Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hak dan Kewajiban Dalam Pengembangan Diri

Initentangpsikologi.com - Hak dan kewajiban merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dalam hidup.

Hak dan Kewajiban Dalam Pengembangan Diri
Ilustrasi (pexels.com)

Orang akan secara otomatis memiliki hak ketika sudah menunaikan kewajibannya. Seperti orang yang bekerja lalu mendapatkan upah, itu merupakan sesuatu yang menjadi kesatuan yang sudah terpenuhi antara hak dan kewajiban. 

Bertens (2002) dalam perdebatan moral yang berlangsung pada masyarakat dewasa ini paham bahwa “hak” memegang peranan penting. Maka tak heran jika kita sering mendengar atau membaca tentang hak-hak asasi manusia dan penerapannya. 

Contoh: 

1) Dalam diskusi tentang abortus provocatus, yang di beberapa negara dijalankan dengan hebatnya, hak si ibu acap kali dipertentangkan dengan hak janin yang belum lahir. 

2) Dalam diskusi etis di bidang kedokteran sering disebut hak pasien.

3) Pada pertukaran pikiran etis tentang masalah ekologi dan lingkungan hidup tak jarang kita dengar tentang hak generasi-generasi mendatang. 

4) Dalam perdebatan tentang etis tidaknya suatu eksperimen ilmiah sering diacu pada hak subyek penelitian, bahkan ke hak binatang yang dipakai untuk penelitian. 

5) Dalam forum internasional berulang kali ditekankan bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri. 

Dan pastinya masih banyak contoh-contoh lain lagi. 

Baca Juga: Teori Konstruk Kepribadian George Kelly

Pentingnya Hak dalam Pengembangan Diri

Mengingat pentingnya hak dalam perdebatan moral dewasa ini, kita dapat merasa heran mengapa tema ini jarang dibahas dalam konteks filsafat moral. Tidak banyak buku tentang etika umum memaparkan tema “hak” ini secara eksplisit.  

Di luar etika umumnya, dalam kerangka filsafat hukum dan filsafat politik, misalnya, pembahasan soal “hak” sering dapat ditemukan. Dan memang pantas dibicarakan di situ. Sebab, tidak bisa disangkal bahwa hak berkaitan erat dengan posisi manusia terhadap negara dan dengan manusia sebagai subyek hukum. 

Tapi di sisi lain hak berhubungan erat dengan manusia sebagai makhluk moral dan karena itu perlu dipelajari juga dalam kerangka etika umum. Karena ada hubungan khusus antara hak dan kewajiban. 

Akhir-akhir ini semakin tendensi untuk menyoroti hak dalam konteks etika. Jadi, dalam hal ini kita mengikuti kecenderungan yang sudah tampak. Akan tetapi, walaupun hak harus dianggap penting sebagai topik untuk etika umum, namun tempatnya terbatas juga.

Antusiasme untuk tema ini tidak boleh menjadi sedemikian besar, sehingga hak diberikan kedudukan yang berlebihan. Karena perlu kita sadari bahwa etika tidak bisa disamakan dengan soal hak saja.

Pembagian Hak: Hak Individu dan Sosial

Bertens (2002) pembagian dalam hak individual dan hak sosial sering dikemukakan dalam hubungan dengan Deklarasi Universal tentang hak-hak asasi manusia yang diproklamasikan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 1948. 

Di situ dengan jelas tampak dua macam hal. Pertama-tama ada hak yang dimiliki individu-individu terhadap Negara. 

Negara tidak boleh menghindari atau mengganggu individu dalam mewujudkan hak-hak seperti hak mengikuti hati nurani, hak beragama, hak berserikat, hak mengemukakan pendapat. Individu itu bebas untuk mengikuti hati nurani dan mewujudkan hak-hak lainnya. 

Di samping itu ada lagi jenis hak lain yang dimiliki manusia bukan terhadap Negara, melainkan justru sebagai anggota masyarakat bersama dengan anggota-anggota lain. Hak-hak ini bisa disebut hak sosial. Contohnya ialah hak atas pekerjaan, hak atas pendidikan, hak atas pelayanan kesehatan. Hak-hak ini semua bersifat positif.

Perbedaan antara dua macam hak ini terutama berperan dalam pertentangan antara dua blok politik yang besar dalam Perserikatan Bangsa-bangsa selama “Perang Dingin” yang menyusul Perang Dunia II: blok komunis dan blok barat. 

Bagi blok komunis hak-hak manusia yang paling penting adalah hak-hak sosial, sedangkan hak-hak individual paling banyak ditekankan oleh blok Barat. 

