Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dekompensasi Psikotik dan Psikosa Organik

Initentangpsikologi.com - Gangguan psikis bukan merupakan gangguang yang jarang didengar oleh kita, gangguan psikis sudah banyak terjadi di kalangan masyarakat umum.

Dekompensasi Psikotik dan Psikosa Organik
Ilustrasi (pexels.com)

Di era modern seperti sekarang, semakin banyak beban-pikul psikis yang harus disandang seseorang, sementara daya-pikul atau kekuatan psikis seseorang semakin melemah. Ketidakmampuan seseorang memikul beban psikis ini disebut sebagai proses dekompensasi psikis (kegagalan melakukan kompensasi).

Dekompensasi psikis dapat berkembang menjadi psikosa dengan proses dekompensasi psikotik. Memangnya apa itu psikosa?

Jadi, psikosa atau psikosis merupakan suatu bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan adanya disintegrasi kepribadian (pecah pribadi) dan terputusnya hubungan diri seseorang dengan realitasnya.

Psikosa Organik

Seperti yang sudah disinggung di atas, psikosa atau psikosis adalah suatu bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan adanya disintegrasi kepribadian serta terputusnya hubungan diri seseorang dengan kenyataan (realitas).

Seorang individu disebut sebegai penderita psikotis apabila:

a) Reality testing-nya terganggu sama sekali, sehingga pikiran dan tanggapannya tidak sesuai dengan realitas, serta disertai dengan halusinasi dan delusi (waham).

b) Disintegrasi kepribadian yang dimaksud adalah orang tersebut mengalami kekalutan organis, kekalutan fungsional, dan kekalutan fungsi-fungsi kejiwaan. Misal terjadi pada fungsi intelegensi, kemauan dan perasaannya.

Kemudian hubungan diri si penderita dengan dunia luar dan realitasnya terputus, dan orang tersebut hidup di dalam dunia yang tidak riil, yaitu di dalam imaginary social world (dunua khayalan) yang diciptakannya sendiri.

c) Individu mereaksi tekanan-tekanan internal serta eksternal dengan cara yang keliru dan merugikan dirinya sendiri. Sehingga muncul semakin banyak gangguan afektif yang serius, ketakutan, kecemasan-kecemasan hebat, delusi dan halusinasi. 

Ringkasnya kehidupan psikisnya menjadi kacau-balau. Serta penyintas tidak berdaya dan tidak mampu lagi meluruskan kekusutan batinnya.

Seringkali, penyintas psikosa menderita rasa ketakutan yang sangat hebat, dihinggapi depresi, delusi, halusinasi, regresi stupor (tidak bisa merasakan sesuatu apapun, keadaan seperti terbius) dan tidak mempunyai insight sama sekali.

Fenomena lainnya yang kerap muncul seperti mengamuk disertai kekerasan atau serangan-serangan hebat dan tidak terkendali. Sehingga dapat membahayakan dan mengancam keselamatan orang lain, juga bisa berbahaya bagi dirinya karena adanya usaha untuk bunuh diri. Sehingga mereka perlu mendapatkan perawatan dalam rumah sakit jiwa.

Psikosa digolongkan menjadi dua yaitu: psikosa organik dan psikosa fungsional. Psikosa organik yaitu psikosa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik dan faktor-faktor internal, hereditas, predisposisi, infeksi, trauma yang mengakibatkan penyintasnya mengalami kekalutan mental, mal-adjustment dan incompetent secara sosialnya.

Psikosa organik biasanya disertai dengan gangguan organik juga yang pada umumnya disebabkan oleh gangguan-gangguan pada otak (terjadi organic brain disorder) yang mengakibatkan berkurang atau rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, perasaan dan keamanan. Beratnya gangguan yang diderita tergantung pada parahnya kerusakan organik pada otaknya.

Sementara itu psikosa fungsional disebabkan oleh faktor-faktor non-organik dan ada mal-adjustment fungsional yang berat sehingga penyintas mengalami kepecahan pribadi secara total serta menderita mal-adjustment intelektual serta instabilitas pada karakternya.

