Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok

Initentangpsikologi.com - Keefektifan kelompok adalah anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai tujuan. Melaksanakan tugas kelompok dan memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok yang disebut prestasi. Tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok
Ilustrasi (pexels.com/@ivan-samkov)

Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar) maka keefektifannya dapat dilihat dari berapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.

Oleh karena itu, faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok (faktor situasional) dan pada karakteristik para anggotanya (faktor personal). Mari kita bahas karakteristik kelompok terlebih dahulu.

Baca Juga: 3 Tipe Kelompok Menurut Para Ahli

Faktor Situasional: Karakteristik Kelompok

Ukuran Kelompok

Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja kelompok (perfomance) bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok. Kita dapat membedakan dua macam tugas kelompok yakni; tugas koaktif dan tugas interaktif.

Pada tugas yang pertama, masing-masing anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas yang kedua, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara terorganisasi untuk menghasilkan suatu produk, keputusan, atau penilaian tunggal.

Pada kelompok koaktif, jumlah anggota berkorelasi positif dengan pelaksanaan tugas; yakni, semakin banyak anggota, maka akan semakin besar pula jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan.

Faktor lain yang memengaruhi hubungan antara prestasi dan ukuran kelompok ialah tujuan kelompok. Apabila tujuan kelompok memerlukan kegiatan yang konvergen (mencapai satu pemecahan yang benar), hanya diperlukan kelompok kecil agar sangat produktif, terutama bila tugas yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas.

Namun, apabila tugas memerlukan kegiatan yang divergen (seperti menghasilkan berbagai gagasan kreatif), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar. Karena menurut McDavid dan Harari (1974) lebih banyak kepala, lebih baik.

Hubungan ini pun umumnya bersifat kurvilinear; artinya sampai jumlah tertentu, semakin banyak makin baik. Akan tetapi, jika melewat jumlah batas tertentu, pertambahan anggota hanya akan merugikan produktivitas kelompok. Lewat tingkat tertentu, maka berpotensi terjadi deminishing returns (hasil yang semakin berkurang).

Prestasi kelompok juga ditentukan oleh distribusi pasrtisipasi anggota-anggotanya. Dari segi komunikasi, semakin besar kelompok, maka semakin besar kemungkinan sebagian besar anggota tidak mendapat kesempatan berpatisipasi.

Dalam kelompok yang besar, partisipasi akan semakin memusat pada orang yang memberikan kontribusi terbanyak. Komunikasi akan lebih tersentralkan pada orang-orang tertentu. Jumlah orang yang tidak memberikan kontribusi akan semakin bertambah dengan bertambahnya jumlah anggota. Semakin banyak jumlah anggota, semakin sedikit tersedia peluang untuk berinteraksi dengan anggota lainnya dalam jarak waktu tertentu.

Akibatnya, sejumlah orang tidak mendapat kesempatan berinteraksi. Pada kelompok besar ada beberapa orang yang dominan, dan sebagian besarnya lagi hanya "membisu". Sementara pada kelompok kecil, tingkat partisipasi setiap anggota relatif sama.

Dalam hubungannya dengan kepuasan, Hare (1952) dan Slater (1958) menunjukkan bahwa semakin besar ukuran kelompok, semakin berkurang kepuasan anggota-anggotanya. Slater menyarankan lima orang sebagai batas optimal untuk mengatasi masalah hubungan manusia.

Kelompok yang lebih dari lima orang cenderung dianggap kacau, dan kegiatannya dianggap menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok. Kemudian Hare menemukan bahwa kelompok lima orang memiliki tingkat konsensus yang lebih tinggi dari pada kelompok 12 orang.

Baca Juga: Jenis-jenis dan Ciri-ciri dari Kelompok Sosial

Kohesi Kelompok (Group Cohesiveness)

Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins dan Raven, 1964).

Kohesi diukur dari (1) ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain, (2) ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok, dan (3) sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya (McDavid dan Harari, 1968).

Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasaan. Marquis, GuetAow, dan Heytrs (1951) mengamati anggota-anggota yang menghadiri berbagai konferensi. Ia menemukan semakin kohesif kelompok yang diikuti, maka semakin besar tingkat kepuasan anggota.

Rensis Likert, konsultan manajemen di University of Michigan, menemukan bahwa kohesi kelompok berkaitan erat dengan produktivitas, moral, dan efesiensi komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi menjadi lebih bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Karena pada kelompok kohesif para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka menjadi mudah melakukan konformitas.