Kembali lagi pada perbedaan ini, bila kita berbicara tentang individualism yang sering dianggap sebagai akibat diakuinya hak manusia. Setiap individu yang ada pasti memiliki hak mengungkapkan apa yang sudah menjadi keinginan yang ingin dicapai, karena itu merupakan suatu hakikat setiap diri. 

Seperti, setiap orang ingin memiliki hak untuk merdeka dalam beraktualisasi diri dalam sosial yang merupakan hal paling pokok dalam diri seseorang

Alwisol (2011) Maslow menemukan dalam penelitiannya bahwa banyak orang yang mencapai aktualisasi diri ternyata mengalami pengalaman puncak: suatu pengalaman mistik mengenai perasaan dan sensasi yang mendalam, psikologi dan fisiologi. 

Suatu keadaan di mana seseorang mengalami ekstasi-keajaiban-terpesona-kebahagiaan yang luar biasa, sepeti pengalaman keahlian yang mendalam, di mana saat itu diri seperti hilang atau mengalami transendensi. 

Pengalaman puncak itu bisa diperoleh dari mengalami sesuatu yang sempurna, nyata dan luar biasa. Menuju keadilan atau nilai yang sempurna. Sepanjang mengalami hal itu, orang merasa sangat kuat, percaya diri dan yakin.

Gambaran Pengalaman Puncak

Pengalaman puncak mengubah seseorang menjadi luas. Maslow menerima gambaran pengalaman puncak yang disusun oleh Willian James, sebagai berikut:

1.Tak terlukiskan (ineffability): subjek sesudah mengalami pengalaman puncak segera mengatakan bahwa itu adalah ekspresi keajaiban, yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, yang tidak dapat dijelaskan kepada orang lain.

2. Kualitas kebenaran intelektual (neotic quality): pengalaman puncak adalah pengalaman menemukan kebenaran dari hakikat intelektual.

3. Waktunya pendek (transiency): keadaan dalam pengalaman puncak tidak bertahan lama, umumnya hanya berlangsung 30 menit atau paling lama satu atau dua jam (jarang sekali ada yang berlangsung lebih lama), pengalaman itu menjadi kabur dan orang kembali ke dunianya sehari-hari.

4. Pasif: orang yang mengalami pengalaman puncak merasa kemauan dirinya tergusur (abeyance), dan terkadang dia merasa terperangkap dan dikuasi oleh kekuatan yang sangat besar.

Pada mulanya Maslow berpendapat bahwa pengalaman puncak ini hanya dapat dialami oleh orang-orang tertentu saja. Khususnya mereka yang sudah mencapai aktualisasi diri. Mereka akan mengalaminya secara teratur dan berkali-kali. 

Namun sesudah Maslow semakin terampil mewawancarai orang mengenai pengalaman-pengalaman orang itu, dia menemukan bahwa sebagian besar “rata-rata orang” pernah mengalami pengalaman puncak. 

Masalahnya, orang-orang cenderung mereaksinya dengan melarikan diri alih-alih dengan penerimaan  yang “terbuka”. 

Orang yang pandangan hidupnya materialis dan mekanistik adalah orang yang secara tak sadar berusaha melarikan diri dan melupakan pengalaman puncak, mereka sengaja menghilangkan bagian kehidupan spiritual yang sangat penting dari kehidupannya. 

Baca Juga: Penerapan Teori Konstruk George Kelly

Pengaruh pengalaman puncak dapat berjangka lama-tidak mudah hilang (lasting), antara lain:

1. Hilangnya simptom neurotik.

2. Kecenderungan melihat diri sendiri lebih sehat.

3. Perubahan pandangan mengenai orang lain dan hubungan dirinya dengan mereka.

4. Perubahan pandangan diri mengenai dunia.

5. Munculnya kreativitas, spontanitas, dan kemampuan mengekspresikan diri.

6. Kecenderungan mengingat pengalaman puncak itu dan berusaha mengulanginya.

7. Kecenderungan melihat kehidupan secara umum sebagai hal yang lebih berharga.

Aktualisasi diri yang dicapai melalui pengalaman puncak membuat orang lebih religius, mistikal, dan indah/bijaksana (poetical) dibanding dengan aktualisasi yang diperoleh melalui pengembangan diri (yang lebih praktis, membumi, terikat dengan urusan keduniaan).

 

Penulis: Didin Kusuma (1707016035)

Posting Komentar untuk "Hak dan Kewajiban Dalam Pengembangan Diri"