Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konseling di Lingkup Perusahaan: Pengertian, Pendekatan, Tahapan, dan Manfaat Konseling Industri

Pengertian Konseling Industri

Konseling merupakan suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan cara tatap muka antara konselor dan konseli (klien) yang berisi usaha yang laras, unik, manusiawi, dan didasarkan atas norma-norma yang berlaku. Harapannya agar klien memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan mungkin pada masa yang akan datang.

Konseling di Lingkup Perusahaan
Ilustrasi (pexels.com/Anthony Shkraba)

Sementara konseling industri adalah pembahasan suatu masalah dengan seorang karyawan yang mempunyai masalah emosional dengan maksud untuk membantu karyawan tersebut agar dapat mengatasi masalahnya secara lebih baik.

Konseling industri bertujuan untuk memperbaiki kesehatan mental karyawan. Kesehatan mental yang baik berarti bahwa orang-orang merasa nyaman akan diri mereka sendiri ataupun terhadap orang lain, serta sanggup memenuhi kebutuhan hidup.

Pendekatan Konseling Industri

A. Directive Counseling

Directive Counseling adalah proses mendengarkan masalah emosional individu (konseli), lalu setelahnya membuat keputusan bersama antara konselor dan konseli tentang apa yang harus dilakukan. Kemudian konselor akan memberitahu serta memotivasinya untuk melakukan hal tersebut.

Directive Counseling sebagian besar menggunakan fungsi konseling advice (nasihat) juga reassurance (dukungan atau penguatan), communication, memberikan emotional release dan sedikit clarified thinking. Sementara reorientation jarang digunakan dalam directive counseling.

Konselor directive counseling harus menjadi pendengar yang baik jika ingin memahami masalah karyawan sehingga karyawan mengalami emotional release. Setelah mengalami emotional release disertai beberapa ide dari konselor, karyawan diharapkan dapat menjernihkan pikirannya.

Baca Juga: Konseling di Lingkup Sekolah

B. Non-directive Counseling

Non-directive counseling atau client-centered counseling adalah proses mendengarkan karyawan sepenuhnya dan mendorongnya untuk menjelaskan masalah emosionalnya, memahami masalah tersebut dan menentukan tindakan-tindakan yang akan diberikan. Tipe konseling ini memfokuskan perhatian pada karyawan, konselor tidak bertindak sebagai penilai atau penasihat, oleh karenanya disebut client-centered.

Konselor non-directive counseling tidak menggunakan advice dan reassurance, tetapi menggunakan empat fungsi konseling lainnya. Emotional release lebih efektif digunakan dalam non-directive counseling begitu juga clarified thinking. Keuntungan khas dari non-directive counseling adalah kemampuannya untuk mengarahkan karyawan melakukan reorientation yang menekankan pada perubahan dirinya.

Dalam tipe konseling ini konselor membangun suatu hubungan permisif yang mengarahkan klien untuk berbicara dengan bebas. Hal utama yang dilakukan oleh konselor non directive adalah menetapkan hubungan konseling dengan menjelaskan bahwa konselor tidak memberikan penyelesaian masalah karyawan tetapi dapat membantu karyawan untuk menjelaskan perasaannya.

Kemudian konselor mendorong karyawan untuk mengekspresikan perasaanya, menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang dikemukakan dan menerimanya tanpa menyalahkan atau memujinya. Sehingga karyawan dapat mencurahkan perasaan negatif, dan diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan positifnya, hal ini merupakan tanda dimulainya perkembangan emosional pada karyawan.

Setelah semuanya berjalan dengan baik, karyawan seharusnya sudah memperoleh insight tentang masalahnya dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah. Selanjutnya karyawan dapat memilih beberapa langkah positif dan dapat menemukan cara untuk mencoba langkah tersebut. Kemudian karyawan merasa kebutuhan akan pertolongan konselor berkurang dan menyadari hubungan konseling harus berakhir.

Baca Juga: Konseling Individu - Pengertian, Prinsip, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu

C. Cooperative Counseling

Non-directive counseling yang murni dilakukan oleh karyawan tidak banyak digunakan karena biaya yang mahal dan keterbatasan lainnya. Directive counseling tidak terlalu disukai karena tidak tepat untuk situasi konseling saat ini. Untuk mengatasi dua tipe konseling yang ekstrim di atas, ada semacam penggabungan kedua tipe konseling tersebut yang dinamakan cooperative counseling.

Cooperative counseling tidak seluruhnya client-centered counseling atau counselor-centered, tetapi merupakan kerjasama saling menguntungkan antara konselor dan karyawan untuk menerapkan perbedaan pandangan pengetahuan dan nilai terhadap masalah. Hal ini ditetapkan sebagai diskusi yang saling menguntungkan tentang masalah emosional karyawan dan usaha kerjasama untuk membangun kondisi yang akan memulihkan karyawan.

Cooperative counseling dimulai dengan menggunakan teknik mendengarkan non-directive counseling: tetapi ketika wawancara berkembang, konselor memainkan peran yang lebih positif daripada memainkan peran konselor non-directive. Konselor menawarkan pengetahuan dan insight yang dipunyainya, mendiskusikan situasi dari pandangan yang luas dari organisasi kemudian memberikan pandangan yang berbeda dengan karyawan sebagai perbandingan.

