Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kelompok dan Pengaruhnya pada Perilaku Komunikasi

Initentangpsikologi.com - Pada tahun 1940-an, ketika dunia dilanda perang, kelompok menjadi pusat perhatian. Setelah perang, perhatian beralih pada individu, dan ini bertahan sampai pertengahan 1970-an. Akhir tahun 1970-an, minat yang tinggi tumbuh kembali pada studi kelompok dan seperti diramalkan Steiner (1974) akan menjadi dominan pada pertengahan 1980-an. 

Kelompok dan Pengaruhnya pada Perilaku Komunikasi
Ilustrasi (pexels.com/@daan-stevens-66128)

Para pendidik melihat komunikasi kelompok sebagai metode pendidikan yang efektif. Para manajer menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tepat untuk melahirkan gagasan-gagasan kreatif. Para psikiater mendapatkan komunikasi kelompok sebagai wahana untuk memperbaharui kesehatan mental.

Para ideolog juga menyaksikan komunikasi kelompok sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik ideologis. Minat yang tinggi ini pada perkembangannya telah memperkaya pengetahuan kita tentang berbagai jenis kelompok dan pengaruh kelompok pada perilaku diri kita. 

Baca Juga: Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan Individu

Klasifikasi Kelompok

Tidak setiap perkumpulan orang bisa disebut kelompok. Orang-orang yang berkumpul di terminal bus, yang antri di depan loket bioskop, yang berbelanja di pasar, semuanya disebut bukan kelompok. Supaya bisa menjadi kelompok, diperlukan kesadaran pada anggota-anggotanya akan ikatan yang sama yang mempersatukan mereka.

Kelompok mempunyai tujuan dan organisasi, juga melibatkan interaksi di antara anggota-anggotanya. Jadi, dengan kata lain, kelompok mempunyai dua tanda psikologis. Pertama, anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok. Kedua, nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain (Baron dan Byrne, 1979).

Para ahli psikologi dan juga ahli sosiologi telah mengembangkan berbagai cara untuk mengklasifikasikan kelompok. Di sini, akan dijelaskan tiga klasifikasi dari kelompok yang meliputi: kelompok primer-sekunder, rujukan-keanggotaan, deksriptif-preskriptif.

Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder

Walaupun kita menjadi anggota banyak kelompok, kita terikat secara emosional pada beberapa kelompok saja. Hubungan kita dengan keluarga kita, teman-teman sepermainan, dan tetangga-tetangga yang dekat (di kampung, bukan di real estates), terasa lebih akrab, lebih personal, lebih menyentuh hati kita.

Kelompok seperti di atas disebut oleh Charles Horton Cooley (1909) sebagai kelompok primer. Sementara kelompok sekunder, secara sederhana, adalah lawan dari kelompok primer yakni hubungan kita dengannya tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita. Termasuk ke dalam kelompok sekunder ialah organisasi massa, serikat buruh, dan lainnya.

Baca Juga: Klasifikasi Kelompok Menurut Para Ahli

Kelompok Keanggotaan dan Kelompok Rujukan

Contohnya, kita menjadi kelompok keanggotaan pada suatu “lembaga pendidikan”. Tetapi tidak seluruh orang melihat pada lembaga pendidikan ini sebagai pedoman nilai yang mereka anut. Sebagian besar memang menyesuaikan dirinya dengan sikap liberal lembaga pendidikan itu. Kelompok ini meurut newcomb menjadikan lembaga pendidikan sebagai positive reference group. 

Sedangkan mereka yang tetap konservatif melihat keluarga mereka sebagai positive reference group, dan lembaga pendidikan mereka sebagai negative reference group. Dari sini, lahir definisi kelompok yang digunakan sebaga alat ukur (standar) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.

Jadi, apabila kita menggunakan kelompok itu sebagai teladan bagaimana seharusnya bersikap, maka kelompok itu menjadi kelompok rujukan positif; dan apabila kita menggunakan kelompok sebagai teladan bagaimana seharusnya kita tidak bersikap, kelompok itu menjadi kelompok rujukan negatif.

Kelompok yang terikat dengan kita secara nominal adalah kelompok keanggotaan kita, sedangkan yang memberikan kepada kita identifikasi psikologis adalah kelompok rujukan. Menurut teori kelompok rujukan (Hyman, 1942) kelompok rujukan mempunyai dua fungsi: fungsi komparatif dan fungsi normatif. Tamotsu Shibutani (1967) menambahkan satu fungsi lagi: fungsi perspektif.

Baca Juga: Perilaku Kelompok dalam Sebuah Organisasi

Kelompok Deskriptif dan Kelompok Preskriptif

Cragan dan Wright (1980) dari Illinois State University, membagi kelompok pada dua kategori: deskriptif dan preksriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah.

Kategori preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah-langkah rasional yang harus dilewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuannya. Menurut Cragan dan Wright (1980), ada enam format kelompok yaitu diskusi meja bundar, diskusi panel, simposium, kolokium, forum, dan prosedur parlementer.

Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi

Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Komunikasi
Ilustrasi (pexels.com/@fauxels)

Di sini akan dijelaskan tiga macam pengaruh kelompok meliputi: konformitas, fasilitas sosial, dan polarisasi.

