Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bentuk Intervensi dalam Psikologi

Initentangpsikologi.com - Intervensi sosial adalah suatu upaya untuk meningkatkan, mempertahankan serta mengaktualisasikan kemampuan berfungsinya sosial system manusia (individu, kelompok, dan masyarakat). 

Jika individu ataupun kelompok masyarakat tidak mampu untuk melaksanakan fungsi sosial tentu mereka akan mengalami apa yang disebut dengan kegagalan fungsi sosial.

Bentuk Intervensi dalam Psikologi
Ilustrasi (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kegagalan dalam menjalankan fungsi sosial dapat disebabkan oleh keterbatasan kemampuan seseorang untuk menangani tugas-tugas kehidupan dan keterbatasan kemampuan system untuk mengoptimalkan kemampuan.

Keterbatasan seseorang dan keterbatasan system secara teori dapat dibedakan menjadi 3 pandangan besar, yaitu:

1. Pandangan konservastif; terletak pada kondisi atau perilaku masing-masing individu (malas, bodoh).

2. Pandangan liberal; terletak pada kinerja system.

3. Pandangan transformatif; system tidak adil (kapitalisme).

Fitrahnya, manusia adalah makhluk sosial, manusia memiliki sifat alami yang tidak bisa memisahkan diri dengan orang lain, mereka saling ketergantungan satu sama lain. Ketergantungan seorang terhadap seorang lainnya tersebut sering dijadikan sebagai alasan untuk memperoleh pengakuan secara pribadi maupun sosial.

Terbentuknya sebuah kelompok disebabkan oleh adanya upaya manusia untuk selalu mempertahankan hidup secara biologis dan psikososial. Terbentuknya kelompok sosial yang ada di masyarakat dilatar belakangi oleh berbagai hal. Dari berbagai kelompok sosial inilah muncul identitas sosial.

Dari sejumlah identitas yang muncul dapat dikelompokan menjadi beberapa kategori, seperti biologis atau fisologis (jenis kelamin). Etnis atau budaya, latar belakang ekonomi (kaya, miskin), dan sebagainya.

Teori identitas sosial memfokuskan pada individu yang bergabung dengan salah satu kelompok, dan kelompok tersebut memiliki status yang superior dibandingkan kelompok lain, maka hal ini akan meningkatkan self image pada diri individu.

Individu dalam memilih kelompok atau begabung dengan kelompok tertentu akan mempertimbangkan perasaan aman dan tidak aman, kepercayaan, atau presepsi sosial. Pada umumnya, individu-individu membagi dua kategori yang berbeda yaitu “kita” dan “mereka”. Dalam teori identitas sosial, kita sama dengan in group dan mereka sama dengan out group.

Identitas yang melekat pada kelompok akan berpengaruh pada perilaku anggotanya. Ada perasaan bangga dan senang dengan identitas sosial yang dimilikinya. Identitas sosial yang tinggi dapat menyebabkan konformitas yang tinggi pada kelompoknya, menimbulkan rasa solidaritas antar kelompok.

Baca Juga: Perilaku Sosial dalam Komunikasi dan Kehidupan

Trull (dalam Wiramihardja, 2012) mengemukakan enam prinsip Psikologi Komunitas sebagai berikut:

1. Apa yang menjadi penyebab dari masalah

Permasalahan kehidupan yang ada di masyarakat itu semua tumbuh serta berkembang dari masyarakat sendiri yang saling berinteraksi dan berlangsung terus menerus antar individu, perangkat sosial dan bebrbagai system yang ada dalam lingkungan sosial.

Dari interaksi yang terjadi itu akan menghasilkan penurunan kualitas atau menimbulkan gejala yang tidak diharapkan sesuai dengan iklim yang ada pada komunitas. Hasil interaksi yang menurunkan penurunan kualitas kehidupan ini bisa saja dalam bentuk timbulnya kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan keadaan nyata kehidupan seperti interaksi antara dua budaya yang berbeda.

2. Bagaimana mengartikan permasalahan itu

Permasalahan dapat diartikan dalam banyak taraf dan jenis. Jika suatu komunitas diartikan sebagai terjadinya kesatuan dan keeratan hubungan di antara anggota-anggotanya, maka suatu permasalahan dapat dimaknai sebagai masalah bersama. Jika dalam suatu komunitas terdapat masalah tertentu, maka semua anggotanya terhadap masalah tersebut adalah sama.

3. Di manakah psikologi komunitas diterapkan

Psikologi komunitas secara tipikal tidak dilakukan di klinik-klinik, akan tetapi lebih banyak dilakukan di lapangan atau lingkungan dan organisasi sosial tertentu, bahkan bisa jadi psikologi komunitas ini diterapkan dalam lingkungan politik.

4. Bagaimana pelayanan direncanakan

Para ahli komunitas secara proaktif mengakses kebutuhan dan risiko yang terdapat dalam komunikasi. Ketika merencanakan kegiatan pelayanan dalam rangka psikologi komunitas, terdapat tiga taraf yang direncanakan, antara lain: prevensi (pencegahan), penanganan, dan pemeliharaan.