Baca Juga: Mengenali Macam-macam Gangguan Perasaan

Perbedaan Psikosa dan Psikoneurosa

Perbedaan Psikosa dan Psikoneurosa
Ilustrasi (pexels.com)

Faktor Tingkah Laku

Psikoneurosa: Gangguan mengenai sebagian kepribadian. Tanggapan individu terhadap lingkungan sosialnya tidak terlalu terganggu, karena masih ada kontak terhadap realitasnya.

Psikosa: Gangguan mengenai seluruh kepribadiannya. Tidak ada kontak sama sekali dengan realitas atau lingkungannya.

Sifat Symptom

Psikoneurosa: Biasanya bersifat sementara dan tetap (tidak ada peningkatan gejala gangguan). Tidak jahat (mildly). Penyintas tidak memiliki kapasitas untuk partisipasi sosial tetapi jarang terjadi gangguan bicara.

Psikosa: Penyakitnya terus menerus dan sifatnya progresif (bertingkat-tingkat naik). Tidak adanya partisipasi sosial sama sekali (tidak ada kemampuan) serta sering terjadi gangguan bicara.

Orientasi

Psikoneurosa: Jarang kehilangan orientasi terhadap lingkungan maupun orang lain.

Psikosa: Seringkali hilang orientasi terhadap orang maupun lingkungannya.

Insight

Psikoneurosa: Masih memiliki insight terhadap sifat dan tingkah lakunya sendiri.

Psikosa: Seringkali tidak menyadari perbuatanya sendiri serta jarang mempunyai insight terhadap sifat dan tingkah lakunya sendiri.

Aspek Sosial

Psikoneurosa: Tingkah lakunya jarang yang agresif atau menyerang hingga mencederai diri sendiri ataupun orang lain sehingga jarang membahayakan diri sendiri maupun masyarakat. Biasanya tidak memerlukan hospitalisasi atau perawatan di rumah sakit jiwa.

Psikosa: Bisa berbahaya bahkan melukai diri sendiri atau menyebabkan bahaya bagi orang lain. Pada umumnya penyintas psikosa membutuhkan perawatan di rumah sakit jiwa.

Treatment

Psikoneurosa: Biasanya penyintas psikoneurosa mudah diatur sebab penurut. Lebih banyak kemungkinan kesembuhan yang sifatnya permanen. 

Psikosa: Pada umumnya penyintas psikosis sukar sekali dikendalikan. Kesembuhan yang permanen jarang terjadi.

Baca Juga: Penyebab Orang Ingin Melakukan Bunuh Diri dan Upaya Mencegahnya!

Pengelompokan Psikosa Organik

Pengelompokan Psikosa Organik
Ilustrasi (pexels.com)

Psikosa organik selalu disertai dengan kerusakan-kerusakan atau gangguan organik. Khususnya pada otak (organic brain disorder), hal ini mengakibatkan berkurang ataupun rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, kemauan dan motorik. Berat tidaknya gangguan bergantung pada parahnya kerusakan organik pada otak tersebut.  

Penyintas psikosis tidak memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya serta mengalami mal-adjustmen berat. Akibat dari kerusakan organik yang diderita, tingkah laku yang ditimbulkan oleh penyintas psikosa terlihat abnormal dan irrasional, sehingga dianggap sangat pasif, inkompeten bahkan kadang-kadang menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar dan dirinya sendiri.

Secara hukum, penyintas dinyatakan sebagai gila. “Gila” ini merupakan istilah hukum atau sosiologis, dan bukan istilah psikologis. Karena istilah dalam psikologi adalah ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Dalam kelompok psikosa organik dimasukan jenis-jenis psikosa sebagai berikut:

1. Toxic Psychosis (psikosa disebabkan oleh keracunan)

a) Alkoholisme

Pada gangguan alkoholisme biasanya terjadi peristiwa amentia. Amentia akibat alkoholisme biasanya disebabkan oleh infeksi, karena bayi dan otak bayi terlalu banyak keracunan alkohol sejak ia di dalam kandungan ibunya atau ketika dekat dengan kelahirannya.

Jadi, apabila seorang ibu yang tengah mengandung sering meminum minuman beralkohol dan sering mabuk-mabukan, maka pada umumnya akan melahirkan bayi yang lemah badan dan lemah ingatannya (mental retarded).

