Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan Individu

Initentangpsikologi.com - Sarwono (2013), teori ini dirumuskan oleh Festinger, pada dasarnya teori ini berpendapat bahwa proses saling mempengaruhi perilaku bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain. 

Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan
Ilustrasi (pexels.com/@thirdman)

Terdapat dua hal yang diperbandingkan dalam hubungan ini, yaitu pendapat dan kemampuan. Kedua proses perbandingan tersebut sama, namun terdapat perbedaan penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, dalam perbandingan kemampuan terdapat dorongan searah menuju keadaan yang lebih baik atau kemampuan yang lebih tinggi. Misalnya, A hanya mampu mengangkat beban seberat 70 kg, sedangkan B mampu mengangkat 100 kg.

Perbedaan kedua, perbandingan yang perlu diperhatikan adalah bahwa perubahan pendapat relatif lebih mudah terjadi daripada perubahan kemampuan.

Festinger mempunyai hipotesis bahwa setiap orang mempunyai dorongan (drive) untuk menilai pendapat dan kemampuannya sendiri dengan cara membandingkannya dengan pendapat atau kemampuan orang lain. Berdasarkan cara itulah orang bisa mengetahui bahwa pendapatnya benar atau tidak dan seberapa besar kemampuan yang dimilikinya.

Festinger memperingatkan bahwa dalam menilai kemampuan ada dua macam situasi. Situasi pertama adalah di mana kemampuan orang dinilai berdasarkan ukuran yang objektif, misalnya kemampuan mengangkat beban. Tentu itu akan menghasilkan ukuran yang sangat jelas seberapa berat beban yang berhasil diangkat.

Situasi kedua adalah situasi di mana kemampuan dinilai berdasarkan pendapat. Misalnya; X dan Y adalah sama-sama pelukis. Mana di antara mereka yang lebih bagus lukisannya dinilai berdasarkan pendapat orang lain tentang lukisan mereka. Jadi yang dinilai bukan kemampuan melukis, melainkan pendapat tentang kemampuan melukis.

Baca Juga: Teori Perbandingan Sosial dalam Psikologi Sosial

Sumber-sumber penilaian dapat menggunakan ukuran-ukuran yang objektif (realitas objektif) sebagai dasar penilaian selama ada kemungkinan untuk melakukan hal itu. Namun, apabila kemungkinan itu tidak ada, maka orang akan menggunakan pendapat atau kemampuan orang lain sebagai ukuran.

Dari kenyataan tersebut Festinger sampai pada hipotesis kedua, yaitu apabila tidak ada cara-cara yang non-sosial, maka orang akan menggunakan ukuran-ukuran yang melibatkan orang lain.

Sebagai konsekuensi dari hipotesis, Festinger mengajukan hipotesis turunan 2A sebagai berikut: penilaian seseorang tentang sesuatu pendapat atau kemampuan tidak mantap (tidak stabil) jika tidak ada perbandingan, baik yang bersifat sosial maupun non-sosial.

Selanjutnya, hipotesis turunan 2B adalah sebagai berikut: penilaian pendapat tidak akan didasarkan pada perbandingan dengan pendapat orang lain jika ada kemungkinan untuk melakukan penilaian yang objektif.

Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan
Ilustrasi (pexels.com/@maksgelatin)

Objektivitas dalam melakukan perbandingan akan sangat ditentukan oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu dalam melihat perkembangan masyarakat. 

Piliang (1998) ada satu pengalaman penting yang menandai perkembangan masyarakat, seni, dan kebudayaan dunia akhir-akhir ini dan ini dalam kepekatan tertentu juga dialami di lndonesia yaitu pengalaman transformasi dalam cara manusia melihat diri sendiri secara ontologis di antara objek-objek kebudayaan ciptaannya.

Juga dalam cara manusia membangun citra diri dan menyusun makna kehidupannya secara diskursif melalui objek-objek dan media-media (massa) dalam satu ruang dan waktu yang membatasinya. Pengalaman hidup di dalam ruang yang disebut Jean Baudrillard sebagai realitas semu (hyperreal).

Lebih tepat dikatakan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah semacam ketidaksadaran masal akan terjadinya transformasi, akan berlangsungnya pembentukan kembali diri dan perumusan kembali makna kehidupan sebagai akibat menjamurnya dunia realitas semu ini.

Sadarkah, misalnya, seorang petaní di desa yang tengah asyik menonton tayangan pertandingan piala dunia yang diselingi oleh serangkaian iklan-iklan gaya hidup modern di televisi, atau seorang sekretaris muda yang mengikuti model-model pakaian di catwalk dan produk-produk baru di sebuah shopping mall, bahwa sesungguhnya mereka tengah memasuki pintu gerbang realitas semu.

Baca Juga: Masyarakat Cyber dan Lenyapnya Batas Sosial

Penjelmaan dunia realitas semu ini sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kapitalisme dalam ekonomi pada tingkatnya yang mutakhir di negara-negara barat. Perkembangan mutakhir teknologi informasi, komoditi, dan tontonan sebagai tiang-tiang penopang dalam wacana kapitalisme telah memungkinkan manusia masa kini melihat dirinya sendiri sebagai refleksi dari citra-citra yang ditaburkan oleh cermin-cermin komoditi, dan tontonan-tontonan ini.

ldeologi kapitalisme mutakhir yang menyerahkan benih-benih komoditi dan tontonan serta memanen keuntungan dari nilai tukarnya, tidak saja mengharuskan arus produksi dan konsumsi yang konstan, akan tetapi konstan dalam kecepatan yang bersaing.

