Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Wacana Teori Ilmu Sosial Kritis

Initentangpsikologi.com - Marx (1963) memberikan deskripsi yang berguna tentang elemen-elemen penyusunan teori yang menawarkan tiga dimensi yang membedakan seni dari ilmu pengetahuan. Marx membahas tiga komponen penyusunan teori hipotesis, konstruk, dan observasi sebagai kontinum yang bergerak antara seni dan ilmu pengetahuan.

Wacana Teori Ilmu Sosial Kritis
Ilustrasi (pexels.com/@karolina-grabowska)

Berdasar tesis Habermas (1971) dalam knowledge and human interest yang menyatakan bahwa pengetahuan bebas nilai mengabaikan minat manusia yang inheren dengan pengetahuan. Para teoritis kritis bertahan pada pendapatnya bahwa tidak ada akhir bagi ideologi, tidak satupun bagian dari budaya yang tanpa ideologi.

Perhatian utama wacana dalam ilmu sosial kritis adalah bagaimana menghasilkan pengetahuan dengan cara mengalihkan pemikiran kritis ke dalam tindakan emansipatoris.

Baca Juga: Pengetahuan dalam Konstruk Politik

Kesadaran dan subjektifisme muncul ke permukaan dalam inkuiri kritis sebagai titik temu antara agen manusia dan pemaksaan manusia yang mengganggu urgensi teoritis. Tujuannya adalah sebuah ilmu sosial kritis yang mengurangi tekanan dengan memacu: 

“kebutuhan masyarakat akan pengetahuan, tentang siapa mereka dan sadar akan diri mereka sendiri sebagai makhluk yang aktif dan menentukan, yang mempunyai tanggung jawab terhadap pilihan mereka sendiri dan yang mampu menjelaskan diri mereka dalam istilah yang secara bebas mereka adopsi dari tujuan dan gagasan mereka sendiri." (Fay, 19877).

Soekanto (2012) manusia sebenarnya diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat disimpulkan dari kemampuannya untuk berpikir, berkehendak, dan merasa. Dengan pikirannya manusia mendapatkan (ilmu) pegetahuan; dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya; dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kesenangan.

Dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya.

Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan timbul karena adanya hasrat ingin tahu dalam diri manusia. Hasrat ingin tahu timbul karena banyak sekali aspek kehidupan yang masih gelap bagi manusia dan manusia ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan tersebut. 

Baca Juga: Teori-teori Tentang Belajar

Setelah manusia memperoleh pengetahuan tentang suatu keputusannya, segera disusul lagi oleh suatu kecenderungan tersebut, yang dapat ditempuh melalui berbagai cara berikut:

a. Penemuan secara kebetulan, artinya penemuan yang sifatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu.

b. Hal untung-untungan, artinya penemuan melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan.

c. Kewibawaan, yaitu berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau penemuan yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang.

d. Usaha-usaha yang bersifat spekulatif, walaupun agak teratur, artinya dari sekian banyak kemungkinan, dipilihkan salah satu kemungkinan yang diharapkan menjadi cara yang setepat-tepatnya.

e. Pengalaman, artinya berdasarkan pikiran kritis. Akan tetapi pengalaman belum tentu teratur dan bertujuan.

f. Penelitian ilmiah, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala dengan jalan analisis dan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta-masalah yang disoroti untuk kemudian mengusahakan pemecahannya.

 

Penulis: Anwar Fuad (1707016010)

Posting Komentar untuk "Wacana Teori Ilmu Sosial Kritis"