Konformitas (Conformity)

Menurut Kiesler (1969) konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan (norma) sebagai akibat tekanan kelompok yang riil atau yang dibayangkan. Konformitas tidak sesederhana yang diduga orang. Seperti paradigma utama dalam pembahasan ini, konformitas adalah produk interaksi antara faktor-faktor situasional dan faktor-faktor personal.

Faktor-faktor situasional yang menentukan konformitas adalah kejelasan situasi, konteks situasi, cara menyampaikan penilaian, karekteristik sumber pengaruh, ukuran kelompok, dan tingkat kesepakatan kelompok.

Konteks situasi juga memengaruhi konformitas. Ada situasi yang menghargai konformitas, di samping situasi yang mendorong kemandirian. Kecenderungan untuk konformitas akan terjadi lebih besar pada situasi pertama ketimbang situasi kedua. Teori behaviorisme tentang ganjaran dan hukuman menjelaskan gejala ini.

Cara individu menyatakan penilaian dan perilakunya juga berkaitan dengan konformitas. Umumnya, bila individu harus menyatakan responsnya secara terbuka, ia cenderung melakukan konformitas daripada kalau ia dapat mengungkapkannya secara rahasia.

Di samping faktor-faktor situasional, beberapa faktor personal erat kaitannya dengan konformitas yaitu: usia, jenis kelamin, emosional, stabilitas, otoritarianisme, motivasi, kecerdasan, dan harga diri. 

Pada umumnya semakin tinggi usia seseorang semakin mandiri dirinya, maka semakin tidak bergantung pada orangtua dan semakin kurang kecenderungannya untuk konformitas. Wanita lebih cenderung melakukan konformitas daripada pria. Orang yang emosinya kurang stabil lebih mudah mengikuti kelompok daripada orang yang emosinya stabil. Semakin tinggi kecerdasan, semakin kurang kecenderungan ke arah konformitas.

Motif afiliasi mendorong konformitas. Motif berprestasi, motif aktualisasi diri, dan konsep diri yang positif menghambat konformitas. Semakin tinggi hasrat berprestasi seseorang, semakin tinggi kepercayaan dirinya, maka semakin sukar dirinya dipengaruhi oleh tekanan kelompok (konformitas).

Akan tetapi, semua pernyataan yang disebutkan di atas harus dilihat dalam hubungannya dengan faktor-faktor situasional. Orang yang kepercayaan dirinya tinggi juga dapat terpengaruh oleh kelompok dalam situasi ambigu. 

Pada dasarnya konformitas tidak selalu buruk, juga tidak selalu baik. Untuk nilai-nilai sosial yang dipegang teguh oleh sistem sosial, konformitas diperlakukan. Untuk keberhasilan moral, kita memerlukan konformitas. Akan tetapi, untuk perkembangan pemikiran, untuk menghasilkan hal-hal yang baru dan kreatif, konformitas akan merugikan (Hollander, 1975).

Baca Juga: Resiliensi Kolektif dan Membangun Resiliensi Individu

Fasilitas Sosial

Fasilitas sosial sebetulnya bukan istilah yang tepat karena dalam beberapa hal, kehadiran kelompok justru dapat menghambat pelaksanaan kerja. Istilah ini mungkin tepat dipergunakan untuk penelitian-penelitian awal dalam psikologi sosial.

Pada tahun 1924, Floyd Alport menemukan bahwa fasilitas sosial tidak selalu memudahkan pekerjaan. Kehadiran kelompok bersifat fasilitatif bila pekerjaan yang dilakukan berupa pekerjaan keterampilan yang sederhana. Sebaliknya, kelompok mempersulit pekerjaan apabila pekerjaan itu berkenaan dengan nalar dan penilaian.

Polarisasi

Menurut sebagian ahli, polarisasi ini boleh jadi disebabkan pada proporsi argumentasi yang mendukung sikap atau tindakan tertentu. Apabila proporsi terbesar mendukung sikap konservatif, keputusan kelompok pun akan lebih konservatif dan begitu sebaliknya (Ebbesen dan Bowers, 1974).

Polarisasi mengandung beberapa implikasi yang negatif. Pertama, kecenderungan ke arah ekstremisme, menyebabkan peserta komunikasi menjadi lebih jauh dari dunia nyata, karenanya semakin besar peluang bagi mereka untuk berbuat kesalahan. Akhirnya produktivitas kelompok menurun.

Polarisasi akan mendorong ekstremisme dalam kelompok gerakan sosial atau politik. Kelompok seperti ini biasanya menarik anggota-anggota yang memiliki pandangan yang sama. Ketika mereka berdiskusi, pandangan yang sama ini semakin dipertegas sehingga mereka semakin yakin akan kebenarannya.

Keyakinan tersebut disusul dengan merasa benar sendiri (self-righteousness) dan menyalahkan kelompok lain. Proses yang sama terjadi pada kelompok saingannya. Terjadilah polarisasi yang menakutkan di antara berbagai kelompok dan di dalam masing-masing kelompok. (Myres dan Bishop, 1970).

Posting Komentar untuk "Kelompok dan Pengaruhnya pada Perilaku Komunikasi"