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Akan tetapi, ada juga yang disengaja disusun untuk mengejar sesusatu tujuan bersama. 

Adapun alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah:

Kepandaian

Faktor kepandaian atau kecerdasan (Intelegensia) seolah-olah memilah kelompok sekurangnya menjadi dua, yaitu orang-orang yang dianggap mempunyai kepandaian yang lebih dan orang-orang yang berkepandaian kurang.

Dalam istilah sehari-hari orang-orang yang kurang pandai ini dikatakan sebagai orang yang ‘susah mengingat atau mudah lupa’.

Kepandaian di sini harus dibedakan dengan keterampilan, ada orang pandai tetapi tidak terampil, ada orang yang terampil tetapi tidak pandai, ada juga orang yang tidak pandai dan tidak terampil. Yang paling ideal tentunya adalah orang yang pandai dan juga terampil.

Baca Juga: Mengenal Komunitas Masyarakat Kyai, Santri, dan Abangan

Tingkat umur 

Dalam sistem ini masing-masing anggota menurut klasifikasi umur mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Untuk masyarakat-masyarakat tertentu, ada keistimewaan dari seorang anak sulung di mana dengan nilai-nilai sosial yang berlaku mereka mendapat prioritas dalam pewarisan atau kekuasaan.

Contoh lain azas senioritas yang ada dalam sistem pelapisan ini dijumpai pula dalam bidang pekerjaan, agaknya ada hubungan yang erat antara usia seorang karyawan dengan pangkat atau kedudukan yang ditempatinya.

Kekerabatan

Maksud kekerabatan di sini adalah kedudukan seseorang terhadap kedekatannya dengan sumber kekerabatan itu. Biasanya faktor kekerabatan di sini berhubungan dengan kedudukan dalam keluarga atau menyangkut sistem pewarisan.

Semakin jauh hubungan kerabatnya maka semakin kecil kesempatan seseorang untuk menempati kedudukan tertentu dalam keluarga atau bahkan semakin kecil pula kesempatannya untuk memperoleh seperangkat fasilitas yang diwariskan oleh keluarganya.

Tidak seluruh anggota keluarga dapat menjadi ketua adat pada salah satu keluarga Batak Toba misalnya, selama individu tersebut tidak memiliki akses kuat dalam keluarga yang bersangkutan. 

Atau misalnya yang berlaku pada kelompok Dayak Iban di Kalimantan, atau banyak lagi kelompok-kelompok yang tersebar di belahan bumi Indonesia dengan orientasi kekerabatan yang masih kuat.

Secara teoritis, semua manusia dianggap sederajat. Akan tetapi, sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, praktiknya tidaklah demikian. Perbedaan atas lapisan adalah gejala universal yang meupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat.

Gender

Fenomena ini walaupun tidak mutlak menentukan suatu pelapisan namun dalam beberapa hal juga merujuk pada sistem itu. Misal dalam bidang pekerjaan, khususnya pada kehidupan masyarakat yang belum begitu modern. Dominasi laki-laki terasa lebih kental dibandingkan dengan perempuan, partisipasi perempuan dalam dunia kerja relatif lebih terbatas. 

Jika dibandingkan dengan laki-laki maka para pekerja perempuan relatif lebih banyak terdapat di strata pekerjaan yang lebih rendah, dan seringkali menerima upah atau gaji yang lebih minim dibanding laki-laki.

 Baca Juga: Masyarakat Cyber dan Lenyapnya Batas Sosial

Seperti yang telah diuaraikan sebelumnya, bahwa ada juga sistem stratifikasi sosial yang dengan sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama. Hal tersebut biasanya dilakukan terhadap pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi-organisasi formil. Misalnya pemerintahan, perusahaan, partai politik, angkatan bersenjata, atau perkumpulan.

Kekuasaan dan wewenang itu merupakan suatu unsur yang khusus pada sistem pelapisan dalam masyarakat, unsur yang mempunyai sifat lain dibanding uang, tanah, dan sebagainya yang dapat terbagi secara bebas di antara anggota suatu masyarakat tanpa merusak keutuhan masyarakat itu.   

Sistem stratifikasi yang lain yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari ialah:

Stratifikasi pekerjaan (occupational stratification) 

Di bidang pekerjaan modern kita mengenal berbagai klasifikasi yang mencerminkan stratifikasi pekerjaan, misalnya perbedaan antara manager serta tenaga eksekutif dan tenaga administratif, buruh. 

Perbedaan antara tamtama, bintara, perwira pertama, perwira menengah, perwira tinggi. Perbedaan antara kepala dinas, kepala bagian, kepala seksi, kepala koordinator dan sebagainya.     

Stratifikasi ekonomi (economic stratification) 

Yaitu pembedaan warga masyarakat berdasarkan penguasaan dan pemilikan materi, pun merupakan suatu kenyataan sehari-hari. Dalam kaitan ini kita mengenal, antara lain, perbedaan warga masyarakat berdasarkan penghasilan dan kekayaan mereka menjadi kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah.

Dalam masyarakat kita terdapat sejumlah besar warga yang tidak mampu memenuhi keperluan minimum untuk hidup layak karena penghasilan dan materi miliknya sangat terbatas, tetapi ada pula warga yang seluruh kekayaan pribadinya bernilai puluhan miliar bahkan ratusan miliar rupiah.