Baca Juga: Kelompok dan Pengaruhnya pada Perilaku Komunikasi

Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok (Cragan dan Wright, 1980:73). Seorang pemimpin dapat ditunjuk atau muncul setelah proses komunikasi kelompok. Apapun yang terjadi, kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok

Tidak mungkin di sini kita membicarakan seluruh aspek kepemimpinan, yang dibahas secara mendalam, baik dalam psikologi sosial maupun manajemen. Cukuplah di sini dijelaskan secara singkat hubungan berbagai gaya kepemimpinan dengan keefektifan kelompok.

Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White dan Lippit (1960). Mereka menyebutkan tiga gaya kepemimpinan: otoriter, demokratis, dan laissez faire. 

  • Kepemimpinan otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang seluruhnya ditentukan oleh pemimpin. 
  • Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan. 
  • Kepemimpinan laissez faire memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi pemimpin yang minimal. 

Dengan menempatkan empat kelompok anak-anak dalam suasana alamiah, White dan Lippit melakukan eksperimen tentang pengaruh gaya kepemimpinan ini pada produktivitas dan kepuasan. Mereka menemukan bahwa kepemimpinan otoriter menimbulkan permusuhan, agresi, dan sekaligus perilaku submisif. Di sini, tampak lebih banyak kebergantungan dan kurang kemandirian, di samping adanya kekecewaan yang tersembunyi. 

Kepemimpinan demokratis terbukti paling efisien dan menghasilkan kuantitas kerja yang lebih tinggi daripada kepemimpinan otoriter. Di dalamnya terdapat lebih banyak kemandirian dan persahabatan. 

Dari segi komunikasi, White dan Lippit menunjukkan bahwa pemimpin demokratis cenderung tidak seberapa banyak memberikan saran, mempunyai disiplin diri, tidak kritis, dan bersikap objektif dalam hubungannya dengan anggota-anggota kelompok. Pemimpin otokratis cenderung banyak memberikan perintah, berkuasa untuk menyetujui dan memuji orang, dan pada umumnya agak kritis.

Sementara gara kepemimpinan laissez faire hanya memiliki kelebihan dalam menyampaikan informasi saja. Penelitian-penelitian berikutnya tidak menunjukkan keterangan yang konsisten. Juga, kepemimpinan otoriter dapat lebih produktif pada situasi tertentu daripada kepemimpinan demokratis. 

Cecil Gibb (1969) menyimpulkan syarat-syarat yang menentukan apakah gaya kepemimpinan tertentu bersifat produktif. Menurut Gibb, kepemimpinan demokratis paling efektif bila (1) tidak ada anggota kelompok yang merasa dirinya lebih mampu mengatasi persoalan daripada anggota kelompok yang lain, (2) metode komunikasi yang tepat belum diketahui atau tidak dipahami, dan (3) semua anggota kelompok berusaha mempertahankan hak-hak individual mereka. 

Sebaliknya, kepemimpinan otoriter akan efektif bila: (1) kecepatan dan efisiensi pekerjaan lebih penting daripada perundingan, misalnya dalam situasi darurat, dan (2) situasinya begitu baru sehingga mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, dan memerlukan pengarahan dan pemimpin.

Baca Juga: Servant Leadership - Karakteristik Kepemimpinan yang Melayani

Faktor Personal: Karakteristik Anggota Kelompok

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok
Ilustrasi (pexels.com/@renaldicted)

Cragan dan Wright menyebutkan dua dimensi interpersonal yang memengaruhi keefektifan kelompok (kebutuhan interpersonal dan proses interpersonal) di samping perbedaan individual seperti usia, suku bangsa, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kepribadian, dan homogenitas atau heterogenitas kelompok. 

Proses interpersonal meliputi keterbukaan (disclosure), percaya, dan empati.

Kebutuhan Interpersonal

Pada tahun 1960, untuk melukiskan apa yang mendasari perilaku kelompok kecil, William C. Schultz merumuskan teori FIRO, singkatan dari Fundamental Interpersonal Relasions Orientation

Menurut teori tersebut orang memasuki kelompok karena didorong oleh tiga kebutuhan interpersonal: (inclusion) ingin masuk menjadi bagian dari kelompok, (kontrol) ingin mengendalikan orang lain dalam suatu tatanan hierarkis, dan (afection) ingin memperoleh keakraban emosional dengan anggota kelompok yang lain. Kebutuhan interpersonal ini pada diri seseorang mungkin berkekurangan, berlebihan, atau ideal.

Inklusi: ketika kita pertama kali memasuki kelompok, biasanya kita cemas akan bagaimana seharusnya kita menyesuaikan diri. Kita takut diabaikan; kita cemas bagaimana kita harus melibatkan diri dengan kelompok dan berhubungan dengan anggota kelompok yang lain, artinya, sejauh mana kita harus melakukan interaksi sosial

Pada satu segi, kita ingin memasuki kegiatan kelompok, tetapi pada segi yang lain kita tidak ingin terlalu jauh terlibat dengan orang-orang yang tidak atau belum kita kenal dengan baik. Dalam situasi seperti ini, banyak di antara kita yang bereaksi berlebihan (over-react) atau berkekurangan (under-react). 

