Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Puncak Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Initentangpsikologi.com - Pengetahuan adalah sumber kekuatan untuk segala hal dalam kehidupan. Pengetahuan bisa didapat dari program pendidikan atau kursus yang diikuti, membaca buku, praktik di lapangan ataupun belajar dari orang lain. 

Dalam hirarki pengetahuan, terdapat lima landasan utama yaitu tradisi, otoritas, trial and error, penalaran logis dan metode ilmiah.

Puncak Kemajuan Ilmu Pengetahuan
(Ilustrasi)

Tradisi

Tradisi merupakan landasan terbawah dalam pengetahuan. Sesuatu hal dianggap benar karena sudah dianggap benar sejak dulu. Tradisi biasanya tidak memiliki landasan ilmiah, bahkan terkadang tidak diketahui alasannya, hanya dilakukan terus-menerus karena biasa dilakukan dalam jangka waktu lampau.

Meskipun begitu, tingkat kepercayaan kebanyakan orang terhadap tradisi masih sangat tinggi. Bahkan dalam bidang fitness misalnya, ada orang melakukan latihan angkat beban dengan 3 set 10 repetisi, saat ditanya apa alasannya, jawabannya adalah karena itu sering dilakukan banyak orang.

Seharusnya di era global seperti sekarang ini, seseorang harus mengolaborasikan tradisi dan pengetahuan yang ada. Jika suatu tradisi sejalan saat dikaitkan dengan pengetahuan, maka itu bisa diterapkan. Namun, jika dirasa bertentangan, lebih baik cari dan pilih referensi lain dan hindari jenis tradisi tersebut.

Kita harus menjadi individu yang pandai memilah mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Bukan hanya bergantung pada apa yang dianggap benar dan diterima banyak orang saja.

Baca Juga: Kritik Kultural dalam Inovasi Teknologi

Otoritas

Hirarki pengetahuan berdasarkan otoritas maksudnya adalah sesuatu dianggap benar karena hal tersebut dikatakan oleh ahli. Contoh sederhananya, para murid di kelas akan menganggap benar apa yang dikatakan oleh gurunya karena guru dianggap sebagai ahli.

Banyak orang mudah sekali mengadopsi pendapat para ahli, padahal opini yang mereka kemukakan belum dapat dipastikan kebenarannya. BIsa saja opini mereka tidak memiliki bukti ilmiah dan terkait banyak bias.

Oleh sebab itu, kita memang boleh belajar dari para ahli namun tetap mencari referensi ilmiahnya agar pengetahuan yang dimiliki bisa diterapkan dengan baik dan memberikan hasil yang optimal saat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari

Trial and Error

Trial artinya mencoba, dan error artinya salah. Trial and error digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang terbaik. Setelah dilakuakn percobaan berkali-kali maka akan diketahui di mana letak kesalahannya, dan kesalahan-kesalahan yang ditemukan itu akan diperbaiki sehingga didapatkan pengetahuan yang mendalam.

Dalam banyak kasus, trial and error akan memicu penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam. Namun, trial and error memiliki keterbatasan yang signifikan, oleh karena itu hal ini baik digunakan dalam konteks ilmu pengetahuan yang tinggi.

Baca Juga: Pengetahuan dalam Konstruk Politik

Penalaran Logis

Penalaran logis adalah proses sistematis yang menggabungkan pengalaman pribadi, kecerdasan dan sistem berpikir formal untuk memperoleh pengetahuan. Penalaran logis dapat berupa deduktif (teori yang digunakan untuk membuat hipotesis) atau induktif (generalisasi yang diambil dari pengamatan tertentu).

Keduanya (penalaran induktif dan penalaran deduktif) merupakan aspek penting dari penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah. Namun untuk memperoleh pengetahuan terbaik, penalaran logis harus tetap divalidasi oleh pengujian empiris.

Metode Ilmiah

Metode ilmiah adalah puncak dari piramida hirarki ilmu pengetahuan. Metode ilmiah meliputi pemeriksaan sistematis, empiris, pengontrolan, dan titik proposisi kritis pada hipotesis. Dalam hal ini, pengetahuan didapatkan dari hasil penelitian empiris yang bebas dari bias oleh para peneliti.

Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk merumuskan dan melakukan penelitian dengan metode ilmiah, karena metode ini menuntut untuk mengembangkan opini berdasarkan bukti. Sejauh ini, metode ilmiah adalah landasan terbaik dalam hirarki pengetahuan.

Baca Juga: Memahami Pendidikan Karakter serta Tujuannya

Cara mengaplikasikan lima landasan hirarki pengetahuan adalah dimulai dari piramida paling atas (metode ilmiah). Lihatlah penelitian menyatakan apa terhadap suatu topik. Kemudian, pertimbangkan secara logis seluruh aspek yang tersedia dalam penelitian. Jika memungkinkan, cari ulasan sistematis yang mengonsolidasikan informasi untuk memaksimalkan kekuatan statistik. 

Hasil penelitian akan mendukung teori dan semakin kuat bukti yang ada maka teori akan semakin bermanfaat. Setelah memilliki pemahaman yang baik mengenai pengetahuan, manfaatkan pengetahuan tersebut untuk membuat opini terbaik.

