Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konsep Terapi Psikoanalisis

Konsep-Konsep Utama Terapi Psikoanalisis

Konsep Terapi Psikoanalisis
Ilustrasi (pexels.com/@cottonbro)

Struktur Kepribadian

1. Id (tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan).

2. Ego (disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan dunia nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah atau penyeimbang antara id dan superego)

3. Super ego (disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar).

Kecemasan

Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan terjadi atau belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan superego.

Kecemasan terdiri dari tiga jenis: kecemasan neurosis yaitu cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik antara kebutuhan nyata atau realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.

Baca Juga: Gangguan Emosional - Gangguan Pada Fungsi Perasaan

Tujuan Terapi

Tujuan terapi psikoanalisis rangkap tiga, yaitu:

a. Id yang tidak terlalu terkonstruksi – pembebasan impuls.

b. Ego yang lebih kuat – penguatan fungsi ego berbasis-realitas, termasuk memperluas persepsi-persepsinya sehingga sesuai dengan lebih banyak id.

c. Superego yang lebih manusiawi – pengubahan konten superego sehingga ia mewakili standar moral yang lebih manusiawi dan tidak bersifat menghukum.

Salah satu definisi neurotik adalah seseorang yang tidak bisa merasakan kesenangan dan efesiensi. Agar bisa merasakan kesenangan, penderita neurotik membutuhkan kemampuan untuk menyebarkan energi kehidupan mereka ke objek-objek riil dan tidak mentransformasikannya menjadi gejala-gejala.

Freud menganggap penanganan psikoanalitik efektif untuk sejumlah penyakit saraf seperti; hysteria, kecemasan, dan neurosis obsessional. Oleh karena aliansi antara analisis dan ego klien bersifat mutualistik, maka ego klien perlu mempertahankan koheransi dengan orientasi realitas pada tingkat minimum.

Baca Juga: Teori, Tahapan, Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Realitas

Proses Terapi

Konsep Terapi Psikoanalisis
Ilustrasi (pexels.com/@alex-green)

Freud melihat praktik psikonalisis memiliki tiga bagian utama:

a. Menyokong ego klien yang lemah untuk berpartisipasi dalam pekerjaan intelektual, yaitu interpretasi untuk mengisi kesenjangan sumber-sumber mentalnya dan mentransfer otoritas superegonya kepada analisis.

b. Menstimulasi ego klien untuk berjuang melawan setiap tuntutan id dan mengalahkan resistensi yang timbul dalam kaitannya dengan tuntutan-tuntutan id itu.

c. Memulihkan ego klien “dengan mendeteksi materi dan impuls-impuls yang telah memaksanya masuk ketidaksadaran”.

Psikoanalisis adalah sebuah proses redukasi (pendidikan ulang) ego. Represi dikembangkan jika ego klien lemah. Akan tetapi, sekarang ego klien tidak hanya telah tumbuh lebih kuat, tetapi juga memiiki sekutu yakni analis. Terapi psikonalitik klasik sering kali melibatkan paling sedikit empat sesi perminggu di mana setiap sesi berlangsung paling sedikit 45 menit.

Freud beranggapan bahwa kesuksesan psikoanalisis bergantung pada hubungan kuantitatif antara banyaknya energi yang dapat dimobilisasi analis pada diri klien demi keuntungan klien dibandingkan dengan banyaknya energi kekuatan-kekuatan yang bekerja melawan mereka.

Baca Juga: Konseling dengan Pendekatan Behavioristik

Relasi Terapeutis

Salah satu fitur utama relasi terapeutis adalah pengembangan transferensi. Analis mendorong klien untuk mengatakan apapun yang terlintas dibenaknya tanpa sensor. Terapis atau analis tetap anonim dalam kaitanya dengan kehidupan dan pandangan pribadinya.

Disamping itu, segala bentuk gratifikasi pribadi tidak matang dari relasi terapeutik bersifat terlarang; misalnya memenuhi kebutuhan analis sendiri untuk persahabatan dan kasih sayang (afeksi). Analis harus menjaga agar hubungannya dengan klien tetap formal. Selain itu kerahasiaan harus tetap dijaga ketat.

Pada saat yang sama, analis terlibat intens dalam membantu klien mendapatkan insight, penuh kasih sayang, tetapi dituntut untuk menjauhkan diri secara emosional. Selama analis menghabiskan waktu panjang untuk mendengarkan klien, ia tidak mempresentasikan respons terhadap stimulasi atau manipulasi eksternal.

Analis memiliki kekuasaan untuk memutuskan interpretasi-interpretasi mana yang valid dan kapan serta bagaimana kliennya menolak proses terapeutiknya. Aspek-aspek praktis kontrak terapeutik diatur dengan ketat.

Intervensi Terapeutik

a. Asosiasi Bebas

Klien harus mengatakan kepada analisnya semua hal yang terjadi pada dirinya, bahkan jika hal itu tidak menyenangkan atau tampak tidak ada artinya. Sejauh mungkin klien didorong untuk tidak mengkritik dirinya dan menyampaikan segala pikiran, perasaan, ide, kenangan dan asosiasi mereka secara bebas.

Tujuan asosiasi bebas adalah untuk membantu mengangkat represi dengan membuat materi yang tidak disadari menjadi makin disadari.

b. Resistensi

Asosiasi bebas tidak benar-benar bebas dalam arti bahwa klien berasosiasi dalam konteks situasi analitik. Jadi, semua hal yang terjadi pada diri mereka memiliki acuan tertentu terhadap situasi itu dan mereka cenderung menolak memproduksi materi yang direpresi.

Pada tingkat paling sederhana, resistensi itu melibatkan secara sengaja untuk tidak menaati aturan fundamental. Bahkan jika tingkat resistensi ini diatasi, resistensi akan menemukan cara-cara ekspresi yang tidak terlalu terang-terangan.

Ego klien takut pada potensi ketidaksenangan yang disebabkan oleh eksplorasi materi yang telah direvisinya dalam ketidaksadaran. Ego melindungi dirinya dari id yang direpresi melalui antikateksis dalam (anti pencurahan energi perasaan).

Semakin mengancam materi yang direpresi, semakin teguh pula ego berpegang erat pada antikateksis-nya, dan semakin jauh pula asosiasi klien dari materi tidak sadar yang ingin ditemukan oleh analis.

Freud mendeskripsikan semua kekuatan berupa resistensi klien yang menentang upaya menemukan itu. Iya mengikhtisarkan lima macam resistensi.

1. Resistensi represi yang dideskripsikan di atas.

2. Resistensi transferensi yang akan dijelaskan di bawah.

3. Resistensi untuk melepaskan keuntungan yang didapat dari keadaan sakitnya.

4. Resistensi id, yang mungkin menolak perubahan pada cara pemuasannya dan merasa perlu untuk "menelaah" medium pemuasan baru.

5. Resistensi yang berasal dari superego, rasa bersalah atau kebutuhan akan hukuman yang tidak disadari yang menolak semua kesuksesan melalui analisis. Klien merasa dirinya harus tetap sakit karena mereka tidak pantas untuk membaik. Resistensi ini merupakan jenis resistensi yang paling kuat dan paling ditakutkan oleh analis.

Perjuangan mengatasi resistensi merupakan pekerjaan utama terapi psikoanalisis dan bagian terpenting dari penanganan analitik. Padahal hal ini tidak dapat diwujudkan dengan mudah.

Kekuatan yang membantu analis untuk mengatasi resistensi-resistensi klien adalah keinginan dari klien untuk sembuh, minat klien terhadap apapun yang mungkin dimiliki pada saat proses analitik dan yang paling penting adalah relasi positif klien dengan analisnya.

Baca Juga: Pengerian, Tujuan, Teknik dan Tahapan Konseling Psikoanalisa

c. Transferensi (pemindahan perasaan dan sikap)

Sejak awal karirnya, Freud menganggap penting hubungannya dengan klien. Ia sering kali menemukan klien mempersepsi analis sebagai reinkarnasi figur penting dari masa kanak-kanaknya dan memindahkan figur itu kepada analis dengan perasaan-perasaan dan emosi-emosi tingkat sedang sampai intens yang sesuai dengan model sebelumnya.

Berbicara tentang pemindahan cinta dan melihat bahwa cinta tersebut bercabang dan saling bertentangan, campuran antara kasih sayang dengan sisi yang berlawanan, menutup diri, dan cemburu. 

Transferensi merepresentasikan perkembangan neurosis asli menjadi neurosis transferensi dalam hubungannya dengan analis. Transferensi paling tidak memiliki tiga keuntungan:

1. Jika dimulai dengan sikap positif akan banyak membantu analis. Ego yang lemah dapat menjadi lebih kuat dan klien mendapatkan keuntungan dari rasa sukanya kepada si analis.

2. Jika klien menempatkan analis pada posisi ibu atau ayahnya, hal itu akan memberinya akses kekuasaan yang dimiliki super ego atas egonya. Analis sebagai super ego baru dapat memanfaatkan kekuasaannya untuk "mendidik" klien yang neurotik (Freud, 1949: 67).

Dalam arti, analis dapat memperbaiki kesalahan orang tua dalam hal "mendidik" klien pada masa lalu. Walau demikian, analis masih tetap perlu memenuhi independensi kliennya.

3. Dalam transferensi klien mereproduksi dan bukan sekedar mengingat bagian-bagian penting dalam sejarah hidupnya. Di hadapan analis, klien menunjukkan sikap mental dan reaksi defensif yang berhubungan dengan neurosisnya.

Jika penerapannya tidak dilakukan secara bervariasi, transferensi bisa berubah menjadi negatif dan terjadilah permusuhan, sehingga berbelok menjadi resistensi. Oleh karenanya analisis transferensi harus dilanjutkan berulangkali dan harus dengan banyak cara.