Apabila bereaksi berlebihan, maka kita akan mendominasi percakapan misalnya dengan bercerita tentang diri kita sendiri dan terus-menerus mengisi kesempatan dengan candaan atau hal-hal klise yang terlintas dalam pikiran kita.

Sementara bila kita kurang bereaksi pada inklusi soslal dalam kelompok, kita biasanya akan menarik diri dari percakapan, menjentik-jentik cangkir kopi, atau mencoret-coret buku catatan kita. Kita ragu-ragu untuk menyampaikan informasi tentang diri kita agar diteliti Kelompok.

Jadi, dalam pertemuan kelompok, kita dapat meletakkan diri kita dalam kontinum dari under-social yakni berkekurangan; ideal; sampai ke over-social yakni berlebih-lebihan. Segera setelah kita menjadi anggota kelompok yang mapan, kita akan belajar mempertahankan jumlah keterlibatan sosial yang tepat.

Kontrol: pembagian kerja yang harus dilakukan agar kelompok tugas menjadi produktif menimbulkan kebutuhan akan kontrol. Sebagian orang sangat kompetitif, menonjol, dan percaya diri dalam menstruktur berbagai tugas individu. 

Schultz menyebut individu yang mempunyai kecenderungan kuat untuk mendominasi sebagai otokrat. Menurut Schultz, orang-orang seperti ini sangat ingin menciptakan hierarki kekuasaan, dengan diri mereka di atas puncaknya. 

Di ujung kontinum ada individu abdikrat. Orang ini menyerahkan (abdicate) semua kekuasaan dan tanggung jawab dalam perilaku interpersonal. Orang ini selalu ikut dengan kelompok dan bersedia ditempatkan pada posisi bawah. 

Kemudian di tengah-tengah ada individu demokrat yang cukup kuat dengan kemampuannya, mampu memikul atau tidak memikul tanggung jawab, dan berusaha menghasilkan keputusan kelompok secara kritis.

Afeksi: kebutuhan akan kasih sayang adalah dimensi emosional kelompok. Sejauh mana kita disukai oleh anggota kelompok yang lain? Sejauh mana kita harus akrab dan dekat dengan mereka? Apakah ada kecocokan dalam kelompok kita? Apakah ada orang-orang yang begitu berdekatan sehingga tidak mau melakukan percakapan akrab dengan kita dalam kelompok?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang kita tanyakan untuk memuaskan kebutuhan kita akan kasih sayang dalam kelompok kecil. Menurut Schultz, sebagian orang adalah underpersonal, orang-orang itu membuat jarak dari semua orang, tampak menolak atau tidak memerlukan kontak personal untuk menyelesaikan pekerjaannya. 

Pada ujung yang lain ada orang yang overpersonal dan tampaknya tidak dapat menyelesaikan pekerjaan jika tidak ada ikatan kasih sayang yang kuat yang menghubungkan mereka dengan anggota-anggota kelompok. Mereka hạrus merasa dekat dahulu dengan orang lain sebelum dapat bekerja sama. 

Maka tentu saja, kita harus berusaha memelihara jarak yang tepat antara kita dengan anggota kelompok lain sehingga kita dapat mengerjakan tugas secara produktif. Dengan menggunakan parameter di atas; kita dapat mengukur kecocokan interpersonal di antara anggota kelompok, sehingga dapat menentukan secara kuantitatif mana kelompok yang paling produktif.

Baca Juga: Perilaku Kelompok dalam Sebuah Organisasi

Tindak Komunikasi

Bila kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi.  Bales (1950, 1955, 1970) dari Universitas Harvard mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak komunikasi, yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis (IPA). la membagi tindak komunikasi pada dua kelas besar: hubungan tugas dan hubungan sosial-emosional. Kelas ini dibagi lagi menjadi positif, netral, dan negatif. 

Peranan

Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan kelompok).

Peranan yang pertama disebut peranan tugas kelompok (group task roles); yang kedua, peranan pemelihara kelompok (group building and maintenance roles); yang ketiga peranan individual (individual roles). 

Beal, Bohlen, dan Raudabaugh (103,7-194) membuat daftar peranan, yang dikutip lagi di sini. Peranan tugas kelompok: tugas kelompok ialah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. 

Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok. Setiap anggota boleh saja menjalankan lebih dari satu peranan dalam komunikasi kelompok.

Posting Komentar untuk "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok"