Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Gaya Hidup dalam Komunitas

Initentangpsikologi.com - Gaya hidup adalah bagian kehidupan seseorang untuk menunjukkan eksistensi di depan publik dengan kreasi masing-masing. Setiap individu, komunitas dan kelompok memiliki ciri khas masing-masing untuk menampilkan kemampuan mereka. 

Pengertian Komunitas Menurut Ahli

Kozierr et, al (1997), komunitas adalah sekumpulan orang, tempat mereka dapat berbagi atribut dalam kehidupan. Dapat disebabkan karena mereka tinggal dalam satu lokasi atau adanya kesamaan minat. 

Gaya Hidup dalam Komunitas
pexels.com

Komunitas juga dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, memiliki nilai-nilai keyakinan dan minat yang relative sama, serta berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan.

Komunitas juga merupakan suatu sistem sosial yang setiap anggotanya baik formal maupun informal saling berinteraksi dan bekerja sama untuk suatu keuntungan seluruh anggotanya.

Baca Juga: Lapisan Masyarakat dalam Era Global

Gaya Hidup dalam Komunitas

Dalam ruang komunitas begitu ramai ditemukan gaya hidup dengan tampilan yang bermacam-macam untuk mendapatkan keuntungan bersama. Lontler (2002), gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Alwisol (2011) konsep gaya hidup ini, Adler menjelaskan keunikan manusia. Setiap orang memiliki tujuan, merasa inferior, berjuang menjadi superior, dan dapat mewarnai atau tidak usaha superiornya dengan minat sosial. Namun setiap orang melakukan gaya hidup yang berbeda-beda.

Gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan oleh orang itu dalam kehidupan tertentu di mana dia berada.

Gaya hidup tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intrinsik dan lingkungan obyektif, tetapi dibentuk oleh anak melalui pengamatannya dan interpretasinya terhadap keduanya. Terutama hidup ditentukan oleh inferioritas-inferioritas khusus yang dimiliki seseorang, yakni kompensasi dari inferioritas itu.  

Setiap daerah memiliki gaya hidup yang berbeda sesuai dengan ketertarikan yang disajikan oleh lingkungan sekitar. Lingkungan itulah yang menciptakan kebiasaaan setiap individu berperan sesuai dengan peran mereka masing-masing. 

Baca Juga: Pembangunan dan Perubahan Komunitas

Gaya Hidup Merupakan Simbol Sosial

Soenarno (2002), komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki keterkaitan dan habitat yang sama.

Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, prefensi, kebutuhan, resiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Kebiasaan yang ada dalam lingkungan menciptakan gaya hidup dengan simbol sosial yang dibutuhkan.

Gaya hidup merupakan simbol sosial yang sebenarnya bentuk dari komunikasi non verbal yang ditampilkan. Komunikasi kultural dari masing-masing daerah memilki kesepakatan yang berlainan tergantung kepada wilayah mana atau dari mana seseorang itu dibesarkan.

Piliang (1998), di Indonesia sendiri, kecenderungan umum ke arah pembentukan simbol sosial atau identitas kultural melalui gaya pakaian, mobil, atau produk lainnya sebagai komunikasi simbolik dan makna-makna sosial telah mewabahi masyarakat Indonesia.

Konsep gaya hidup yang dikondisikan melalui teknik komunikasi pemasaran adalah satu bentuk dari pembentukan budaya konsumerisme di dalam masyarakat consumer Indonesia.

Dalam budaya konsumerisme, konsumsi tidak lagi diartikan semata sebagai satu lalu lintas kebudayaan benda, akan tetapi menjadi sebuah panggung sosial, yang di dalamnya terjadi perang posisi di antara anggota-anggota masyarakat yang terlibat.

Baca Juga: Situasi Sosial Kelas Atas dan Kelas Bawah

Budaya konsumerisme yang berkembang satu arena, di mana produk-produk konsumer merupakan satu medium untuk pembentukan personalitas, gaya, citra, gaya hidup, dan cara diferensiasi status sosial yang berbeda-beda. Barang-barang konsumer menemukan makna kehidupan.

Konsumsi membentuk semacam totalitas objek-objek dan pesan-pesan yang dibangun di dalam sebuah wacana yang saling berkaitan. Konsumsi, sejauh ia mengandung suatu makna tertentu, merupakan satu tindakan penggunaan simbol secara sistematis untuk menandai posisi sosial tertentu.

Akibat kemajuan ekonomi dan meningkatnya daya konsumsi adalah terjadinya perubahan mendasar pada relasi sosial sebagai fungsi dari kepemilikan objek-objek.

Manusia masa kini tidak lagi dikelilingi oleh manusia-manusia lain seperti pada masa lalu, melainkan sebagai fungsi dari pemilikan dan penggunaan benda-benda dan gaya hidup. Kecenderungan ini menimbulkan semacam fetisisme komoditi yaitu simbol yang sebenarnya tidak merupakan substansi dari komoditi dianggap sebagai satu kebenaran.

Manusia memiliki ikhtiar untuk berusaha dalam menentukan yang terbaik bagi dirinya dalam mencari sisi ideal dalam hidup yang disebut dengan sisi kebenaran. Dalam proses pencarian titik sempurna tersebut tidak jarang menimbulkan konflik, karena adanya ketidak sesuaian harapan dan kenyataan.

Piliang (1998), kritik ekonomi-sosial Mark berangkat dari kenyataan bahwa konflik kelas yang timbul antara kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum ploretariat (kaum pekerja) adalah sebagai akibat dari relasi produksi tersebut. 

Konflik sosial muncul sebagai akibat dari konflik kepentingan dalam penguasaan alat produksi. Model kepemilikan yang menyebabkan para pekerja teraliensi dari produk yang diproduksinya, karena apa yang diproduksi bukanlah miliknya.

 

Penulis: Kharisma Nur Laili (1707016024)

Posting Komentar untuk "Gaya Hidup dalam Komunitas"