Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konseling di Lingkup Sekolah

Initentangpsikologi.com - Menurut Beck, menyatakan Konseling Behavior Cognitive dalam bentuk kelompok sangat sesuai diterapkan bagi murid, karena merupakan proses edukasi yang bertujuan guna mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan.

Konseling di Lingkup Sekolah
Ilustrasi (pexels.com)

Beberapa teknik dalam konseling kognitif perilaku antara lain modeling, behavior rehersal, coaching, homework, feedback, reinforcment, cognitive restructuring, problem solving, the buddy system (Corey).

Menurut Guindon, konseling kognitif perilaku adalah pendekatan yang dinilai terbukti efektif untuk mengintervensi dan mengatasi permasalahan harga diri, pada individu dalam seluruh rentang hidupnya. Asumsi dasar konseling kognitif perilaku adalah bahwa tingkah laku individu yang terlihat (overt behavior) dipengaruhi oleh proses kognitif.

Konseling kognitif perilaku tidak hanya berfokus pada perubahan tingkah laku, akan tetapi lebih pada melihat adanya penyimpangan kognitif pada individu untuk nantinya dilakukan penyelesaian permasalahan (Beck, dkk).

Pemilihan konseling dengan pendekatan kognitif perilaku didasari oleh latar belakang harga diri, yang merupakan sebuah evaluasi diri, yang merupakan keyakinan dasar yang bersumber pada kognitif individu. Intervensi dengan melibatkan kognitif seperti pada konseling Behavior Cognitive diasumsikan lebih sesuai untuk meningkatkan harga diri. Konseling Kognitif Perilaku memandang bahwa harga diri rendah sebagai hasil dari keyakinan negatif dan asumsi yang disfungsional mengenai dirinya (Bennet Levy, Butler, Fannel, Hackman, Muller, dan Westbrook).

Intervensi dengan konseling kognitif perilaku lebih ditekankan pada identifikasi keyakinan negatif yang lebih realistis dengan memaksimalkan aktivitas kognitif guna menghasilkan perubahan perilaku (Bos, Muris, Mulkens dan Schaalma). Adapun tujuan utama konseling Kognitif perilaku yaitu memunculkan respons yang lebih adaptif terhadap suatu situasi dengan menyesuaikan proses kognitif yang ada dan melakukan modifikasi perilaku (Westbrook, Kennerly, dan Kirk).

Baca Juga: Konseling dengan Pendekatan Behavioral

Hal senada dikemukakan oleh Beck, bahwa konseling kognitif perilaku berusaha untuk mengidentifikasi dan mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional atau terdistorsi. Tugas konselor kognitif perilaku adalah membantu konseli mengenali cacat-cacat logis dalam pemikiran individu dan membantu mereka untuk memandang situasi secara rasional. Konseli diminta untuk mengumpulkan bukti-bukti guna menguji keyakinan yang akan membawa konseli mengubah kayakinan yang ternyata tidak berdasar realita.

Konseling kelompok dengan metode kognitif perilaku melihat pada harga diri rendah dalam diri konseli, yakni dimulai dari melihat ada tidaknya pengalaman negatif dalam hidup konseli. Pengalaman negatif ini merupakan sesuatu yang dipersepsi yang dapat mempengaruhi keyakinan mengenai diri sendiri dan orang lain, sebagai manifestasi dari pengalaman-pengalaman yang telah dilalui.

Apabila individu mempunyai pengalaman negatif pada hidupnya, maka memungkinkan individu tersebut memiliki harga diri yang rendah. Pengalaman-pengalaman negatif ini dapat berupa perlakuan tidak menyenangkan dari orang tua seperti hukuman, kelalaian, penyiksaan, kesulitan dalam mencapai standar yang ditetapkan orang tua. Tidak mampu menyesuaikan diri di rumah ataupun di sekolah, tidak adanya perhatian, pujian, penguatan, kehangatan ataupun afeksi dari orang lain.

Keyakinan negatif ini dimaknai sebagai negative automatic thought yang dialami konseli. Indikasi adanya negative automatic thought dapat dikenali pada konseli yang memiliki keyakinan "saya bodoh, saya gagal, saya tidak memiliki apa pun, merasa terasing karena saya tidak dicintai, peka terhadap kritik, dan sebagainya". Keyakinan ini membuat individu merasa buruk mengenai diri sendiri yang nantinya akan mempengaruhi emosi, perilaku, dan secara tidak langsung juga mempengaruhi reaksi fisiologinya.

