Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Perilaku Sosial dalam Komunikasi dan Kehidupan Orang Miskin dan Kaya pada Masa Rasul

Perilaku Sosial dalam Komunitas

Perilaku sosial dalam komunitas menghadirkan fenomena menarik untuk digambarkan secara gamblang dalam hidup. Di mana setiap komunitas memiliki sosialnya masing-masing yang sepadan dengan kebiasaan yang dilakukan setiap harinya. Maka dari itu, perilaku merupakan representasi dari luapan jiwa dan pikiran yang dimiliki setiap diri dalam komunitasnya.

Perilaku Sosial dalam Komunikasi dan Kehidupan Orang Miskin dan Kaya pada Masa Rasul
Ilustrasi (Pexels.com/Haley Black)

Soekanto (1990) menjelaskan bahwa komunitas adalah suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas tertentu, di mana faktor utama yang jadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar di antara para anggota, dibandingkan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.

Proses interaksi tergantung pada nalar seseorang dalam berpikir untuk mencapai yang mereka kehendaki dalam lingkungan komunitas tersebut. Ketika nalar komunitas bertujuan untuk hidup dengan nalar pengetahuan maka aktivitas mereka akan menghubungkan dengan tujuan tersebut.

Calne (2005) mengibaratkan bahwa manusia adalah "binatang bernalar". Sementara Spinuza (1677) mengibaratkan manusia adalah "binatang sosial". Manusia bernalar dan bersosial di atas pola-pola perilaku yang sudah meluas di dunia binatang, tetapi bernalar dan bersosialisasi bukanlah hal yang terpisah. Kaitannya bisa diketahui dengan melihat dampak nalar terhadap masyarakat dan dampak masyarakat terhadap nalar.

Nalar telah didukung, ditenggang, dimanfaatkan dan ditindas dalam lingkungan sosial yang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari keluarga ke agama, dari universitas ke rezim politik. Sama seperti masyarakat telah membentuk nalar, maka nalar pun telah membentuk masyarakat.

Brennan (2006) psikologi sosial mempelajari proses-proses perilaku, hubungan kausal, dan produk-produk interaksi antar individu dan kelompok. Aktivitas sosial dapat dipandang dari tiga perspektif: kontribusi individual, hubungan antar pribadi dan perilaku kelompok.

Baca Juga: Konseling di Lingkup Rumah Sakit

Korten (1987) menjelaskan bahwa pada pemberdayaan komunitas terdapat proses katalis yaitu proses yang mengarahkan atau mengkondisikan komunitas yang bersangkutan sehingga menyebabkan terjadinya percepatan perubahan sosial (social change). Adanya perubahan sosial tersebut merupakan kunci keberhasilan sebuah pemberdayaan komunitas.  

Dalam sebuah komunitas terdapat berbagai aturan di dalamnya yang semua anggotanya harus mengikuti atau mentaatinya. Kemudian setiap komunitas tersebut pasti ada kebiasaan, pola perilaku, ciri-ciri sendiri yang unik yang dapat membedakan komunitas tersebut dengan komunitas yang lain.

Sehingga dengan adanya kebiasaan, pola perilaku, serta ciri-ciri yang khas pada mereka, secara tidak langsung semua anggotanya harus mengikuti arus jalan dari komunitasnya itu, yang menyebabkan adanya pengaruh besar dalam hal lingkungan sosial. Mungkin yang dapat membuat seseorang tersebut menjadi berbeda dibanding sebelum masuk dalam komunitas tersebut.

Menurut Durkheim, masyarakat terdiri atas kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian-pengertian dan tanggapan-tanggapan yang kolektif, dan hanya kehidupan kolektif ini yang dapat menerangkan gejala-gejala sosial maupun gejala kemasyarakatan.

