Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengamatan dalam Islam

Initentangpsikologi.com - Banyak fenomena yang terjadi di sekitar kita, namun pernahkan kita mengamati fenomena tersebut. Selain itu, apa yang dimaksud dengan pengamatan itu sendiri sering kali kita tidak menyadari kegiatan yang kita lakukan memiliki arti seperti apa.

Pengamatan dalam Islam
Ilustrasi (pexels.com/@masarif-id)

Misalnya mengamati kebesaran, keagungan Allah SWT. ketika senja yang sangat indah. Kira-kira kegiatan itu memiliki arti apa? Selanjutnya, pengamatan dalam islam juga perlu dilakukan dalam rangka melihat hilal untuk menentukan awal dan akhir puasa.

Di dalam agama islam memang dibahas mengenai pengamatan, selain itu di dalam kehidupan kita sendiri tidak bisa terlepas dari yang namanya mengamati. Sebagai contoh, ketika proses belajar pastilah didahului dengan kegiatan mengamati.

Syah (1996) mengatakan bahwa pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti atas rangsangan yang masuk melalui indra-indra seperti mata dan telinga.

Baca Juga: Beragama dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme

Pengamatan dalam Islam

Pengamatan merupakan proses belajar mengenali segala sesuatu yang ada di sekitar kita dengan menggunakan alat indra kita. Dengan kehendak-Nya, Allah SWT membekali manusia dan hewan dengan segala keperluan dan fungsi yang mereka perlukan untuk tetap bisa melestarikan kehidupannya.

Pengamatan itu sendiri dalam pengertian sempit merupakan proses menginterpretasikan sesuatu dengan jalan mengenali tanda-tanda” sebagai alatnya, dan pengertian-pengertian tertentu sebagai tujuan pengamatan.

Manusia memiliki indra untuk mengamati segala sesuatu yang ada dalam lingkungannya. Kemudian dari hasil pengamatan itu terbitlah kesan atau tanggapan. Semakin baik daya reaksi terhadap lingkungannya, manusia akan semakin banyak memiliki kesan (tanggapan).

Allah SWT berfirman yang artinya:

"Katakanlah, 'perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!' Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman." (Q.S. Yunus 10: Ayat 101)

Secara tidak langsung ayat tersebut memerintahkan agar manusia melakukan kegiatan pengamatan terhadap sesuatu agar mengetahui makna apa yang dikandungnya.

Berikut ini adalah penjelasan dari ayat di atas: Segala hal yang ada di bumi ini hadir untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT. Terutama dalam hal menunjukkan tanda-tanda keberadaan Allah SWT. Sehingga orang-orang yang tidak beriman akan sadar dan mengambil hikmahnya. Di samping itu segala hal yang ada di dunia ini harus dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kebaikan.”

Adapun syarat-syarat terjadinya pengamatan adalah:

1. Ada perhatian kepada perangsang itu;

2. Ada perangsang yang mengenai alat indra kita;

3. Urat syaraf sensoris harus dapat meneruskan perangsang itu ke otak;

4. Kita dapat menyadari perangsang itu.

Sejak zaman Rasulullah SAW, umat islam sudah dilatih menggunakan metode pengamatan dan eksperimen dalam upaya mencari dan menemukan kebenaran. Dua penyimpulan kebenaran berdasarkan penalaran dan pengamatan inilah yang kemudian dijadikan sebagai parameter kebenaran dalam sains modern.

Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar dan sekaligus aplikasi metode pengamatan dan eksperimen dalam pencarian dan/atau penemuan kebenaran. Di antara contoh untuk hal tersebut adalah ketika beliau meminta umat islam mencermati praktik yang beliau tampilkan dalam melaksanakan sholat.

Baca Juga: Peran Agama dalam Pembinaan Kesehatan Mental

Proses Terjadinya Pengamatan

Pengamatan dalam Islam
Ilustrasi (pexels.com/@wancukz)

Sejak individu dilahirkan, sejak itu pula individu secara langsung berhubungan dengan dunia luarnya. Mulai saat itu individu menerima secara langsung stimulus atau rangsangan dari luar di samping menerima rangsangan dari dalam dirinya sendiri. Ia mulai merasa kedinginan, mulai merasakan panas, mulai merasakan sakit, senang, tidak senang dan sebagainya.

Individu mengenal dunia sekitarnya dengan menggunakan alat indranya. Bagaimana individu dapat menyadari keadaan sekitar merupakan persoalan yang berhubungan dengan pengindraan dan pengamatan (sensation and perception).

Agar individu dapat menyadari sesuatu, adanya beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu:

1. Adanya objek yang diamati. Obyek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indra atau reseptor. Yang dimaksud dengan stimulus adalah segala sesuatu yang mengenai alat-alat indra atau reseptor.

Stimulus dapat datang dari luar kemudian langsung mengenai alat indra (reseptor), dapat datang dari luar kemudian langsung mengenai syaraf penerima (sensoris), yang bekerja sebagai reseptor.

Baca Juga: Memahami Definisi dari Persepsi

2. Alat indra atau reseptor yang cukup baik merupakan alat untuk menerima stimulus. Di samping itu harus ada pula syaraf sensoris yang cukup baik sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons diperlukan syaraf motorik.

3. Untuk menyadari atau untuk mengadakan pengamatan sesuatu diperlukan pula adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Tanpa perhatian tidak akan terjadi pengamatan.

Dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengadakan pengamatan ada syarat-syarat yang bersifat:

a) Fisik atau kealaman;

b) Fisiologis;

c) Psikologis.

Dengan demikian dapat dijelaskan terjadinya proses pengamatan sebagai berikut; obyek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indra atau reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisik).  

Stimulus yang di terima oleh alat indra dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini disebut proses fisiologis.

Kemudian terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan alat indra itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak atau proses kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis.

Dengan demikian taraf terakhir dari proses pengamatan ialah individu menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indra atau reseptor. Proses ini merupakan proses terakhir dari pengamatan yang sebenarnya. Respons sebagai akibat dari pengamatan dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.

Perlu diketahui juga, keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya dikenai satu stimulus saja, melainkan individu dikenai berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar. Tetapi tidak semua stimulus itu mendapatkan respons sebagai akibat dari pengamatan individu.

Baca Juga: Proses Terbentuknya Persepsi

Faktor yang Mempengaruhi Pengamatan

Pengamatan dalam Islam
Ilustrasi (pexels.com/@mentatdgt-330508)

Keefektifan suatu proses pengamatan tergantung pada beberapa faktor yaitu faktor rangsangan, individu, dan faktor lingkungan. Pengamatan akan berlangsung dengan efektif apabila ada rangsangan yang diterima oleh individu dengan jelas, kuat, dan berarti.

Faktor yang mempengaruhi keefektifan pengamatan antara lain: kualitas alat indra, kualitas pusat kesadaran, kondisi fisik, pengalaman, motivasi, perhatian, kesehatan, kepribadian, dan lain sebagainya.

Lingkungan juga menjadi faktor yang mempengaruhi keefektifan suatu proses pengamatan. Lingkungan yang baik dan kondusif akan menunjang terjadinya pengamatan yang baik, begitu juga sebaliknya.

Karena ada faktor yang mempengaruhi pengamatan, baik dari dalam diri individu maupun lingkungan, maka sering terjadi pengamatan itu tidak berlangsung dengan baik. Akibatnya ialah terjadi kesalahan atau kelainan pengamatan atau apa yang diamati tidak memberikan gambaran yang sebenarnya.

Ada tiga macam kelainan dalam pengamatan yaitu ilusi, halusinasi, dan osilasi.

Beberapa hal yang dapat diupayakan guna membantu agar dapat melakukan pengamatan yang baik adalah sebagai berikut:

  • Pengamatan akan lebih efektif kepada rangsangan-rangsangan yang mempunyai struktur dan bentuk yang jelas.
  • Pengamatan kepada sesuatu yang dekat akan lebih berkesan.
  • Pengamatan dipengaruhi pengalaman sebelumnya.
  • Pengamatan dimulai dengan keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian tertentu.
  • Pengamatan dipengaruhi oleh peringkat pengembangan individu.
  • Terdapat perbedaan individual dalam pengamatan.

Beberapa faktor dapat menimbulkan terjadinya kesalahan atau kelainan pengamatan. Dengan kata lain, perolehan informasi lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Baca Juga: Memahami Definisi dari Persepsi

Kesimpulan

Pengamatan merupakan proses belajar mengenali segala sesuatu yang ada di sekitar dengan menggunakan alat indra. Allah SWT membekali manusia dan makhluk hidup lainnya dengan segala keperluan dan fungsi yang mereka perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya.

Proses terjadinya pengamatan adalah sebagai berikut; obyek menimbulkan stimulus dan stimulus mengenai alat indra atau reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang di terima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini disebut proses fisiologis.

Kemudian terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan alat indra itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak atau proses kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis.

Dengan demikian taraf terakhir dari proses pengamatan ialah individu menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indra atau reseptor. Proses ini merupakan proses terakhir dari pengamatan yang sebenarnya. Respons sebagai akibat dari pengamatan dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.

Keefektifan suatu proses pengamatan tergantung pada beberapa faktor yaitu faktor rangsangan, individu, dan faktor lingkungan.

Sumber Bacaan:

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Ahmadi, M. Ishom. 2009. “Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah”. Yogyakarta: SJ Press

Sujanto, Agus. 2005. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Bani Quraisy

Agus Darma - Michael Adriyanto. 1983. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga

 

Penulis:

Fadhilatussyifa Auliyarahmani (1707016063), Moch Alvandika Yahya (1707016067), Nu’umatul Fikkri (1707016054), Hida Aoladina (1707016073)

Posting Komentar untuk "Pengamatan dalam Islam"