5. Apakah penekanan prevensi psikologi komunitas

Psikologi komunitas menekankan pada prevensi daripada penanganan terhadap gangguan yang terjadi. Jika psikologi klinis membahas mengenai perilaku bagaimana yang dapat menunjang dan memelihara kesehatan, maka yang paling esensial dalam psikologi komunitas adalah adanya prevensi utama dalam menjaga kesehatan.

6. Siapa yang berkualifikasi untuk melakukan intervensi

Dalam membangun kesejahteraan perorangan, keluarga, maupun masyarakat, tidak harus langsung oleh tenaga profesional, yang kenyataanya selalu kekurangan jumlah dibandingkan dengan jumlah orang yang membutuhkan.

Untuk musibah-musibah tertentu utamanya, keseluruhan tenaga taraf profesional tidak memadai untuk menanganinya. Oleh karena itu diperlukan sukarelawan untuk membantu melaksanakan apa yang harusnya dilakukan oleh profesionalnya. Mereka disebut sebagai para profesional.

Peranan mereka ketika musibah-musibah di Indonesia terjadi tentunya sangat menentukan dan sangat membantu. Mereka (para profesional) yang memiliki keahlian dalam bidang psikologi diharapkan dapat memberikan terapi dalam meringankan beban para klien yang kedapatan memiliki masalah atau musibah.

Baca Juga: Mengenal Asesmen Multimetode dalam Psikologi

Andrew Pomerantz (2014) mengatakan bahwa informasi latar belakang sebagai yang ekstensi mungkin relevan untuk masalah-masalah psikologi seorang anak. Jadi, psikolog klinis harus berupaya untuk mendapatkan informasi tersebut sebanyak mungkin. Informasi latar belakang ini dapat membantu psikolog untuk mengapresiasi seluruh keadaan ketika muncul masalah yang dialami anak.

Sebagian informasi latar belakang ini berkaitan langsung dengan masalah yang dialami, sementara sebagian lainnya lebih kontekstual, tetapi bagaimanapun juga tetap penting. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dicari jawabannya oleh psikolog klinis adalah sebagai berikut misalnya:

1. Masalah yang dialami: apa, tepatnya, masalah yang dialami? Apakah semua pihak (orang tua, anak, guru, dan lain lain) setuju tentang definisi masalah itu? Kapan masalah itu timbul? Bagi siapa masalah ini paling meresahkan?

2. Perkembangan: apa tahap perkembangan fisik, kognitif, bahasa dan sosial anak itu sekarang? Apakah pernah ada anormalitas perkembangan selama masa kanak-kanak atau selama periode prenatal? Apakah anak itu telah mencapai semua tonggak perkembangan pada titik-titik waktu yang diharapkan?

3. Orang tua/keluarga: apa karakteristik-karakteristik orang tua anak yang relevan? Apa pola asuh yang digunakan? Apa faktor-faktor orang tua (psikologis, medis, dan lain lain) mungkin berperan di dalam masalah anak itu? Bagaimana saudara-saudara kandung atau anggota keluarga lain mempengaruhi anak tersebut?

4. Lingkungan: apa lingkungan berpengaruh lebih besar dari keluarga anak itu? Apa faktor-faktor etnik atau budaya yang relevan yang memainkan peran di dalam perilaku anak itu? Apakah ada peristiwa penting yang baru-baru saja terjadi di dalam kehidupan anak yang mungkin menjadi faktor bagi masalahnya saat ini?

Baca Juga: Standart dalam Assesment

Psikolog klinis anak mungkin menerima jawaban berbeda untuk pertanyaan-pertanyaan di atas dari orang-orang berbeda berbeda di dalam kehidupan anak. Untuk alasan ini, penting untuk menyandarkan diri pada lebih dari satu sumber informasi ketika menilai seorang anak.

Secara lebih umum, sebuah pendekatan pluralistik untuk menilai anak adalah praktik klinis yang baik. Faktanya, mareell (2008) menganjurkan sebuah pendekatan multisumber, multimetode, multi lingkungan untuk asesmen anak.

Asesmen multisumber melibatkan pihak-pihak seperti orang tua, saudara, guru, personel teman sekolah, dan lainnya. Dan tentu saja, anak itu sendiri sebagai sumber informasi tentang masalahnya. Menyandarkan pada salah satu sumber saja di antara sumber-sumber akan berisiko menghasilkan perspektif yang memihak atau tidak lengkap mengenai masalahnya.

Asesmen multimetode melibatkan penggunaan metode-metode pengumpulan data yang berbeda oleh psikolog klinis seperti wawancara, kuesioner dan kertas yang dikerjakan oleh anak atau orang-orang yang mengenal anak dengan baik, obeservasi langsung terhadap perilaku anak, dan teknik-teknik lain.

Asesmen multi lingkungan mengakui bahwa kadang-kadang masalah anak merembes ke seluruh aspek kehidupanya, tetapi kadang-kadang spesifik untuk situasi-situasi tertentu. Jadi, akan bijaksana untuk mengumpulkan data dari rumah, sekolah, kantor klinis dan lingkungan lain yang relevan.

 

Penulis: Muhammad Farell Varian (1707016002)

Posting Komentar untuk "Bentuk Intervensi dalam Psikologi"