Dari sebuah interaksi, maka norma dan nilai sosial yang pada mulanya tidak terdapat pada diri individu lambat laun diberikan bahkan kerap kali dipaksakan oleh masyarakat terhadap individu itu. Nyata bahwa pada pendapat Durkheim mengenai saling berhubungan antara individu dan kelompok sangat mengutamakan peranan kelompok sehingga terwujudlah interaksi sosial yang baik dan harmonis.

Di dalam sebuah komunitas diperlukan solidaritas dan interaksi yang baik di antara anggota yang nantinya akan terwujud kebersamaan tanpa memandang kelas. Solidaritas dapat diartikan kesatuan kepentingan, simpati, dan lainnya, sebagai salah satu anggota dari kelas yang sama.

Solidaritas bisa didefinisikan perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Solidaritas adalah integrasi, tingkat dan jenis integrasi, ditunjukkan oleh masyarakat atau kelompok dengan orang dan tetangga mereka. Hal ini mengacu pada hubungan dalam masyarakat, hubungan sosial bahwa orang-orang mengikat satu sama lain.

Interaksi sosial pada sebuah komunitas memberikan pengaruh positif, meski terkadang ada juga negatifnya. Namun cukup banyak pengaruh positif terhadap masyarakat dan lingkungannya. Pola-pola interaksi sosial sangat kompleks sehingga terbentuklah kontruksi diri di antara anggota komunitas tersebut.

Interaksi atau proses sosial atau hubungan timbal-balik yang dinamis di antara unsur-unsur sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pola interaksi asosiatif dan pola interaksi disosiatif. Pola interaksi asosiatif merupakan proses-proses yang mendorong dicapainya akomodasi, kerjasama dan asimilasi, yang pada giliran selanjutnya menciptakan keteraturan sosial. Sementara interaksi disosiatif kebalikannya.

Sementara itu menurut Freud dalam Gerungan dikatakan bahwa manusia tidak akan bisa berkembang menjadi manusia sesungguhnya yang utuh jika tanpa pergaulan sosial. Jadi melalui interaksi sosial tersebut, manusia bisa mewujudkan perkembangan dirinya sebagai manusia utuh, karena tanpa hubungan timbal balik dalam interaksi, manusia tidak akan bisa mewujudkan perkembangan dirinya sebagai manusia. (Gerungan. 2009 : 27).

Kehidupan Orang Miskin dan Kaya pada Masa Rasulullah

Pada masa Rasullah terdapat kaum yang bernama Muhajirin dan Anshar. Ketika kaum Muhajirin berhijrah dari Mekah ke Madinah, mereka menghadapi problematika sosial dan ekonomi, berkaitan dengan kelangsungan hidup, mata pencaharian dan tempat tinggal. Kaum Muhajirin tidak memiliki modal, sebab seluruh harta mereka sudah ditinggalkan di Mekah. Mereka juga tidak memiliki lahan pertanian di Madinah karena mereka pendatang.

Langkah yang dilakukan Rasulullah menghadapi problematika tersebut adalah dengan mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin. Persaudaraan tersebut melahirkan sikap-sikap agung yang tiada tara, sebagaimana dijelaskan oleh An-Nu’man ibn Ajlan Al-Anshori; “Kami pun menyambut kaum Muhajirin seraya berkata, ‘Selamat datang dan hidup bersama kami. Sungguh, kalian akan aman dari kefakiran karena kami akan membagi harta dan rumah kami untuk kalian.

Maka, kaum Anshar menjamin tempat tinggal bagi kaum Muhajirin secara ikhlas, bahkan ada juga yang menampung kaum Muhajirin untuk tinggal di rumah-rumah mereka. Mereka (kaum Anshar) berebut tidak mau kehilangan pahala, bahkan, mereka mengadakan undian agar kesempatan memberi bantuan terdistribusi dengan adil.

