Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konsep Psikoterapi Eksistensial Humanistik

Pandangan Teori Eksistensial Humanistik

Hakikat Manusia 

Pandangan Teori Eksistensial Humanistik Hakikat Manusia
Ilustrasi (pexels.com/@pixabay)

Manusia adalah mahluk yang selalu dalam keadaan transisi, berkembang, membentuk diri dan menjadi sesuatu. Menjadi seseorang berarti kita menemukan sesuatu dan menjadikan keberadaan kita sebagai sesuatu yang wajar.

Sebagai manusia kita selalu bertanya tentang diri kita sendiri, orang lain dan dunia. Teori eksistensial humanistik memiliki enam dimensi dasar positif akan kondisi atau hakikat manusia, yaitu:

1. Kapasitas akan kesadaran diri;

2. Kebebasan serta tanggung jawab;

3. Menciptakan identitas dirinya dan menciptakan hubungan yang bermakna dengan orang lain;

4. Usaha pencarian makna, tujuan, nilai dan sasaran;

5. Kecemasan sebagai suatu kondisi hidup; dan

6. Kesadaran akan datangnya maut serta ketidakberadaan.

Manusia pada dasarnya baik – aktif. Kecenderungan manusia untuk berkembang secara positif dan konstruktif apabila tercipta suasana menghormati dan mempercayai. Manusia itu penuh akal, dapat dipercaya dan positif, mampu mengarahkan diri, hidup secara produktif, efektif dan efisien.

Pandangan positif tentang sifat dasar manusia ini mengandung implikasi yang signifikan bagi praktik terapi yang berakar pada kapasitas klien untuk menyadari dan kemampuannya untuk membuat keputusan. 

Melihat manusia dari sisi ini berarti terapis berfokus pada segi konstruktif dari sifat dasar manusia, pada apa yang benar dengan pribadi itu dan pada aset yang dibawa orang dalam terapi. Implikasinya bahwa mereka tiada hentinya terlibat dalam suatu proses mengaktualisasikan diri.

Baca Juga: Konsep Terapi Psikoanalisis

Pribadi Sehat

Manusia dikatakan sehat pribadinya jika dapat memfungsikan enam dimensi dasar di atas secara benar, sehingga kesadaran berfungsi secara penuh, yaitu berpikir positif, dapat dipercaya, kreatif, memahami diri sendiri, produktif, efektif dan kongruen.

Rogers (1961, dalam Corey, 2000) menggambarkan orang yang menjadi semakin teraktualisasi memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Keterbukaan terhadap pengalaman,

2. Percaya pada diri sendiri,

3. Sumber evaluasi internal,

4. Kesediaan untuk tumbuh secara berlanjut.

Pribadi Tidak Sehat

Manusia dikatakan tidak sehat pribadinya jika gagal atau tidak mampu memfungsikan enam dimensi dasar yang dimiliki manusia, sehingga kesadaran tidak berfungsi secara penuh, yaitu: inkongruen, negatif, tidak dapat dipercaya, tidak dapat memahami diri sendiri, bermusuhan, kurang produktif.

Baca Juga: Bahaya Self Diagnosis Terhadap Kesehatan Mental

Tujuan Konseling

Konsep Psikoterapi Eksistensial Humanistik
Ilustrasi (pexels.com/shvets-production)

Difokuskan pada diri si klien, bukan pada masalah-masalah yang dikemukakan oleh klien. Lebih jelasnya konseling eksistensial humanistik adalah merevisi atau memperbaiki fungsi diri klien. Dalam proses konseling diperlukan suatu kondisi yang dianggap bisa menciptakan perubahan kepribadian, yaitu:

1. Ada dua orang dalam kontak psiklogis,

2. Orang pertama yang disebut sebagai klien mengalami hal yang tidak kongruen,

3. Orang kedua disebut terapis, adalah orang yang kongruen dan terintegrasi dalam hubungan itu,

4. Terapis menaruh perhatian positif, yaitu betul-betul peduli terhadap klien,

5. Terapis mengalami pemahaman secara empati terhadap ukuran internal di mana klien membentuk sikap atau keputusan dan usaha untuk mengkomunikasikannya,

6. Yang dikomunikasikan dengan klien berupa pemahaman empati dan perhatian positif tanpa syarat.

Hubungan Terapis dengan Klien

Tugas utama dari terapis adalah untuk memahami secara akurat akan keberadaan dunia subyektif yang mungkin dimiliki oleh klien, dengan harapan bisa menolong klien agar dapat memahami dan menentukan pilihan-pilihan baru.

Klien menemukan keunikan dirinya dalam hubungannya dengan terapis. Adanya hubungan formasl sebagai klien dan terapis seperti tatap muka. Hal-hal yang dapat menjadi tekanan dalam proses konseling baik pada diri klien maupun terapis diharapakan bisa diminimalisasi atau bahkan berubah sepenuhnya dengan tatap muka ini.

Baca Juga: Pengertian, Pendekatan, dan Manfaat Konseling di Lingkup Perusahaan

Teknik dan Prosedur

Sedikit saja teknik yang keluar pada pendekatan ini, sebab yang pertama ditekankan pada pendekatan ini adalah pemahaman, baru kemudian tekniknya. Bahkan, para terapis bisa saja menggunakan teknik dari pendekatan lain dan memasukkannya dalam kerangka pendekatan eksistensial.

Pendekatan ini tidak memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapis. Ada tiga tahap dalam konseling eksistensial, yaitu: tahap pendahuluan, tahap tengah dan tahap akhir dari konseling.

Fungsi dan Peran Konselor

Seperti yang sudah disinggung di atas, yang lebih diutamakan oleh konselor dalam terapi ini adalah memahami dunia subyektif klien, dengan harapan agar bisa menolong klien untuk dapat memahami dan menentukan pilihan-pilihan baru.

Fokusnya adalah pada saat itu, yang paling utama diperhatikan oleh konselor adalah tingkah-laku klien yang berusaha untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, maka terapis harus berusaha mengajak klien untuk menerima pertanggung jawaban pribadi.

 

Referensi Bacaan:

Jones. R.N. (2006). Teori Dan Praktik Konseling Dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Palmer. S. (2010). Konseling Dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posting Komentar untuk "Konsep Psikoterapi Eksistensial Humanistik"