Dalam konsepsi agama, ilmu pengetahuan lahir sejak diciptakannya manusia pertama yaitu Nabi Adam, kemudian berkembang menjadi sebuah ilmu atau ilmu pengetahuan. Pada hakekatnya ilmu pengetahuan lahir karena hasrat ingin tahu dalam diri manusia. Hasrat ingin tahu ini timbul oleh karena tuntutan dan kebutuhan dalam kehidupan yang terus berkembang.

Secara teoritis, perkembangan ilmu pengetahuan selalu mengacu kepada peradaban Yunani. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah mitologi bangsa Yunani, kesusastraan Yunani, dan pengaruh ilmu pengetahuan pada waktu itu yang sudah sampai di Timur Kuno. 

Terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan di setiap periode ini dikarenakan pola pikir manusia yang mengalami perubahan dari mitos-mitos menjadi lebih rasional. Manusia menjadi lebih proaktif dan kreatif menjadikan alam sebagai objek penelitian dan pengkajian.

Baca Juga: Wacana Teori Ilmu Sosial Kritis

Puncak Kemajuan Ilmu Pengetahuan
(Ilustrasi)

Perkembangan sejarah ilmu pengetahuan menurut Amsal Bakhtiar dibagi menjadi empat periode, dijelaskan sebagai berikut:

1. Periode Yunani Kuno

Yunani kuno adalah tempat bersejarah di mana sebuah bangsa memiliki peradaban. Oleh karenanya Yunani kuno sangat identik dengan filsafat yang merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah berkembang jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. 

Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang. 

Menurut Bertrand Russel, di antara semua sejarah, tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Memang banyak unsur peradaban yang telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia. Namun unsur-unsur tertentu belum utuh sampai bangsa Yunanilah yang kemudian menyempurnakannya. 

Seiring dengan berkembangannya waktu, filsafat dijadikan sebagai landasan berpikir oleh bangsa Yunani untuk menggali ilmu pengetahuan, sehingga berkembang pada generasi-generasi setelahnya. Itu ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.

Zaman ini berlangsung dari abad 6 sebelum masehi sampai dengan sekitar abad 6 masehi. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja). Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur dan Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya.

Baca Juga: Teori Kognitif Menurut Piaget dan Bruner

2. Periode Islam

Tidak terbantahkan bahwa Islam sesungguhnya adalah ajaran yang sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan, hal ini sudah terlihat dari pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an yang diwahyukan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq dengan diawali kata perintah iqra yang berarti (bacalah). 

Gairah intelektualitas di dunia Islam ini berkembang pada saat Eropa dan negara Barat mengalami titik kegelapan, sebagaimana dikatakan oleh Josep Schumpeter dalam buku magnum opusnya yang menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. 

Masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Islam, suatu hal yang berusaha disembunyikan oleb Barat karena pemikiran ekonom Muslim pada masa inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para ekonom Barat. Pada saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. 

Di saat Eropa pada zaman pertengahan lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainnya.

Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Hadits. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di dunia Islam zaman klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia).

Sedangkan W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian pada sekitar tahun 900 M ke Baghdad.

Sekitar abad ke 6-7 masehi, obor kemajuan ilmu pengetahuan berada di pangkuan perdaban Islam. Dalam lapangan kedokteran muncul nama-nama terkenal seperti: Buku karya al-Razi (850-923 M) merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya.

Rhazas mengarang suatu ensiklopedia ilmu kedokteran dengan judul Continens, Ibnu Sina (980-1037 M) menulis buku-buku kedokteran (al-Qonun) yang menjadi standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. 

Al-Khawarizmi (Algorismus atau Alghoarismus) menyusun buku Aljabar pada tahun 825 M, yang menjadi buku standar beberapa abad di Eropa. Ia juga menulis perhitungan biasa (Arithmetics), yang menjadi pembuka jalan penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi. 

Ibnu Rushd (1126-1198 M) seorang filsuf yang menerjemahkan dan mengomentari karya-karya Aristoteles. Al Idris (1100-1166 M) telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Boger II dari kerajaan Sicilia.

Dalam bidang kimia ada Jabir ibn Hayyan (Geber) dan al-Biruni (362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jabir ibn Hayyan memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Biruni mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi.

Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat. Sebut saja al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina atau Avicenna, al-Ghazali, Ibnu Bajah atau Avempace, Ibnu Tufayl atau Abubacer, dan Ibnu Rushd atau Averroes. 

Menurut Felix Klein-Franke, al-Kindi berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun pondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh al-Farabi. 

Al-Kindi sangat ingin memperkenalkan filsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing.

Menurut Betrand Russell, Ibnu Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. 

Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris. Rasionalisme Ibnu Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau renaisains.

Baca Juga: Perilaku Beragama dalam Pandangan Psikoanalisis

3. Masa Renaisains dan Modern

Michelet, sejarawan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisains. Para sejarawan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. 

Agak sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman renaisains, dan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisains. Renaisains adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. 