Upaya untuk meningkatkan harga diri rendah inilah "misi" dari konseling kelompok metode kognitif perilaku. Komponen kognitif dapat membantu konseli menetapkan hubungan antar kognisinya dengan emosi, perilaku dan reaksi dari fisiologinya, serta untuk mengidentifikasi kognisi menyalahkan diri dengan mengganti kognisi tersebut pada persepsi yang lebih baik. Komponen perilaku diterapkan ketika konseli telah melakukan perubahan kognitif. Mereka mempelajari bagaimana memberikan respons yang dapat diterima oleh lingkungan ketika berhadapan dengan situasi tertentu.

Baca Juga: Teori, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Realitas

Konseling kognitif perilaku merupakan bentuk konseling yang efektif dan efisien digunakan pada populasi usia sekolah. Hal ini didasarkan pendapat Vermon (dalam Erford, 2004) yang mengemukakan bahwa konseling kognitif perilaku merupakan bentuk terapi yang aplikatif bagi lingkup sekolah di mana proses konseling dibatasi oleh waktu.

Fakta bahwa konseling kognitif perilaku yang singkat sangat penting khususnya bagi remaja (siswa) di mana sedang memiliki sence of time sehingga butuh sesuatu yang membantu mereka dengan segera. Konseling kognitif perilaku mengajarkan siswa bagaimana berpikir lebih baik, siswa tidak hanya merasa lebih baik namun akan mendapat yang lebih baik, karena siswa diharapkan dapat mengoreksi kesalahan berpikir yang menyebabkan masalah baginya.

Kelebihan Konseling Kognitif Perilaku (KKP)

Dobson mencatat beberapa kelebihan pendekatan konseling kognitif perilaku bagi populasi anak-anak dalam setting sekolah, sebagai berikut:

1. Prinsip-prinsip KKP mudah dipahami dan dapat diadaptasikan pada anak-anak hampir semua usia dan dari banyak latar belakang kultural.

2. Kelompok KKP cenderung berjangka pendek dan memakai intervensi singkat, yang cocok dalam latar sekolah di mana waktunya terbatas.

3. Konsep-konsep yang mudah diajarkan dapat diterjemahkan untuk memperoleh keterampilan-keterampilan hidup.

4. Anak-anak dan remaja dapat mempelajari kontrol diri emosional dan behavioral melalui upaya memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku.

5. Kelompok KKP membantu para peserta menangani hal-hal yang dapat mereka ubah dan menerima hal-hal yang tidak dapat mereka ubah.

6. Prinsip-prinsip kognitif membantu memberdayakan anak-anak dan remaja dalam menangani permasalahan saat ini dan mengantisipasi masalah masa depan. Dampak perlakuan dapat diketahui salah satunya dari kesan yang diperoleh konseli dan diungkapkan baik secara verbal maupun non verbal melalui ungkapan perilaku dan tulisan.

Baca Juga: Konseling ke Psikolog itu Seperti Apa, Sih?

Kelemahan Konseling Kognitif Perilaku

Kelemahan konseling kognitif perilaku bagi populasi anak-anak dalam setting sekolah, adalah sebagai berikut:

(1) Behavior therapy hanya mengubah perilaku bukan mengubah perasaan.

(2) Behavior therapy tidak memberikan proses pemahaman.

(3) Behavior therapy fokus utamanya adalah menghilangkan simptom atau masalah bukan mencari penyebab.

(4) Behavior therapy dikontrol dan dimanipulasi oleh terapis.

 

Referensi Bacaan:

Dewa Ketut Sukardi. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Rachmayanie, Ririanti. Prahesty, Arie. (2015). Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Teknik Peer Counseling (Konselor Sebaya) Di SMAN 11 Banjarmasin. Jurnal Paradigma. Vol. 10. No. 2. Hal 67-73.

Prasetiawan, Hardi. Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling) Untuk Mereduksi Kecanduan Game Online. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling.

LAILY SAFA'ATI, M. A. R. I. S. (2013). Penerapan Konseling Kelompok kognitif perilaku Untuk Meningkatkan Harga Diri. Jurnal BK UNESA, 3(1).

Saripah, I. (2010, November). Model Konseling Kognitif Perilaku Untuk Menanggulangi Bullying Siswa. In International Confrence on Teacher Education: Join Conference UPI dan UPSI Bandung, Indonesia (pp. 8-10)

Habsy, B. A. (2017). Model konseling kelompok cognitive behavior untuk meningkatkan self esteem siswa SMK. Perspektif Ilmu Pendidikan, 31(1), 21-35.

Posting Komentar untuk "Konseling di Lingkup Sekolah"