Dari 1745 kasus peminum alkohol yang diselidiki di Amerika telah terbukti bahwa dampak negatif dari alchoholisme ini ialah tidak hanya berakibat buruk terhadap sistem syaraf dari peminumnya sendiri, namun juga berdampak pada anak keturunannya bahkan sampai pada generasi ketiga yaitu dengan timbulnya gejala-gejala neurosa atau efek pada otak, atrofi serta degenerasi pada sel-sel otak.

Pada psikotik alkoholisme ada dua macam yaitu:

a. Alchoholic Psychosis

Disebabkan karena alkoholisme berat dan terjadi psikosa alkoholic pada peminum-peminum kelas berat. Penderitanya pada umumnya akan mengalami delirium tremens.

Sementara ciri-ciri sebagai berikut:  

  • Mengalami motor tremens (gerak-gerak yang gemetaran pada otot-otot tertentu) disertai dengan berlangsungnya atrofi berat pada sel-sel otak, hati, jantung, ginjal dan lain-lain.  
  • Diikuti dengan halusinasi, biasanya halusinasi visual. 
  • Adanya gangguan insomnia, jika dapat tidur pun penyintas biasanya mendapatkan mimpi-mimpi yang menakutkan. 
  • Orientasi yang semakin berkurang. 

b. Korsakow’s Psychosis

Para penyintasnya selalu mengalami kebingungan dan kekacauan mental. Cepat lupa dan pikun; kehilangan orientasi dan terdapat simptom-simptom lain yang sama halnya seperti pada peminum alkohol umumnya.

Penyintasnya juga mengalami polineuritis (multiple neuritas) dengan simptom kehilangan ingatan dan retrograde amnesia (kehilangan ingatan pada semua peristiwa sebelum terjadinya gangguan ini). Kemudian timbul kecenderungan untuk meracau atau bicara tanpa arti.

Penyebab dari korsakow’s psychosis ialah karena keracunan alkohol atau disebabkan oleh kekurangan makan secara akut dan kronis.

Baca Juga: Gangguan Emosional - Gangguan pada Fungsi Perasaan

b) Drug Psychosis

Disebabkan oleh ganja, mariyuana, cocaine, barbiturate (pil-pil tidur), amphetamine, candu, morfin dan heroin.

Gejala-gejala akibat penggunaan candu, ganja, morfin dan heroin ini antara lain

Simptom fisik: hilangnya nafsu makan serta hanya merasa selalu haus. Terdapat gangguan pada pencernaan makanan seperti tidak dapat buang air besar bahkan sampai diare. Mata dan hidung yang terus berair. Sering muntah. Kulit, rambut dam mulutnya selalu kering. Bibirnya berwarna biru dan kering. Bola mata menjadi mengkerut. Rambut rontok. Badan dan otot gemetaran. Tidak bisa tidur, walaupun badan terasa sangat lelah. Selalu gelisah dan bingung.

Simptom psikis: tidak mampu berkonsentrasi. Jadi pelupa atau pikun. Hilangnya ambisi dan hilangnya segenap gairah beraktivitas. Tidak dapat bertanggung jawab, tidak bisa mengadakan adjustmen. Dipenuhi rasa-rasa ketakutan, kepedihan, halusinasi yang tidak menyenangkan. Dihinggapi europhia, (delusi paranoia) delusion of persecution seperti merasa dikejar-kejar, sering merasa putus asa sehingga timbul hasrat yang sangat kuat untuk bunuh diri.

Gejala-gejala akibat cocaine:

Simptom fisik: Otot-otot menjadi lemah. Ada gangguan pencernaan makanan. Timbul rasa geli dan gatal seperti dirayapi binatang-binatang kutu pada seluruh kulitnya.  

Simptom psikis: menjadi overaktif, terus berbicara (talkactive) serta selalu gelisah. Dihinggapi halusinasi yang cepat berganti. Ada perasaan tenang dan damai yang menjurus pada putus asa. Kadang ada simptom mengasingkan diri disertai ketakutan yang kronis. Ada delusi keagungan (delusion of gandiose) atau delusi iri hati dan cemburu (delusion of jealous).