Renaisains merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisains yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara agama semakin ditinggalkan karena semangat humanisme. 

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.

Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.

Baca Juga: Agama menurut Sigmund Freud

4. Periode Kontemporer 

Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masih berlangsung hingga saat ini. Zaman ini ditandai dengan adanya teknologi-teknologi canggih, dan spesialisasi ilmu-ilmu yang semakin tajam dan mendalam. Pada zaman ini bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan banyak dibicarakan oleh para filsuf. 

Sebagian besar aplikasi ilmu dan teknologi di abad 21 merupakan hasil penemuan mutakhir di abad 20. Pada zaman ini, ilmuwan yang menonjol dan banyak dibicarakan adalah fisikawan. Bidang fisika menjadi titik pusat perkembangan ilmu pada masa ini. Fisikawan yang paling terkenal pada abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia lahir pada tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal pada tanggal 18 April 1955 (umur 76 tahun). 

Albert Einstein adalah seorang ilmuwan fisika. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”. 

Karyanya yang lain berupa gerak Brownian, efek fotolistrik, dan rumus Einstein yang paling dikenal adalah E=mc². Di artikel pertamanya di tahun1905 bernama “On the Motion-Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat-of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid“, mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. 

Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, Einstein menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.

Pada zaman ini juga melihat integrasi fisika dan kimia, pada zaman ini disebut dengan “Sains Besar”. Linus Pauling (1953) mengarang sebuah buku yang berjudul "The Nature of Chemical Bond" menggunakan prinsip-prinsip mekanika kuantum. Kemudian, karya Pauling memuncak dalam pemodelan fisik DNA, “rahasia kehidupan”. 

Pada tahun ini juga James D. Watson, Francis Crick dan Rosalind Franklin menjelaskan struktur dasar DNA, bahan genetik untuk mengungkapkan kehidupan dalam segala bentuknya. Hal ini memicu rekayasa genetika yang dimulai tahun 1990 untuk memetakan seluruh manusia genom (dalam Human Genome Project) dan telah disebut-sebut sebagai berpotensi memiliki manfaat medis yang besar.

Selain kimia dan fisika, teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat pada zaman ini. Sebut saja beberapa penemuan yang disebut sebagai penemuan yang merubah warna dunia, yaitu: Listrik, Elektronika, Robotika (mesin produksi dan mesin pertanian), TV dan Radio, Teknologi Nuklir, Mesin Transportasi, Komputer, Internet, dan lainnya. 

Kini, penemuan terbaru di bidang Teknologi telah muncul kembali. Sumber lain telah memberitakan penemuan “Memristor”. Ini merupakan penemuan Leon Chua, profesor teknik elektro dan ilmu komputer di University of California Berkeley. Keberhasilan itu menghidupkan kembali mimpi untuk bisa mengembangkan sistem-sistem elektronik dengan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi daripada saat ini. 

Caranya, memori yang bisa mempertahankan informasi bahkan ketika power-nya mati, sehingga tidak perlu ada jeda waktu untuk komputer untuk boot-up, misalnya, ketika dinyalakan kembali dari kondisi mati. Hal ini digambarkan seperti menyala-mematikan lampu listrik, ke depan komputer juga seperti itu (bisa dihidup-matikan dengan sangat mudah dan cepat).

Baca Juga: Kritik Kultural terhadap Inovasi Teknologi

Kesimpulan 

Perkembangan ilmu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari rasa keingintahuan yang besar diiringi dengan usaha-usaha yang sungguh-sungguh melalui penalaran, percobaan, penyempurnaan, dan berani mengambil risiko tinggi sehingga menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi suatu generasi dan menjadi acuan pertimbangan bagi generasi selanjutnya untuk mengoreksi, menyempurnakan, mengembangkan, dan menemukan penemuan selanjutnya. 

Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi spirit dan motivasi bagi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal penting yang perlu dicatat dalam hal ini adalah bahwa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan pengembangan moralitas spiritual, karena sebagaimana kita tahu bahwa ilmu pengetahuan hakekatnya adalah bebas nilai, tergantung bagaimana manusia mempergunakannya. 

Ilmu pengetahuan bisa berdampak positif, tetapi ia juga dapat memiliki dampak negatif bagi kehidupan manusia. Dampak positifnya adalah dapat semakin mempermudah dan memberikan kenyamanan dalam kehidupan manusia, sementara dampak negatifnya adalah dapat menghancurkan tatanan kehidupan manusia itu sendiri.

 

Daftar Pustaka:

Bakhtiar, Amsal. (2013). Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Russell, Bertrand. (2004). Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Klein-Franke, Felix. (2003). “Al-Kindī”, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman. Bandung: Mizan.

George J. Mouly. (1991). Perkembangan Ilmu, dalam Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Jujun S. Suriasumantri. Jakarta: Gramedia.

Hadiwiyono, Harun. (1980) Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius.

Nasution, Harun. (1998) Islam Rasional. Bandung: Mizan.

 

Penulis: Ahmad Ali Sutiarno (1707016020)

Posting Komentar untuk "Puncak Kemajuan Ilmu Pengetahuan"