Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tingkat Perkembangan Proprium Menurut Gordon Allport

Initentangpsikologi.com - Gordon Allport merasa bahwa fungsi oportunistik relatif tidak penting untuk memahami sebagian besar perilaku manusia.

Tingkat Perkembangan Proprium Menurut Gordon Allport
Ilustrasi (pexels.com)

Allport percaya, sebagian besar perilaku manusia yaitu dimotivasi dari sesuatu hal yang berbeda (berfungsi dengan cara yang ekspresif dari diri) yang kemudian Allport sebut sebagai "Propriate Berfungsi".

Sebagian besar apa yang kita lakukan dalam hidup adalah mempersoalkan menjadi siapa diri kita. Propriate berfungsi dapat dicirikan sebagai proaktif, berorientasi pada masa depan, dan psikologis.

Propriate berasal dari kata Proprium, yang Allport gunakan sebagai istilah konsep diri sendiri. Proprium adalah sesuatu yang apabila kita mengenainya maka kita segera sadar. Sesuatu yang kita pikirkan tersebut bersifat sentral, dan privat dari kehidupan kita, hingga menjadi inti dari kehidupan kita.

Pengambilan penekanan pada konsep diri atau proprium sebenarnya sudah sangatlah banyak, namun Allport ingin mendefinisikan hal itu secermat mungkin. Ia melakukan pendekatan dari dua arah, yaitu fenomenologis dan fungsional. 

Definisi fenomenologis, yaitu seperti yang dialami diri sendiri: Allport menyarankan bahwa diri terdiri dari aspek dari apa yang dilihat sebagai yang paling penting (disengaja), hangat (berharga), dan pusat (sebagai lawan perifer). Sementara definisi fungsionalnya menjadi teori perkembangan dengan sendirinya.

Baca Juga: Teori Kepribadian Gordon Allport

Tingkat Perkembangan Proprium

Konsep diri (proprium) memiliki delapan tahap, yang cenderung muncul pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupan seseorang:

1. Sense of body  (aspek diri fisik) 

Yaitu rasa tubuh berkembang dalam dua tahun pertama kehidupan. Kita merasakan kedekatan dan kehangatan. Ini memiliki batas-batas antara yang sakit dan cedera, sentuhan dan gerakan, yang kemudian membuat kita sadar mengenai fisik sendiri “ini tanganku, ini jariku”.

2. Continuing self identity (identitas diri yang berkesinambungan) 

Identitas diri juga berkembang dalam dua tahun pertama. Kita Akan tiba pada titik itu yaitu mengenali diri kita lebih lanjut, saat masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kita melihat diri kita sebagai entitas individu, terpisah dan berbeda dari orang lain. Ditandai dengan mengenal nama diri sebagai identitas utama.

3. Self-esteem (aspek bangga diri)  

Self-esteem berkembang antara dua dan empat tahun. Ada juga saatnya ketika kita mengakui bahwa kita mempunyai nilai, untuk orang lain dan diri kita sendiri. Anak mengembangkan rasa bangga dengan kemampuannya sendiri. Anak akan berjuang menjadi awal atau akhir pada sesuatu, dan lebih mengeksplorasi lingkungan.

4. Self-extension (aspek perluasan diri)

Self-ekstensi berkembang antara empat dan enam tahun. Ditandai dengan kebiasaan berbicara mengenai orangtua mereka, sekolah mereka, saudara mereka  dan lain-lain karena anak mulai menyadari keberadaan objek yang menjadi milik mereka. Anak mulai berbicara tentang “ini mainanku, ini ayahku, ini sekolahku”.

5. Self-image (aspek gambaran diri)

Citra diri juga berkembang antara empat dan enam tahun. Ini adalah "cermin diri," saya seperti orang lain yang saya lihat. Ini adalah kesan saya pada orang lain, saya "lihat," harga diri atau status sosial saya, termasuk seksual identitas. 

Ini adalah awal dari apa yang orang lain sebut sebagai hati nurani, diri ideal, dan personal. Melalui interaksi dengan orang tuanya, anak akan menjadi sadar mengenai apa yang menjadi harapannya dan tingkah laku yang memenuhi harapan dan memberi kepuasan.

6. Rational coper (aspek penguasaan rasional)

Rasional dalam memecahkan suatu masalah dipelajari terutama pada tahun-tahun dari enam hingga dua belas tahun. Si anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk menangani masalah-masalah hidup secara rasional dan efektif. Pun si anak menyadari bahwa dirinya dapat menangani masalah secara rasional dan logis.

7. Propriate striving (aspek berusaha untuk memiliki)

Propriate berjuang biasanya tidak dimulai hingga setelah dua belas tahun. Ini adalah diri saya sebagai tujuan, ideal, rencana, panggilan, pemanggilan, sebuah arah baru. Propriate Puncak dari perjuangan, menurut Allport, adalah kemampuan untuk mengatakan bahwa saya adalah pemilik hidupku - yaitu pemilik dan operator. Menurut Allport, ketika orang dapat membuat rencana jangka panjang, barulah "bangunan" diri menjadi lengkap.

8. Self as knower (diri sebagai si tahu)

Tahap ini terjadi totalitas (gabungan) dari tujuh aspek yang terdahulu, kesadaran tentang diri sendiri.

Self bukan bagian yang terpisah dari kepribadian, bukan inti atau pusat yang kemudian mengatur, mengorganisir, dan menjalankan sistem kepribadian. Self juga bukan kepribadian dalam kepribadian yang tidak dapat dipelajari. Maka dari itu Allport memakai kata proprium yang lebih mudah dipahami sebagai sifat atau fungsi kepribadian secara umum.

 

Referensi:

Awisol. 2014. Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press.

Feist, jess, Greorgory J. Feist, dan Tommi- Ann roberts. (2017). Teori kepribadian Edisi 8 - Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Olson, Matthew. H dan Hargenhahn, B.R. 2013. Pengantar Teori Kepribadian Edisi ke-8. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posting Komentar untuk "Tingkat Perkembangan Proprium Menurut Gordon Allport"