Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kritik Kultural Terhadap Inovasi Teknologi

Initentangpsikologi.com - Teori kritis lahir dari berbagai kritik terhadap pemikiran sosiolog klasik yakni Karl Marx. Kritik terhadap masyarakat modern, teori kritis melihat bahwa perkembangan teknologi yang seharusnya membuat masyarakat modern menjadi lebih kritis justru kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.

Kritik Kultural Terhadap Inovasi Teknologi
Ilustrasi (pexels.com/@olly)

Bagi teori kritis, inovasi-inovasi di bidang teknologi (contohnya kehadiran televisi dan internet) digunakan sebagai alat oleh para pemilik modal untuk "menjinakkan masyarakat". Teori kritis mengatakan bahwa alih-alih didominasi secara ekonomi, masyarakat modern justru didominasi secara kultural lewat bantuan inovasi-inovasi teknologi tersebut. 

Kritik terhadap budaya, teori kritis memandang budaya (budaya masyarakat modern) sebagai sesuatu yang palsu dan diproduksi secara massal oleh media. Bagi teori kritis, di era modern ini ilmu pengetahuan telah dijadikan alat untuk menjustifikasi keputusan-keputusan publik yang menguntungkan penguasa.

Baca Juga: Masyarakat Cyber dan Lenyapnya Batas Sosial

Inovasi atau innovation berasal dari kata innovate (English) dan innovare (bahasa Latin) yang artinya membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi Teknologi yaitu memperkenalkan suatu teknologi yang baru, pelayanan yang baru, dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. 

Menurut Kvale (2006), ketika inovasi teknologi mempunyai tempat yang penting dalam masyarakat, inovasi juga membawa sebuah gaya hidup yang membahayakan. Kemajuan teknologi yang semula untuk memudahkan manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul kesepian dan keterasingan baru, yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturahmi. 

Contohnya penemuan televisi, komputer, internet, dan handphone yang telah mengakibatkan masyarakat terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia, bahkan tak jarang lebih sering memperhatikan dunia layar dibandingkan dengan keluarga sehingga mengakibatkan hubungan antar anggota keluarga renggang, satu sama lain. 

Hal ini baru dalam rumah tangga sendiri, sementara mungkin bertemu tetangga hanya ketika bendera kuning (tanda kematian) berdiri di depan rumah tetangga. Ketika itu, baru kita sadar ada anggota tetangga yang wafat. Lalu dengan sedikit basa-basi kita membesuk sebentar sebelum pergi ke kantor (Bakhtiar, 2012). 

Kemajuan teknologi juga merupakan contoh perubahan sosial yang bersifat kemunduran karena manusia menjadi tergantung dengan teknologi (budak teknologi). Sehingga hasilnya bukan manusia yang menguasai teknologi akan tetapi teknologilah yang justru menguasai manusia.

Baca Juga: Antara Anak, Gadget, dan Kesehatan Mentalnya

Manusia saat ini benar-benar telah menjadi budak dari teknologi. Berdasarkan survei yang dilakukan Secur Envoy, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam password digital, yang melakukan survei terhadap 1.000 orang di Inggris menyimpulkan bahwa mahasiswa masa kini mengalami nomophobia, yaitu perasaan cemas dan takut jika tidak bersama telepon selulernya. 

Menurut perusahaan riset tersebut, sebagian besar masyarakat mengatakan tidak bisa hidup tanpa internet dan membutuhkan konektivitas dengan kecepatan tinggi.

Pada masyarakat teknologi, ada tendensi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi (kemerosotan tata-nilai) secara perlahan-lahan sampai akhirnya manusia takluk pada teknik. 

Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari kondisi kehidupan manusia itu sendiri. Manusia pada saat ini telah begitu jauh dipengaruhi oleh teknik. Gambaran kondisi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Situasi tertekan

Manusia mengalami ketegangan akibat penyerapan mekanisme-mekanisme teknik. Manusia melebur dengan mekanisme teknik, sehingga waktu manusia dan pekerjaannya mengalami pergeseran. Peleburan manusia dengan mekanisme teknik, menuntut kualitas dari manusia, tetapi manusia sendiri tidak hadir di dalamnya. 