Baca Juga: Definisi Kesehatan Mental dan Gangguan Mental

c) Lead Psychosis (Plumbisme)

Penyebab psikosa jenis ini ialah keracunan bau atau serbuk-serbuk timah hitam yang ikut terhisap ke dalam paru-paru. Sehingga terjadilah reaksi toxic (reaksi peracunan) dengan gejala sesak nafas, batuk-batuk dan muntah-muntah.

Sedangkan simptom psikis akibat keracunan ini antara lain: 

  • Kelelahan yang ekstrim, orang menjadi lekas marah. 
  • Pada keracunan akut akan terjadi delirium, bingung dan cemas. 
  • Disertai halusinasi, insomnia bahkan dapat menimbulkan tumor. 
  • Peracunan ini dapat merusak selaput otak sehingga mengakibatkan gangguan mental yang parah, dengan simptom utama cepat lupa akan kejadian yang baru berlangsung, cepat marah dan tidak dapat berpikir.

2. Syphilitic Psychosis

Pada janin yang sudah terinfeksi umumnya penyakit syphilis berediter (turun temurun, congential syphilis) sewaktu ia masih dalam kandungan sang ibu. Bakteri syphilis disebut traponema pailidium yang bisa menyerang bayi sebelum lahir.

Jika bayi yang masih di dalam kandungan terinfeksi biasanya mengalami keguguran bahkan lahir mati. Ada bayi yang masih hidup tetapi kecil kemungkinanya. Dan jika terlahir biasanya menderita anemia, kurang bobot, dan memiliki abnormalitas lainnya. Misalnya: buta, tuli, kurang intelegensinya, defek mental, serta defek lainnya.

Penyakit syphilis yang ringan pada orang dewasa akan mengakibatkan amentia ringan baik pada si penderita sendiri maupun pada keturunanya. Biasanya terdapat defek mental ringan, retardasi, dan imbisilitas.

Sedangkan pada syphilis berat mengakibatkan kerusakan-kerusakan besar pada otak. Adakalanya menyebabkan serangan epileptic pada penderitanya. Sering pula menimbulkan paralysa, yaitu kelumpuhan total, atau bisa juga mengalami kelumpuhan sebagian. 

Baca Juga: Gangguan-gangguan Fungsional, Laesional, dan Psikogen

a) Dementia Paralytica

Atau disebut juga dengan general paralysis yang disebabkan oleh infeksi syphilis yang mengakibatkan degenerasi yang progresif pada sel-sel otak. Simptomnya antara lain: 

  • Mula-mula pupil mata berukuran tidak biasa kemudian mengalami papil atrofi dan refleksinya jadi lambat atau menumpul. 
  • Bibir dan lidah mulai bergetar, mengalami tremor kemudian penyintasnya menjadi gagap dan perkataanya tidak jelas. 
  • Lama-kelamaan indra atau alat untuk berbicara mengalami kerusakan total. 
  • Pandangan matanya kosong dan menderita locomotor ataxia (koordinasi motoriknya sangat sukar) saat berjalan selalu menyeret kaki, tumitnya tanpa refleks. 
  • Bila kerusakan pada otaknya bersifat hebat, penderitanya mengalami epilepsi atau ayan.

b) Juvenile Paresis

Akibat lain dari penyakit syphilis ini yaitu hasil congential syphilis, ketika janin masih ada dalam kandungan. Muncul paresis atau kelumpuhan-kelumpuhan parsial (menyeluruh) atau sebagian pada masa kanak-kanak atau usia puber dan adolesens.

Kerusakan-kerusakan fisik terutama berupa kerusakan pada sel-sel orak dan syaraf-syaraf yang disebut dengan infiltrasi (masuknya) kuman-kuman syphilis. Terjadi kerusakan-kerusakan jasmaniah (fisik) dan kerusakan-kerusakan mental disebabkan oleh kerusakan-kerusakan otak akibat kuman-kuman syphilis.

c) Carebo-Spinal Syphilitic Psychosis

Terjadinya psikosa ini akibat dari adanya kerusakan selaput otak dan urat-urat darah pada otak (bukan pada pusat otak dan jaringan otaknya). Serangan pada umumnya berlangsung lebih awal, kira-kira 2 atau 3 tahun sesudah terjadinya infeksi pertama. 