Di dalam percepatan deru mesin kapitalisme mutakhir, apa yang disebut diferensiasi akan suatu proses membangun identitas berdasarkan perbedaan produk dan gaya hidup menjadi satu kata kunci dalam wacana kapitalisme. la menjadi ideologi dari kapitalisme mutakhir itu sendiri.

Sementara, kata tua menjadi sebuah kata yang bagaikan wabah lepra menakutkan bagi kapitalis (mobil tua, jam tua, baju tua, rumah tua, wajah tua). Pada akhirnya, proses peremajaan melalui diferensiasi seakan-akan menjadi semacam keharusan dalam wacana kapitalisme.

Detak jantung kapitalisme sebenarnya bersumber dari proses peremajaan abad ini, yang hampir mencakup segala aspek kehidupan dalam wujud komoditi, pusat kebugaran, kursus kecantikan, senam, kursus kepribadian, salon mobil, pusat sales, semuanya merupakan manifestasi dari kapitalisme terhadap kebutuhan dan kegairahan pada keremajaan. 

Di dalam wacana kapitalisme, keremajaan itu sendiri menjadi sebuah komoditi, dan komoditi ini melalui makna-makna yang di dalamnya pada gilirannya akan menjadi tiang-tiang penopang dunia realitas semu.

Kapitalisme menjadi tiang utama dalam kemajuan ekonomi yang menguntungkan masyarakat kapital yang menghadirkan perubahan sosial. 

Piliang berpendapat, salah satu perubahan sosial yang menyertai kemajuan ekonomi di Indonesia lima tahun terakhir ini adalah berkembangnya berbagai gaya hidup sebagai fungsi dari difrensiasi sosial yang tercipta dari realisasi konsumsi. 

Di dalam perubahan tersebut, konsumsi tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi fungsi utilitas atau kebutuhan dasar manusia. 

Baca Juga: Wajah Komunitas dalam Struktur Kemasyarakatan

Minat Sosial

Perkembangan masyarakat post-industri
Ilustrasi (pexels.com/@tomfisk)

Perbedaan pada masyarakat terjadi karena ada minat yang berlainan, itu semua tergantung pada pengetahuan yang dimiliki. 

Alwisol (2011), minat sosial menjadi terjemahan yang kurang tepat dari bahasa Jerman “Gemeinschafgefuhl”. Terjemahan yang lebih tepat mungkin "perasaan sosial" atau "perasaan komunitas". Namun kata Gemeinschafgefuhl mempunyai makna yang tidak dapat diekspresikan dalam kata bahasa Inggris.

Intinya, istilah itu mengandung makna suatu perasaan menyatu dengan kemanusiaan, menjadi anggota dari komunitas umat manusia. Orang yang Gemeinschafgefuhl-nya berkembang baik, berjuang bukan untuk superioritas pribadi tetepi untuk kesempurnaan semua orang dalam masyarakat luas.

Jadi, minat sosial adalah sikap keterikatan diri dengan kemanusiaan secara umum, serta empati kepada setiap anggota orang per-orang. Wujudnya adalah kerjasama dengan orang lain untuk memajukan sosial alih-alih untuk keuntungan pribadi.

Menurut Adler, minat sosial adalah bagian dari hakikat manusia dan dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku setiap orang (entah itu orang kriminal, psikotik, atau orang yang sehat).

Minat sosiallah yang membuat orang mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat kesalah jalan: semua kegagalan neurotik, psikotik, kriminal, pemabuk, anak bemasalah, bunuh diri, prostitusi adalah "kegagalan" karena mereka kurang memiliki minat sosial.

Mereka menyelesaikan masalah pekerjaan, persahabatan, dan lainnya tanpa keyakinan bahwa itu dapat dipecahkan dengan kerjasama. Makna yang diberikan kepada kehidupannya adalah nilai privat. Tidak ada orang lain yang mendapat keuntungan berkat tercapainya tujuan mereka.

Jadi, dapat dikatakan bahwa tujuan keberhasilan mereka adalah superioritas personal dan kejayaan atau keberhasilan mereka hanya berarti bagi mereka sendiri. Walaupun minat sosial itu dilahirkan, menurut Adler terlalu lemah atau kecil kemungkinan untuk dapat berkembang sendiri.

Peran Penempatan Lingkungan dalam Komunitas

Peran komunitas dalam menciptakan individu sesuai tujuan komunitas sangat memungkinkan dalam kehidupan keseharian. Misalkan, individu dalam kelompok tersebut memiliki visi dan misi yang bagus dan dilakukan dengan baik, maka akan mampu menciptakan komunitas-komunitas kreatif yang mampu memberikan sumbangsih terhadap lingkungan yang ada.

Penempatan lingkungan komunitas yang inspiratif akan mampu mencetak generasi emas yang dapat dibanggakan oleh semua kalangan. Menurut Gibron & Mitchell penempatan lingkungan dapat menjadi aktivitas perkembangan.

Kondisi lingkungan dapat menentukan bagaimana pontesial intelektual individu akan berkembang antara lain nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi, iklim emosional di rumah dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku.

Lingkungan dalam membentuk individu sangat memberikan pengaruh dalam perkembangan intelektual dan sosialnya, sehingga perlu untuk individu untuk belajar dari suatu pengalaman manusia sebelumnya. Pengalaman akan memberikan kemajuan atau sebaliknya dalam setiap kehidupan individu.

 

Penulis: Anggiet Dian Ayu Noviera (1707016007)

Posting Komentar untuk "Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan Individu"