Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Psikologi Bermain: Teori Kognitif Menurut Piaget dan Bruner

Teori Piaget

Menurut Piaget anak mengalami tahapan perkembangan kognisi sampai dengan proses berpikirnya menyamai orang dewasa. Sejalan dengan hal itu kegiatan bermain pun mengalami tahapan perkembangan dari tahap sensori motor sampai dengan tahap bermain dengan peraturan yang baku. 

Teori Kognitif Menurut Piaget dan Bruner
Ilustrasi (pexels.com/@ron-lach)

Menurut Piaget bermain tidak saja menggambarkan tahap perkembangan kognisi anak tetapi bermain juga memberikan sumbangan yang nyata pada perkembangan kognisi anak itu sendiri.

Piaget berpendapat bahwa dalam proses belajar perlu adaptasi, dan adaptasi memerlukan keseimbangan antara dua proses yang saling mendukung yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses penggabungan informasi baru dengan struktur kognisi anak. Dalam proses asimilasi ini dapat terjadi distorsi, modifikasi atau pembelokan fakta untuk disesuikan dengan kognisi yang dimiliki anak. Sedang akomodasi adalah mengubah struktur kognisi seseorang untuk disesuikan, diselaraskan, dengan atau meniru apa yang diamati dalam kenyataan.

Bermain adalah keadaan tidak seimbang di mana asimilasi lebih dominan dari pada akomodasi. Peniruan juga merupakan suatu keadan yang tidak seimbang antara akomodasi dan asimilasi, akomodasi mendominasi asimilasi. Keadaan yang tidak seimbang ini dengan sendirinya kurang menguntungkan terhadap proses belajar.

Piaget mengemukakan bahwa pada saat bermain anak sebenarnya tidak belajar hal yang baru tetapi anak mempraktikkan dan mengkonsolidasi keterampilan yang baru diperoleh. Hal ini sangat penting karena suatu keterampilan baru akan hilang jika tidak dipraktikkan dan dikonsolidasikan.

Kegiatan bermain juga dipengaruhi oleh tingkat perkembangan kecerdasan anak. Anak-anak yang mempunyai kecedasan di bawah rata-rata dalam kegiatan bermain akan mengalami banyak hambatan.

Baca Juga: Alat Permainan Edukatif Indoor dan Outdoor

Tahap-tahap Perkembangan Bermain

Menurut Jean Piaget tahapan perkembangan bermain anak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berikut:  

Sensori Motor (Sensory Motor Play)

Tahap ini terjadi pada anak usia 0-2 tahun. Pada tahap ini kegiatan bermain anak lebih mengandalkan indera dan gerak-gerak tubuhnya. Untuk itu, pada usia ini mainan yang tepat untuk anak ialah yang dapat merangasang panca indreanya, misalanya mainan yang berwarna cerah, memiliki banyak bentuk dan tekstur, serta mainan yang tidak mudah tertelan oleh anak.

Praoperasional (Symbolic Play)

Tahap ini terjadi pada anak usia 2-7 tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai bisa bermain imajinasi dan pura-pura, banyak bertanya, dan mulai mencoba hal-hal baru, dan menemui simbol-simbol tertentu.

Adapun alat permainan yang cocok untuk usia ini adalah yang mampu merangsang perkembangan imajinasi anak, seperti menggambar, balok/lego, dan puzzle. Namun sifat permainan anak usia dini lebih sederhana dibandingkan dengan operasional konkret.

Operasional Konkret (Social Play)

Tahap ini terjadi pada anak usia 7-11 tahun. Pada tahap ini anak sudah bermain menggunakan nalar dan logika yang bersifat objektif. Adapun alat permainan yang tepat untuk usia ini ialah yang mampu menstimulasi cara berpikir anak.

Melalui alat permainan yang dimainkan maka anak dapat menggunakan nalar maupun logikanya dengan baik. Bentuk permainan yang bisa digunakan di antaranya: dakon, puzzle, ular tangga, dan monopoli.

Formal Operasional (Game with Rules and Sport)

Terjadi pada tahap anak usia 11 tahun ke atas. Pada tahap ini anak sudah bermain menggunakan aturan-aturan yang sangat ketat dan lebih mengarah pada game atau pertandingan yang menuntut adanya menang dan kalah.

Tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh piaget berawal dari ketertarikan anak terhadap suatu kegaiatan yang memberikan pengalaman dan kenikmatan, kemudian masuk pada tahap bermain fantasi di mana anak sering berimajinasi. 

Setelah itu kegiatan anak mulai dikendalikan oleh aturan-aturan dan mulai berinteraksi dengan orang lain. Terakhir, kegiatan bermain anak lebih mengarah pada kegiatan-kegiatan olahraga yang memiliki aturan lebih ketat namun tetap digemari oleh anak-anak.

Teori Bruner

Bruner dikenal sebagai tokoh psikologi kognitif. Bruner menegaskan bahwa tujuan akhir dari pengajaran adalah untuk meningkatkan pemahaman umum tentang struktur materi pelajaran.

Bruner menekankan pentingnya pembentukan konsep global dalam pembelajaran dan membangun hubungan konsep secara umum. Bruner menghimbau guru untuk membantu menciptakan (membangun) kondisi di mana siswa dapat melihat struktur dari subyek tertentu.