Contohnya: pada sistem industri ban, seorang buruh meskipun sakit atau lelah, ataupun ada berita duka bahwa salah satu keluarganya sedang sekarat di Rumah Sakit, mungkin pekerjaan itu tidak dapat ditinggalkan sebab akan membuat macet garis produksi dan upah bagi temannya. Keadaan tertekan demikian, akan menghilangkan nilai-nilai sosial dan tidak manusiawi lagi. 

Baca Juga: Perempuan dan Norma Sosial

b. Perubahan ruang dan lingkungan manusia

Teknologi telah mengubah lingkungan manusia dan hakikat manusia. Contoh yang sederhana manusia dalam hal makan atau tidur tidak ditentukan oleh lapar atau mengantuk tetapi diatur oleh jam. 

Lingkungan manusia menjadi terbatas, manusia sekarang hanya berhubungan dengan bangunan tinggi yang padat, sehingga sinar matahari pagi tidak sempat lagi menyentuh permukaan kulit tubuh manusia.

c. Perubahan waktu dan gerak manusia

Akibat teknologi, manusia terlepas dari hakikat kehidupan. Sebelumnya waktu diatur dan diukur sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa-peristiwa dalam hidup manusia, sifatnya alamiah dan konkrit. 

Akan tetapi, saat ini waktu menjadi abstrak dengan pembagian jam, menit dan detik. Waktu hanya mempunyai kuantitas belaka dan tidak ada nilai kualitas manusiawi atau sosial, sehingga irama kehidupan harus tunduk kepada waktu.

d. Terbentuknya suatu masyarakat massa

Akibat teknologi, manusia hanya membentuk masyarakat massa, artinya ada kesenjangan sebagai masyarakat kolektif. Sekarang struktur masyarakat hanya ditentukan oleh hukum ekonomi, politik, dan persaingan kelas. Proses ini telah menghilangkan nilai-nilai hubungan sosial suatu komunitas. 

Terjadinya neurosa obsesional atau gangguan syaraf menurut beberapa ahli merupakan akibat hilangnya nilai-nilai hubungan sosial. Kondisi sekarang ini manusia sering dipandang menjadi objek teknik dan harus selalu menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada (Bachtiar, 2012).

Baca Juga: Pengertian, Ciri, Syarat dan Bentuk dari Interaksi Sosial

Dunia modern yang mengukir kisah sukses secara materi dan kaya ilmu pengetahuan serta teknologi tidak cukup memberi bekal hidup yang kokoh bagi manusia, sehingga banyak manusia modern tersesat dalam kemajuan dan kemodernannya. 

Manusia modern kehilangan aspek moral sebagai fungsi kontrol dan terpasung dalam sangkar teknologi. Meskipun teknologi memberikan banyak manfaat bagi manusia, namun di sisi lain, kemajuan teknologi akan berpengaruh negatif pada aspek sosial budaya:

a. Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. 

Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani.

b. Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat dan semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat. Sikap gotong-royong dan tolong-menolong yang berkurang atau bahkan hilang telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. 

Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti tawuran, fandalisme, mabuk, penyalahgunaan obat-obatan, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.

c. Pola interaksi antar manusia yang berubah. Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. 

Program Internet Relay Chatting (IRC), internet, dan email telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. 

Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program Internet Relay Chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja (Siti Irene, 2012).

 

Penulis: Eka Kristyanti (1707016070)

 

Referensi:

Ngafifi, M. (2014). Kemajuan teknologi dan pola hidup manusia dalam perspektif sosial budaya. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2(1).

https://medium.com/@ariefism/mengenal-teori-kritis-f9989c7b14bf

Posting Komentar untuk "Kritik Kultural Terhadap Inovasi Teknologi"