Symptom fisik antara lain: 

  • Sakit kepala kronis, pusing-pusing, penglihatan jadi kabur. 
  • Sering menderita insomnia. 
  • Selalu mual, merasa mengantuk. 
  • Disertai serangan epileptic dan apoplectiform (sering pingsan-pingsan). 
  • Adakalanya tumbuh tumor atau serangan meningitis. 
  • Panyintas selalu bingung dan ada kesukaran dalam konsentrasi berpikirnya. 
  • Kadang-kadang penyintas mengalami serangan epileptic (ayan) lalu menjadi kejang-kejang dan pingsan (disebut apoplectiform).  

Symptom psikisnya antara lain: 

  • Berupa kurang daya konsentrasi, fungsi inteleknya menjadi lumpuh, lekas lupa. 
  • Emosinya tidak terkendali dan meledak-ledak, ada kalanya euphoris ada kalanya menjadi depresif.

 Baca Juga: Mengenali Jenis-jenis Gangguan Disosiatif

d) Tabes Dorsalis (Locomotor Ataxia)

Tabes dorsalis = degenerasi pada sumsum tulang punggung, locomotor ataxia = gerakan-gerakan yang tidak teratur. Penyebab dari tubes dorsalis yaitu akibat infeksi oleh bakteri syphilis sehingga terjadi pengapuran atau pengerasan dan degenerasi pada akar dan neuron yang berada di tali spinal (sumsum tulang punggung). 

Symptom fisik antara lain: 

  • Berjalan sempoyongan (tabetic gain) yaitu satu kaki melangkah terlalu jauh dan harus ditarik kebelakang kembali sebelum berat badanya diletakan pada kaki tersebut. 
  • Adanya inkoordinasi pada sendi dan otot serta refleks yang rusak. 
  • Muntah tanpa rasa mual. 
  • Rasa sakit dan nyeri pada dua kakinya. 
  • Penglihatan menjadi rabun atau kabur. 
  • Pada tingkat yang berat terjadi kelumpuhan total serta adanya mati rasa pada kulit.  

Symptom psikisnya antara lain: 

  • Menjadi exited, sangat gelisah, sering meledak-ledak tak terkendali. 
  • Dipenuhi ketakutan-ketakutan dan kerapkali disertai delution of persecution (delusi merasa dikejar-kejar). 
  • Dorongan seksnya menjadi berkurang.

3. Sinile Psychosis

Terjadi psikosis karena usia tua, kira-kira berlangsung sekitar usia 60 tahun. Terdapat perubahan-perubahan jasmaniah dan mental yang sifatnya degeneratif, sehingga terjadi kemunduran pada semua fungsi mental dan fisik. 

Jika perubahan tersebut terjadi secara cepat dan kuat, maka terjadilah penyakit jiwa (kegelisahan, psikosa) umur lanjut. Ada dua psikosa pada usia tua yaitu:

a) Sinile Dementia

Terjadinya bertingkat-tingkat, disertai kemunduran fisik dan mental secara progresif. Simptom fisik antara lain: 

  • Gangguan ingatan dan fungsi intelek yang makin tidak efisien. 
  • Pada beberapa kejadian disertai rasa sakit dan nyeri di berbagai anggota tubuh. 

Sedangkan simptom psikisnya antara lain: 

  • Mudah gelisah, insomnia, mudah tersinggung, kurang perhatian pada sekitarnya. 
  • Suka iri hati, cenderung kea arah paranoid. 
  • Terdapat gangguan dalam fungsi pikir, yang berat tingkatannya sangat pikun, selalu ingat kejadian masa kecil sedangkan kejadian yang baru saja dialami cepat dilupakan serta sering tidak tahu siapa dirinya.

b) Presinile Psychosis

Presinile biasanya lebih cepat terjadi yaitu pada usia 40-50 tahun. Terdapat kerusakan otak tingkat ringan hingga berat serta terjadi perubahan mental. Terjadi aphasia (tidak bisa bicara sama sekali) dan apraxia (gangguan bercakap). Bahkan tidak mampu untuk melakukan aktivitas sederhana.