Ketika pembelajaran didasarkan pada struktur, materi yang dipelajari akan lebih tahan lama atau cenderung tidak mudah dilupakan. Kondisi yang demikian, dikenal dengan “teori pengajaran Bruner” bukan teori belajar Bruner.

Menurut Bruner, teori belajar itu deskriptif, yaitu mendeskripsikan apa yang terjadi sesudah ada fakta. Sebaliknya, teori pengajaran bersifat menentukan (prescriptive), teori pengajaran ditentukan terlebih dahulu sebelum dilakukan praktek mengajar yang dianggap paling baik.

Tiga Proses Berpikir Bruner

Menurut Bruner, berpikir merupakan gabungan dari tiga proses, yaitu penerimaan (acquisition), transformasi (transformation), dan menguji ketepatan (testing of adequacy). Tiga langkah tersebut merupakan pengorganisasian aktif dari individu dalam memperoleh pengetahuan, yang merupakan ciri khas dari teori dasar kognitif.

Penerimaan (acquisition) sama halnya dengan penerimaan sensorik dan sintesis. Penerimaan (acquisition) merupakan proses menerima persepsi dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Dangan kata lain, adanya pengalaman baru akan menambahkan pengetahuan yang lama, memperluas dan memperdalam serta ada kemungkinan informasi yang baru bertentangan dengan informasi yang lama.

Transformasi (transformation) merupakan perubahan persepsi baru dan pengetahuan ke dalam bentuk yang lebih bermakna. Sementara menguji ketepatan (testing) merupakan tindakan yang dirancang untuk menilai kecukupan dan ketepatan pengetahuan yang ada dalam rangka menilai proses transformasi.

Proses kedua dan ketiga menyerupai ide Piaget yakni asimilasi dan akomodasi. Transformasi dan asimilasi keduanya mengarah pada proses mengubah informasi sesuai dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Menguji ketepatan dan akomodasi keduanya merupakan proses penyesuaian pengetahuan lama ke dalam pengetahuan yang baru. 

Ketiga proses belajar tersebut berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Anak tidak dapat menerima (acquire) pengetahuan tanpa melakukan transformasi dan mengetes (menguji) pengetahuan tersebut dalam waktu yang hampir bersamaan. Dalam pembelajaran, guru bertanggung jawab untuk memberikan informasi dan keterampilan kepada anak serta memungkinkan anak untuk memproses informasi dan keterampilan tersebut.

Jerome Bruner secara mendalam menulis mengenai pemikiran manusia atau lebih tepatnya proses berpikir siswa dalam pembelajaran. Tulisannya dalam pendidikan menunjukkan adanya kecenderungan dalam filsafat Piaget yang kaya akan ide, meskipun penekanan teori pada bukti eksperimental dari masing-masing ide agak kurang.

Baca Juga: Kegiatan Bermain pada Anak dengan Kebutuhan Khusus

Tiga Mode Pembelajaran Jerome Bruner

Dalam proses memperoleh pemahaman, seorang anak belajar memahami sesuatu melalui tiga tahap perkembangan berikut:

Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan bahwa anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.

Pada tahap ini anak belajar suatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata, tanpa menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Anak akan memahami sesuatu dengan berbuat atau melakukan sesuatu. Jadi pada tahap ini sebagian besar pengetahuan dalam bentuk respon motorik.

Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret.

Pada tahap ini, pemahaman anak masih diperoleh dari benda nyata dalam wujud gambar bukan benda abstrak. Jadi pada tahap ini, pengetahuan sebagian besar lebih diwujudkan dalam citra visual. Contoh anak bisa menyimpulkan bahwa boneka kelinci mempunya dua telinga, empat kaki, satu ekor dan dua mata.

Tahap Simbolik

Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.

Pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.

Jadi, pada tahap ini pengetahuan sebagian besar dinyatakan dalam bentuk kata-kata, simbol matematika dan sistem simbol lainnya. Contoh dari tahap enaktif dan ikonik di atas dapat diambil informasi

- Banyaknya kaki dari ketiga kelinci adalah 4+ 4+4 = 12

- Banyaknya ekor dari ketiga kelinci 1+1+1 = 3

- Banyaknya mata dari ketiga kelinci 2+2+2 = 6

Bruner menekankan pada fungsi bermain sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas. Dalam bermain bagi anak adalah makna bermain itu sendiri bukan pada hasil akhir, sehingga anak bebas berekspresi dan bereksperimen untuk mencoba berbagai cara dalam mengatasi permasalahan dalam bermain.

Perilaku tersebut dilakukan berulang-ulang sehingga mampu terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari yang akhirnya menjadi salah satu pola kehidupannya.

Teori Peran Bermain dalam Perkembangan Anak

1. Kognitif Piaget mempraktikkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya.

2. Kognitif Bruner memunculkan fleksibilitas perilaku dan berpikir, imajinasi dan narasi.

 

Penulis: Qurotul A’yuni (1707016029)

Posting Komentar untuk "Psikologi Bermain: Teori Kognitif Menurut Piaget dan Bruner"