Di kalangan petani di pedesaan, kita menjumpai beberapa perbedaan antara petani pemilik tanah, petani penggarap dan buruh tani, yang mana masing-masing strata itu memiliki cara hidup tersendiri sesuai dengan kedudukan (ekonomi) nya dalam masyarakat. 

Baca Juga: Gambaran Psikologi Komunitas dan Perilaku Manusia dalam Psikologi Komunitas

Dasar Lapisan Masyarakat 

Ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Ukuran kekayaan

Ukuran ini dapat berupa kebendaan, barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, orang-orang itu termasuk lapisan paling atas. 

Kekayaan tersebut, misalnya dapat dilihat dari tempat tinggal, besarnya tempat tinggal, kendaraan-kendaraan, pakaian-pakaian yang dikenakan, kebiasaanya dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga, yang semuanya itu dianggap sebagai status simbol atau lambang-lambang kedudukan seseorang yang membedakannya dengan orang kebanyakan.

b. Ukuran kekuasaan

Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, maka orang atau orang-orang itu menempati lapisan tertinggi dalam masyarakat.

c. Ukuran kehormatan

Ukuran ini mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan, ukuran semacam ini biasanya tumbuh pada bentuk-bentuk masyarakat yang masih tradisional.

Orang-orang yang bersangkutan adalah individu yang dianggap atau pernah berjasa besar dalam masyarakat; orang atau orang-orang yang paling dihormati atau yang disegani, berada dalam lapisan atas.

d.  Ukuran ilmu pengetahuan

Ukuran ini biasanya dipakai oleh masyarakat-masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ada kalanya ukuran tersebut menyebabkan akibat-akibat yang negatif. 

Oleh karenanya berkembang bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar seperti kesarjanaannya; sudah tentu hal ini mengakibatkan segala macam usaha untuk mendapatkan gelar tersebut, terlepas melalui mekanisme yang benar atau tidak benar.

Baca Juga: Dimensi Psikologi Komunitas dan Komunitarian Humanistik

Bentuk-Bentuk Pelapisan Sosial

a. Sistem pelapisan yang terbuka

Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan bawahnya.

Misalnya setiap orang dapat menjadi seorang kepala desa asalkan memenuhi persyaratan tertentu.

b. Sistem pelapisan yang tertutup

Kedudukan orang-perorangan ditentukan oleh kelahirannya. Seorang Charles di negeri Inggris adalah seorang pangeran dan calon raja Inggris, dan dia ada seperti itu karena orang tuanya adalah ratu Inggris.

Dalam batas-batas tertentu, sistem pelapisan tertutup juga ditemukan pada sistem kasta masyarakat Bali. Menurut kitab suci orang Bali masyarakat terbagi dalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra. 

Ketiga lapisan pertama disebut ‘triwangsa sedangkan lapisan terakhir disebut ‘jaba’ yang merupakan lapisan dengan jumlah warga terbanyak di antara masyarakat Bali.

Dalam kenyataannya ternyata agak sukar menemukan bentuk masyarakat yang sistem pelapisannya benar-benar tertutup ataupun benar-benar terbuka.

Dalam suatu penelitiannya, John Milton Yinger memperkirakan bahwa dalam bentuk masyarakat yang paling terbuka, yaitu masyarakat industri modern, hanya sepertiga anggota masyarakat yang statusnya lebih tinggi atau lebih rendah dari orang tuanya. Sedangkan dua pertiganya adalah sama. 

Keadaan itu sebenarnya bisa mengindikasikan bahwa nilai-nilai yang ditanam orang tua terhadap diri anak-anak mereka masih dijadikan sebagai suatu ukuran kehidupan, mereka masih mengidentifikasikan diri terhadap segala gagasan, sikap, dan tindakan orang tuanya, walaupun mungkin prosesnya berlangsung tanpa disadari.

Baca Juga: Kompleksitas Belajar Sikap dalam Komunitas Masyarakat

Lapisan Masyarakat dalam Era Global

Pada era globalisasi, era yang kita jalani saat ini. Era di mana teknologi dan informasi menjadi ujung puncak untuk hidup di era ini. Kemajuan teknologi semakin canggih seiring berjalannya waktu. Keadaan itu akan membuat manusia dapat mengakses dan menjalankan hidupnya menjadi lebih mudah dan instan.

Di era ini perbedaan gaya hidup sangat jelas terlihat karena yang dapat menggunakan kecanggihan teknologi adalah kalangan masyarakat berstatus sosial tinggi, khususnya pada status ekonominya. Lapisan masyarakat di era ini tidak terlalu menonjol, karena sikap toleransi sudah mulai tumbuh.

Di balik itu semua, lapisan masyarakat di era globalisasi ini memiliki dampak postif yaitu setiap orang akan terus berusaha untuk meningkatkan derajat kehidupan mereka, setiap orang akan berlomba-lomba untuk berprestasi, setiap orang mempunyai kesempatan untuk memajukan taraf hidup dan dapat mengikuti perkembangan zaman.  

Dan adapula dampak negatif lapisan masyarakat yaitu terjadinya kesenjangan sosial, timbulnya konflik-konflik antar individu, kelompok bahkan generasi.

 

Penulis: Qurotul A’yuni (1707016029)

Posting Komentar untuk "Lapisan Masyarakat dalam Era Global"