Baca Juga: Memahami Pengertian Gangguan Disosiatif

4. Traumatic Psychosis

Psikosa traumatic disebabkan oleh luka (trauma) pada kepala karena jatuh, dipukul, mendapat kecelakaan atau luka tembak. Kesadaran hilang untuk sementara waktu, kemudian sembuh kembali. 

Simptom ketika mendapat luka berupa shock otak sampai luka akut yang kemudian bisa berkembang menjadi post-traumatic. Penyebab trauma antara lain: shock otak, adanya kerusakan pada otak, ataupun terdapat luka dan pendarahan pada jaringan otak.

Pada anak yang menderita trauma otak oleh penyakit encephalitis, penderita memiliki kepribadian pasca-traumatik dengan gejala seperti: terdapat tendensi anti-sosial, bandel, suka merusak dan menjadi sangat agresif. 

Sifatnya bengis serta terdapat deviasi (penyimpangan) seksual. Tidak hanya itu, penderita juga memiliki kecenderungan suka mencuri, suka berkelahi dan memukul. Gejala ini disebabkan adanya rasa ketakutan.

5. Psychosis karena Gangguan Glanduler

Terjadi psikosa karena adanya gangguan pada kelenjar-kelenjar glanduler antara lain: Gangguan pada kelenjar Thyroid: jika terjadi kekurangan sekresi terjadi mixedema dengan simptom mental seperti munculnya retardasi motorik dan retardasi mental. 

Penyintas tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja dilewati. Pada fisiknya cepat lelah. Berat badan bertambah serta wajah yang tanpa ekspresi dan kulit menjadi kuning. 

Dengan gejala kecemasan, pobhia dan perasaan tidak riil, penyintas akan menjadi hyper-emotional. Terdapat aktivitas motorik yang berlebihan dengan suasana hati yang cepat berubah diikuti dengan delusion of persecution. 

Gangguan pada kelenjar adrenal: disebabkan karena kurang berfungsinya cortex adrenal dan terjadi hypofungstion atau disfungsi dari kelenjar suprarenal serta kurangnya adrenalin. Pada hypofungtion yang berat, penyintas akan mengalami kejang-kejang, delirium dan stupor.

Gangguan pada kelenjar pituitary: hyper-aktivitas dari kelenjar ini menyebabkan timbulnya acromegaly. Terjadi pula pembesaran pada tulang-tulang ekstrimitas dan tulang-tulang wajah. Simptom psikisnya seperti hilang ingatan, menjadi apatis, tidak mampu berkonsentrasi, kurang gerak dan inisiatif.  

Gangguan pada kelenjar gonadal: banyak penderita psikosis akibat dari gangguan pada kelenjar ini dengan gangguan utama berupa involutional melancholia (melankoli tak terkendali) yang disebabkan karena disfungsi dari kelenjar gonadal. 

Biasanya terjadi pada usia 40-50 tahun pada wanita dan 55-65 tahun pada pria. Simptom psikisnya berupa rasa ketakutan, kecemasan, rasa depresif, perasaan tidak riil, rasa berdosa dan menyalahkan diri sendiri. Tidak ada minat terhadap lingkungan dan gerakannya sangat impulsif.

Baca Juga: Bahaya Self Diagnosisi Terhadap Kesehatan Mental

6. Psychosis karena Kekurangan Vitamin

Terjadi psikosa akibat badan kekurangan gizi, vitamin dan berbagai macam zat makanan lainnya. Kekurangan ini dapat menjadi dasar untuk tumbuhnya gangguan psikosa. Antara lain penyakit: 

Pallegra: penyakit ini disebabkan karenan kekurangan vitamin B yang menimbulkan gangguan kulit dan penyakit perut disertai simptom psikis seperti cepat marah, kurang bisa bekerjasama dan merasa kosong, tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. 

Pernicious anemia: anemia jenis iini terjadi destruksi atau kerusakan pada darah yang semakin banyak. Akibat dari penyakit ini sangat meruasak karena terdapat kekurangan butir-butir darah merah yang menyebabkan kekurangan zat makanan pada selaput otak dan pada otak. 

