Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengertian, Aspek, dan Faktor Aktualisasi Diri

Pengertian Aktualisasi Diri

Pengertian Aktualisasi Diri
Ilustrasi (pexels.com/@stefanstefancik)

Maslow (1954) Hierarchy of Needs menggunakan istilah aktualisasi diri (self actualization) sebagai kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Maslow (1970) dalam Arianto (2009:139) menjelaskan aktualisasi diri adalah proses individu untuk menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik.

Menurut Maslow (2014) seorang individu siap untuk bertindak sesuai kebutuhan pertumbuhan jika dan hanya jika kebutuhan atau kekurangannya terpenuhi, konseptualisasi awal Maslow hanya mencakup satu kebutuhan pertumbuhan yakni aktualisasi diri. Orang-orang yang teraktualisasi diri dicirikan oleh:

1) Fokus pada masalah;

2) Menggabungkan kesegaran apresiasi hidup yang terus berlanjut;

3) Keprihatinan tentang pertumbuhan pribadi; dan

4) Kemampuan untuk memiliki pengalaman puncak.

Maslow (1970) menemukan bahwa tanpa memandang suku asal-usul seseorang, setiap manusia mengalami tahap-tahap peningkatan kebutuhan atau pencapaian dalam kehidupannya. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Menurut Maslow (1987) aktualisasi diri merupakan penggunaan dan pemanfaatan secara penuh terhadap bakat, kapasitas-kapasitas, potensi-potensi yang dimiliki oleh individu untuk memenuhi kebutuhan diri tersebut. Proses aktualisasi adalah perkembangan atau penemuan jati diri dan berkembangnya suatu potensi yang dimiliki oleh manusia (Maslow, 1987).

Aktualisasi diri adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk menjadi yang terbaik yang bisa dilakukan. Rogers (dalam Schultz, 1993) menyatakan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan akan kebutuhan aktualisasi diri untuk mengembangkan seluruh potensi pada dirinya.

Kecenderungan akan kebutuhan aktualisasi diri juga dimiliki oleh penyandang disabilitas sebagai tenaga pendorong untuk meningkatkan pematangan dan pertumbuhan fisiologis maupun psikologis. Rogers (dalam Martosudarmo, 2005) berpendapat bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, jika kondisi memungkinkan. 

Dengan demikian, maka manusia yang mempunyai perilaku ‘menyimpang’, pada dasarnya bukan disebabkan oleh itikad yang negatif, tetapi karena tidak adanya kesempatan bagi orang tersebut untuk mengembangkan potensinya. Karena manusia dalam mengembangkan potensinya hanya mempunyai motif dasar yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.

Baca Juga: Teori Konstruk Kepribadian George Kelly

Aspek-Aspek Aktualisasi Diri

Vallet (dalam Hanifah, 2005) berpendapat bahwa aspek-aspek proses perkembangan seseorang untuk mewujudkan aktualisasi dirinya, antara lain:

a. Memahami kebutuhan dasar yang manusiawi, yaitu bagaimana individu memahami kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar.

b. Mengungkapkan perasaan yang manusiawi, yaitu ungkapan-ungkapan individu tentang apa yang dirasakannya.

c. Kesadaran dan kontrol diri, bagaimana individu mampu menyadari dan mengontrol setiap tindakannya sehingga sesuai dengan harapan-harapannya.

d. Menjadi sadar akan nilai-nilai manusiawi, kemampuan individu untuk bisa menerima nilai-nilai yang berlaku di sekelilingnya, seperti bekerja sama dengan orang lain.

e. Mengembangkan kedewasaan sosial dan individu, kemampuan individu untuk dapat mempertimbangkan segala tindakan yang dilakukan serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. 

Baca Juga: Teori Perbandingan Sosial dalam Menilai Kebutuhan Individu

Faktor-Faktor Aktualisasi Diri

Anari (dalam Hanifah, 2005) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri adalah:

a. Kreativitas, merupakan sikap yang diharapkan ada pada orang yang beraktualisasi diri. Kreativitas bagi mereka adalah suatu sikap. Individu ini asli, inventif dan inovatif meski tidak harus menghasilkan sesuatu.

b. Kepribadian, yaitu organisasi yang dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap lingkungan.

c. Transendensi, yaitu lebih tinggi, unggul, agung, melampaui, dalam arti yang lain tidak tergantung. Individu yang beraktualisasi diri akan berusaha menjadi yang terbaik.

d. Demokratis, orang yang beraktualisasi diri bertingkah laku lebih dalam daripada toleransi. Meski individu menyadari bahwa perbedaan-perbedaan dengan orang lain, tetapi individu dapat menerima semua orang tanpa memperhatikan tingkat pendidikan dan kelas sosial. Individu siap mendengarkan dan belajar pada siapa saja yang dapat mengajarkan itu pada dirinya.

e. Hubungan sosial, yaitu individu akan lebih menghargai keberadaan orang lain dalam lingkungannya.

 

Penulis: Diah Rizqi Utami (1707016026)

Posting Komentar untuk "Pengertian, Aspek, dan Faktor Aktualisasi Diri"