Secara umum, konselor dalam perannya sebagai konselor cooperative menerapkan empat fungsi konseling yaitu reassurance, communications, emotional release dan clarify thinking. Dalam konseling, karyawan lebih banyak berbicara sedangkan konselor lebih banyak mendengarkan. Konselor lebih berperan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Baca Juga: Perilaku Kelompok dalam Sebuah Organisasi

Tahapan Konseling Industri

Proses konseling merupakan suatu kegiatan pencarian data dari seseorang yang mengalami masalah yang berlangsung selama konseling dengan menggunakan langkah-langkah konseling. Langkah-langkah konseling adalah sebagai berikut:

A. Menyatakan Kepedulian atau Keprihatinan dan Membentuk Kebutuhan Akan Bantuan

Langkah pertama ini memberikan kepedulian terhadap masalah-masalah yang dihadapi karyawan, baik yang disebabkan oleh diri karyawan sendiri maupun disebabkan oleh lingkungan yang memberikan tekanan kepadanya.

Dengan kepedulian dan perhatian terhadap karyawan dapat membentuk rasa keinginan dan semangat untuk menyelesaikan masalahnya, sehingga karyawan akan menunjukkan suatu keseriusan dan kejujuran terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Kemudian memberikan penjelasan dan pengertian agar klien menyadari atas perlunya bantuan untuk menyelesaikan masalahnya dan karyawan bersedia masuk dan terikat dalam proses konseling.

B. Membentuk Hubungan

Karyawan dan konselor memulai proses membangun suatu hubungan yang bercirikan kepercayaan, keyakinan, dengan didasari atas keterbukaan dan kejujuran atas semua pernyataan karyawan dan konselor dalam proses konseling.

C. Menentukan Tujuan dan Eksplorasi Pilihan

Dalam langkah ini dilakukan pembahasan masalah dengan melakukan diskusi dengan karyawan untuk mengeksplorasi tujuan konseling.

E. Menangani Masalah

Konselor berusaha untuk dapat menentukan prioritas masalah karyawan yang harus ditangani sehingga dapat mengarahkan karyawan untuk benar-benar mengungkapkan masalahnya dan berdiskusi untuk memecahkannya.

F. Menumbuhkan Kesadaran

Menumbuhkan kesadaran pada karyawan agar karyawan benar-benar mengetahui dengan jelas masalah yang dihadapinya. Konselor berusaha mengarahkan karyawan untuk mendapatkan insight atau understanding.

Karyawan memahami apa yang sedang dialami dan apa yang harus dikerjakan dalam menyelesaikan masalahnya sebagai hasil dari proses konseling atau berdasarkan hal-hal yang dilihat dan dirasakannya.

G. Merencanakan Cara Bertindak

Setelah mendapatkan insight karyawan harus melakukan suatu tindakan untuk menyelesaikan masalahnya. Jika karyawan merasa ragu dan bingung untuk mengambil keputusan dalam bertindak maka konselor dapat memberikan berbagai pilihan rencana tindakan.

H. Menilai Hasil dan Mengakhiri Konseling

Langkah ini adalah langkah terakhir untuk melihat keberhasilan jalannya konseling berdasarkan sejauh mana karyawan mencapai tujuan konseling. Keputusan untuk mengakhiri atau menghentikan konseling merupakan keputusan bersama antara konselor dan karyawan berdasarkan dua hal yaitu apakah tujuan konseling telah terpenuhi dan apakah hasil dari konseling sudah didapat. 

Baca Juga: Konseling Kelompok - Definisi, Tahapan, Tujuan, Kelebihan dan Kelemahan Konseling Kelompok

Manfaat Konseling di Lingkup Perusahaan

Konseling dalam hal ini bersifat preventif, dengan fungsi antara lain:

A. Mendukung Karyawan dalam Menghadapi Perubahan Organisasi

B. Sebagai Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

Egan (1994) menghitung biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk menangani masalah psikologis dan sosial serta problem karyawan yang "mahal" nilainya. Seperti problem hubungan kerjasama dalam kelompok, alkoholik, perceraian, kematian yang mempengaruhi terjadinya kekacauan dalam kerja. Bila tidak ditangani, maka dapat dihitung besarnya kerugian yang diderita.

C. Meningkatkan Nilai Sumber Daya Insani sebagai Aset Organisasi

Dengan semakin tingginya kesadaran bahwa manusia adalah aset organisasi, maka jasa konseling diadakan untuk mengatur kekuatan-kekuatan organisasi secara konstruktif.

D. Konseling/Psikoterapi Tidak Hanya Bertindak Secara Kuratif

Yakni bukan hanya penanganan kasus yang sudah terlanjur terjadi, melainkan juga menangani secara preventif dalam bentuk pemberian latihan dan pendidikan untuk mencegah sakit mental, sehingga biaya jangka panjang akan lebih murah.

E. Sebagai Wujud Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)

Program ini menguntungkan organisasi dan masyarakat. Perlu dilakukan pendekatan secara menyeluruh pada karyawan, yakni secara fisik, mental, emosional, dan spiritual (karena satu-satu saja tidak cukup). Individu perlu memperoleh bantuan profesional dalam menjalani tahap-tahap perkembangan hidupnya, guna menghadapi masala transisi dan krisis.

F. Sebagai Sumber Perubahan Organisasi

Konseling membantu membawa nilai, energi perubahan, vitalitas penerimaan, realisasi penerimaan, dan perkembangan diri menuju situasi kerja yang dinamis. Konseling mempengaruhi budaya organisasi, sehingga menjadi kuat dan adaptif.

 

Referensi Bacaan:

Kartini, Kartono. (2002). Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan dan Industri. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Ino, Yuwono. (2005). Psikologi Industri dan Organisasi, Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Ashar Sunyoto. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Posting Komentar untuk "Konseling di Lingkup Perusahaan: Pengertian, Pendekatan, Tahapan, dan Manfaat Konseling Industri"