Akibatnya fungsi otak menjadi terganggu dan terjadi gangguan mental. Tetapi hal ini terjadi tergantung pada kepribadian orang tersebut. Ada orang yang menjadi depresif dan ada pula yang menjadi agitatif.

7. Organic Psychosis yang Tidak Diketahui Sebabnya

a) Parkinson Disease (Parlayse Agitans)

Yaitu penyakit yang progresif dari system syaraf sentral yang terdapat degenerasi pada ganglion otak. Pada beberapa kasus disebabkan oleh epidhemic encephalitis dan carbon dioxide poisoning (keracunan carbon-dioksida) dan kasus lainnya terdapat pembawaan atau sifat keturunan atau oleh tumor otak. 

Penyakit ini banyak terjadi pada usia 50-70 tahun. Pada penyakit ini belum ditemukan penyembuhan yang efektif. Dengan simptom fisik seperti wajah jadi kaku, dan terus mengeluarkan air liur. Terdapat gangguan pernapasan dengan periode pernapasan yang amat cepat, amat lambat atau terhenti-henti napasnya. 

Ada kelumpuhan sebagian mata. Terjadi akinesia, yaitu berkurang atau terganggunya fungsi-fungsi motorik. Ada pula yang menderita paralysa atau gerakan-gerakan athetosis yaitu gerakan-gerakan lengan dan kaki yang tidak dapat dikendalikan. 

Ada inversi (kebalikan) dari waktu tidur yaitu siang selalu merasa mengantuk dan selalu tidur, sedangkan malam hari menjadi gelisah dan tidak bisa tidur disertai rasa lelah, lemah dan malas.

b) Huntington Chorea Disease (st. vitus dans)

Ditandai dengan gerak-gerak choreoform yang tidak teratur dan kronis, yaitu gerakan melilit dan kejang tanpa koordinasi dari lengan dan kedua kaki. 

Penyakit chorea ini merupakan satu penyakit syaraf yang herediter dan kronis-progresif, disertai kejang dengan gerakan lengan dan kaki tidak teratur tidak bertujuan serta melingkar-lingkar. Penyakit chorea yang kronis dan progresif selalu diakhiri dengan psikosa dan kematian. 

Dengan simptom fisik seperti: 

  • Gerakan-gerakan choreic yang semakin banyak, mukanya makin kaku tanpa ekspresi.
  • Jalannya sempoyongan, percakapan menjadi lambat dan tidak jelas serta daya pengecapan lidah dan bibir yang semakin berkurang. 

Sedangkan symptom psikis seperti:

  • Tidak tenang, sering eksplosif, emosi yang meledak-ledak tak terkendali. 
  • Terjadi gangguan pada fungsi ingatan misalnya sulit untuk berkonsentrasi. 
  • Adanya gangguan pada fungsi intelektual dan berpikir. Terkadang merasa depresif, emosi yang beku, apatis. 
  • Terapat delusi rendah-diri dan tidak mampu serta usaha untuk bunuh diri.

Baca Juga: Siklus Cemas - Rasa Cemas Jangan Diabaikan

Proses Dekompensasi

Proses Dekompensasi Psikotik
Ilustrasi (pexels.com)

Di era modern seperti sekarang semakin banyak beban-pikul psikis yang harus disandang seseorang, sementara daya-pikul atau kekuatan psikis seseorang justru semakin melemah. Ketidakmampuan seseorang memikul beban psikis inilah yang disebut sebagai proses dekompensasi psikis (kegagalan melakukan kompensasi). 

Dekompensasi psikis dapat berkembang menjadi psikosa dengan proses dekompensasi psikotik. Kecemasan memegang peranan penting terbentuknya halusinasi, delusi serta fantasi yang menakutkan. Akhirnya penyintas tidak dapat membedakan isi angannya sendiri dengan realitas nyata. 

Masing-masing fungsi dari pengenalan, fungsi perasaan dan kemauannya beroperasi sendiri-sendiri atau dengan kata lain tidak terintegrasi. Tidak ada pengaturan terhadap fungsi-fungsi psikis yang menjadi otonom sehingga terjadilah chaos dan disintegrasi dalam kepribadian individu pun tidak dapat mengadakan regulasi. Kemudian muncu banyak kecemasan dalam kondisi kepribadian yang kalut ini.