Kaum Anshar juga membagi hasil panen mereka kepada kaum Muhajirin. Mereka mengusulkan kepada Rasulullah untuk membagikan separuh kebun-kebun pohon kurma siap panen milik mereka. Namun Rasulullah meminta agar mereka memberi kaum Muhajirin untuk turut serta seperlunya saja, karena Muhajirin bukanlah orang yang pandai bercocok tanam, mereka didominasi oleh para pedagang.

Bahkan, kaum Anshar sempat ingin menghibahkan setiap kelebihan harta mereka kepada Rasulullah saw. “Jika engkau menghendaki, ambillah rumah-rumah kami,” kata mereka. Rasulullah saw. mengucapkan terima kasih. Rasulullah saw. membangunkan tempat tinggal untuk para sahabatnya di tanah-tanah yang telah dihibahkan kaum Anshar dan menetapkan tanah itu bukan milik siapa pun.

Kaum Anshar banyak sekali memberi bantuan material kepada kaum Muhajirin, mereka menyerahkan semua itu kepada Rasulullah saw. untuk dibagikan sekehendak beliau kepada kaum Muhajirin. Anas bin Malik berkata, seseorang dari kaum Anshar memberikan pohon-pohon kurma yang telah siap panen kepada beliau. Lalu beliau memberikan semua itu kepada pembantunya, Ummu Aiman, ibunda Usamah bin Zaid.

Seperti yang digambarkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: "Sesungguhnya rekan-rekan kita dari kalangan Muhajirin sibuk mengurusi perdagangan mereka di pasar dan rekan-rekan kita dari kalangan Anshor sibuk mengelola harta mereka. Yakni sibuk bercocok tanam."

Sekalipun kaum Anshar telah menyerahkan semua yang mereka miliki dan menunjukkan kedermawanan, namun tetap saja dibutuhkan suatu peraturan dan undang-undang yang menjamin kesejahteraan kaum Muhajirin dan menjauhkan mereka dari perasaan bahwa mereka menjadi beban bagi kaum Anshar. Oleh karena itu, disyariatkan undang-undang persaudaraan pada tahun pertama hijriyah.

Dari Abdullah bin 'Amr, Rasulullah SAW pernah bersabda; "Sesungguhnya kaum fakir dari kalangan Muhajirin mendahului orang-orang yang kaya menuju surga pada hari kiamat dengan jarak selama 40 tahun." Kaum fakir dari kalangan Muhajirin merupakan mereka yang hidup pada zaman Rasul dan rela meninggalkan harta serta keluarga mereka demi Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Kisah Tsa'labah Orang Kaya Baru

Pada masa Nabi, ada seseorang bernama Tsa'labah yang hanya memiliki sehelai pakaian yang digunakan secara bergantian dengan istrinya. Dia rajin salat berjamaah. Suatu ketika dia bosan hidup dalam keadaan miskin. Akhirnya, dia mencari cara praktis agar kehidupannya dapat berubah.

Pria penggembala kambing itu minta pada Nabi agar dijadikan orang kaya. Namun, Nabi tidak langsung memenuhi keinginan Tsa'labah. Baginda Nabi khawatir Tsa'labah tidak mampu memikul amanat kekayaan yang nanti akan menjadi miliknya. Karena terus merengek, Nabi pun berdoa pada Allah untuk menjadikan Tsa'labah sebagai orang kaya.

Akhirnya Tsa'labah menjadi orang kaya. Namun sayang, kekayaan tersebut membuatnya lupa daratan. Kekhawatiran Nabi ternyata benar. Tsa'labah mulai jarang salat berjamaah lagi. Dia juga kikir, tidak mau membayar zakat. Kurang lebih seperti itu cerita yang beredar di masyarakat.

Dalam Q.S. Asy-Syura ayat 27, Allah telah mengingatkan perihal tersebut; "Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat."


Penulis: Diyanti Setiyorini (1707016006)

Posting Komentar untuk "Perilaku Sosial dalam Komunikasi dan Kehidupan Orang Miskin dan Kaya pada Masa Rasul"