Menganalisis itu sendiri adalah proses repetisi (pengulangan), elaborasi dan pengembangan cakupan. Seringkali, pengalaman analisis transferensi yang sukses menstimulasi ingatan tentang kejadian atau fantasi penting tertentu yang pada gilirannya menjelaskan sifat transferensi.

Penanganan transferensi merupakan keterampilan kritis dari seorang analis, yang harus berulang kali ditunjukkan kepada klien bentuk-bentuk perasaan mereka pada masa kecil.

Analis perlu berhati-hati agar proses transferensi tidak menjadi di luar kontrolnya. Hal ini tepat dikemukakan kepada klien dan saling mewaspadai tanda-tanda awal terjadinya. Analis dapat mendorong klien untuk tidak menunjukkan transferensinya di luar lingkup cakupan analitik.

Baca Juga: Pengertian, Prinsip, Tahapan, dan Fungsi Konseling Individu

d. Interpretasi

Interpretasi itu konstruksi atau eksplanasi (penjelasan). Interpretasi dapat difokuskan pada apa yang telah terjadi kepada klien dan telah dilupakannya dan mengenai apa yang sekarang terjadi pada klien, yang tidak dipahaminya.

Interpretasi adalah sarana yang digunakan untuk mentransformasikan materi yang direpresi dari tidak disadari menjadi materi prasadar dan kemudian disadari.

Analis menggunakan interpretasi bukan hanya untuk memahami impuls-impuls id, tetapi juga untuk membantu klien agar mendapatkan insight tentang mekanisme dan resistansi yang digunakannya dalam menghadapi materi yang direpresi dan untuk merintangi upaya analitik.

Bagian dari pekerjaan interpretasi adalah berupa pengisian kesenjangan ingatan. Analis menginterpretasi impuls-impuls yang direpresi dalam objek-objek kedekatannya dengan tujuan membantu klien mengganti referensi-referensi itu dengan tindakan judgments (evaluasi kritis terhadap hal, kejadian peristiwa atau individu) yang sesuai dengan situasi masa kini dari pada situasi masa kanak-kanaknya.

Analis menangani ego klien, mendorongnya untuk mengatasi resistensi dan mengambil alih kontrol energi kehidupan yang direpresi sampai sekarang. Impuls-impuls tidak sadar dikritik dengan cara dilacak balik ke asal-muasalnya. Materi untuk interpretasi diperoleh dari sejumlah sumber. Sumber ini termasuk asosiasi bebas, mimpi klien, dan hubungan transferensi klien dengan analisis.

Analis perlu membedakan dengan jelas pengetahuannya dan pengetahuan klien. Ketepatan penentuan waktu interpretasi sangatlah penting, karena jika diupayakan pada waktu yang salah akan menemui resistensi. Oleh karena itu, klien perlu ditekankan pada kondisi insight sebelum analis membuat interpretasi.

Semakin dekat interpretasi itu ke detail-detail yang telah dilupakan, semakin mudah bagi klien untuk menerimanya. Tahap-tahap psikoanalisis selanjutnya melibatkan penelaahan melalui interpretasi berulang-ulang dan tahap ini seringkali menjadi bagian analisis yang paling sulit dan tidak lengkap.

Baca Juga: Sejarah Psikoterapi, Helping dan Konseling

e. Tafsir Mimpi

Menurut Freud, menafsirkan mimpi merupakan representasi salah satu bagian penting, kadang-kadang yang paling penting dari pekerjaan analis. Freud sering meminta kliennya untuk mengomunikasikan setiap ide atau pikiran yang terjadi dalam kaitannya dengan topik tertentu, termasuk di antaranya mimpi-mimpi mereka.

Mimpi ini menginformasikan kepada Freud bahwa "mimpi dapat diselipkan ke dalam rantai psikis yang harus dilacak mundur dalam ingatan dari sebuah ide patologis" (Freud, 1900/ 1976: 175). 

Selama tidur, ego mengurangi represinya dan oleh sebab itu materi tidak sadar menjadi materi sadar dalam bentuk mimpi. Freud melihat mimpi sebagai pemenuhan keinginan, pemenuhan tersamar dari keinginan-keinginan yang direpresi.

Freud menyiapkan klien untuk menangani mimpinya dengan dua cara. Pertama, ia meminta klien untuk meningkatkan perhatian pada persepsi-persepsi fisiknya. Untuk itu klien disarankan “berbaring dengan sikap istirahat” (1900/1976: 175). Akan tetapi, Freud juga menekankan pada klien agar segera menutup matanya.

Kedua, secara eksplisit Freud memaksa kliennya untuk meninggalkan semua kritik terhadap pikiran-pikiran yang dipersepsinya (salah satu fitur dari asosiasi bebas).

 

Daftar Pustaka:

Jones. R.N. (2006). Teori Dan Praktik Konseling Dan Terapi. Pustaka Belajar. Yogyakarta.

Palmer. S. (2010). Konseling Dan Psikoterapi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Posting Komentar untuk "Konsep Terapi Psikoanalisis"