Ketidakmampuan menyalurkan kecemasan-kecemasan tersebut disertai dengan melemahnya regulasi kecemasan sehingga mengakibatkan kerusakan dan gangguan pada sistem syaraf. Maka ketegangan-ketegangan psikis inilah yang berubah menjadi peristiwa-peristiwa somatik atau jasmaniah.

Para ahli menyatakan bahwa kecemasan-kecemasan dapat mengacaukan fungsi batang otak. Dan batang otak inilah yang menentukan lemah atau kuatnya daya-pikul psikis seseorang. 

Dalam batang otak terdapat sentra regulasi dan sentra integrasi yang berfungsi untuk mengatur segala fungsi psikis. Maka dengan kata lain, tumpukan kecemasan dapat mengganggu dan merusak batang otak, sehingga menjadikan berkurangnya daya-pikul psikis dan berlangsunglah proses dekompensasi psikis.

Pada kemunculannya, psikosa hampir selalu memunculkan perasaan tidak berdaya dan luapan kemarahan yang tidak bisa disalurkan, serta cepat memproduksi kecemasan.

Contohnya sebagai berikut: 

Seorang pemuda yang membunuh kedua majikannya (pasangan suami istri) karena di dorong oleh halusinasi-halusinasi imperative, dan tetap mempertahankan pendiriannya dengan ungkapan “saya tidak bersalah, saya tidak berdosa, saya harus membunuh mereka karena di dorong oleh kekuatan-kekuatan gaib, karena kedua orang tersebut adalah jelmaan dari iblis jahat!”

Dengan demikian ungkapan-ungkapan psikotis tersebut merupakan refleksi dari dekompensasi, disintegrasi, dan usaha kompensatoris untuk mempertahankan keseimbangan baru, sekaligus menjadi mekanisme-kompromis antara nafsu hewani, kontra hati nurani,serta kemauan. 

Maka jelaslah kini bahwa setiap individu condong mencari keseimbangan, baik yang sehat jiwanya maupun mereka yang neurosis ataupun psikotis. Orang yang sehat menggunakan mekanisme pemecahan masalah yang wajar sehingga muncul keseimbangan yang nyata.

Sebaliknya, orang yang neurotis memecahkan masalah dengan mekanisme yang tidak efisien (mekanisme pertahanan diri dan pelarian diri yang sangat keliru dan tidak riil). Sehingga dia akan berputar pada kesulitan-kesulitan yang kumulatif. 

Sedangkan orang psikotis menggunakan cara pemecahan yang palsu, dengan mengorbankan kemampuan adaptasinya dan wawasan yang waras demi pemaksaan terhadap realitas yang ada.

Kesimpulan

Dekompensasi psikis dapat berkembang menjadi psikosa dengan proses dekompensasi psikotik. Psikosa/psikosis merupakan suatu bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan adanya disintegrasi kepribadian (pecah pribadi) dan terputusnya hubungan dirinya dengan realitas. 

Psikosa organik selalu disertai dengan kerusakan-kerusakan atau gangguan organik. Khususnya pada otak (organic brain disorder) hal ini mengakibatkan berkurang maupun rusaknya fungsi-fungsi pengenalan, ingatan, intelektual, kemauan dan motorik. Beratnya gangguan bergantung pada parahnya kerusakan organik pada otak tersebut.

 

Datar Pustaka:

Kartono, Kartini. 2014. Patologi Sosial: Gangguan Gangguan Kejiwaan. Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada.

Rahman, S. A. B. A. (2016). Pola Psikolog dalam Penanganan Pasien Gangguan Jiwa Psikotik di Rumah Sakit Jiwa Aceh (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

PATOLOGI, M. K. A. I., & KHOIROH, H. AKADEMI KEBIDANAN IMAM BONJOL PADANG PANJANG.

Wulandari, Dewi Sri, and Kasus Gastroenterologi. "Dewi Sri Wulandari's Cases." Kalium 6: 5.

 

Penulis: Nu’umatul Fikkri (1707016054)

Posting Komentar untuk "Dekompensasi Psikotik dan Psikosa Organik"